Sulit Menjadi Besar Karena Mengerdilkan Diri
(PKPH, Banten)--Ketika para sahabat menghadapi suatu persoalan yang tidak bisa mereka atasi, maka yang mereka lakukan adalah bertanya langsung kepada Rosulullah SAW. Rosulullah SAW kadang langsung memberikan jawaban, kadang pula menunda jawaban sembari menunggu wahyu dari Allah SWT yang diperantarai oleh Malaikat Jibril AS.
Bila Rosulullah SAW menjawab pertanyaan para sahabat langsung secara lisan, itulah yang kemudian kita kenal sebagai hadits. Selain lewat lisan, hadits juga bisa berupa perbuatan, tindakan, ketetapan, dan atau gesture beliau. Hadits ini kemudian menjadi rujukan, referensi, petunjuk, serta pedoman hidup kita.
Para sahabat yang mengalami hidup satu masa dengan Rosulullah SAW, merekalah yang paham betul atas petunjuk Rosulullah SAW, baik yang berupa wahyu maupun hadits. Berbeda dengan masa tabiin dan setelahnya hingga sekarang, yang tidak merasakan dan mengalami hidup bersama Rosulullah SAW.
Karena persoalan kehidupan umat dan umumnya manusia itu dinamis - seiring dengan perkembangan zaman- maka bermunculan persoalan yang secara lugas tidak mendapat jawaban, baik dalam wahyu Allah SWT atau Al-Quran maupun dalam hadits. Maka muncullah tafsir atas Al-Quran dan Hadits.
Sebaliknya, karena dalam Al-Quran ada yang muhkamat; lugas dan bisa langsung dipraktekan, ada juga yang mutasyabihat; menuai pemahaman berbeda sehingga menimbulkan multi tafsir. Bila tafsir ini dilepas begitu saja kepada siapapun untuk menafsirkannya, pastinya bisa menjadi "liar". Maka diperlukan tafsir atasnya, dari mereka yang mumpuni dan kompeten. Muncullah ahli tafsir.
Dalam khazanah pengetahuan Islam, terdapat banyak kitab tafsir. Tiga yang paling terkenal adalah Al-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurtubi. Masih banyak kitab tafsir lainnya, sebagai buah karya para ahli tafsir setelahnya. Termasuk ahli atau ulama tafsir dari Nusantara.
Tradisi menafsirkan Al-Quran menjadi tonggak bagi umat Islam untuk memerdalam beragam pengetahuan dan ilmu. Karenanya, dalam perkembangan selanjutnya, khazanah keilmuan dalam Islam berkembang dengan pesat, seiring dengan perluasan wilayah kekuasaan imperium Islam lewat cara ekspansi. Islam berkembang dan maju, bukan hanya di jazirah Arab saja. Tetapi merambah ke sepertiga dunia, hingga Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika.
Puncak keemasan Islam ketika kekuasaan dibawah kendali keluarga Abbasyiyah. Islam menjadi adikuasa dunia, bukan semata ditunjukkan oleh luasnya wilayah dan kuatnya militer. Tetapi juga didukung dengan marak dan berkembangnya pengetahuan dan ilmu. Interaksi dengan budaya Yunani yang telah lebih dahulu maju dengan filsafatnya, adanya fenomena Hellenism, membuat Islam semakin moncer dalam sejarah peradaban umat. Banyak lahir ilmuwan Islam pada periode ini.
Sayang, pada periode setelahnya Islam mengalami kemunduran. Banyak faktor yang jadi penyebabnya. Pertikaian keluarga penguasa, gaya hidup mereka, serangan pihak luar, dan munculnya paham dan isme beraroma jabaristik, membuat kedigjayaan Islam lambat laun surut, redup, padam, dan mundur.
Untungnya, situasi ini tidak terlalu lama. Menyadari akan surutnya Islam di dunia, menyadarkan mereka untuk bangkit kembali. Pada periode ini lahirlah angkatan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaludin Al-Afghani. Di Nusantara, muncul Ahmad Dahlan, Mas Abdurrahman, dan Hasyim Asyari. Setelahnya, Harun Nasution, Nurcholis Madjid, dan Abdurrahman Wahid. Mereka merupakan tokoh-tokoh pembaharu dalam Islam, baik di dunia maupun di tanah air.
Gerakan pembaharuan yang digaungkan oleh mereka, dalam rangka mengangkat kembali "kamonésan" Islam di pentas dunia. Gerakan dan pemikiran mereka banyak menginspirasi umat Islam. Karenanya, karena mereka -dengan tidak bermaksud mengenyampingkan peran sosok pembaharu lainnya- perlahan namun pasti, Islam mulai "merangkak" dari keterpurukan. Ahmad Dahlan dengan tajdidnya, Mas Abdurrahman dengan pemurniannya, Hasyim Asyari dengan local wisdomnya.
Harun Nasution dengan rasionalnya, Nurcholis Madjid dengan inklusivitasnya, dan Abdurrahman Wahid dengan toleransinya. Gerakan pembaharuan dengan maksud untuk menaikkan kembali pamor Islam itu, bukan dengan cara ekspansi, senjata, militer, dan otot. Mereka lakukan dalam bingkai gerakan intelektual.
Hari ini bisa kita saksikan. Peninggalan mereka begitu mewarnai sejarah panjang negeri ini. Dalam rangka merawat, mempertahankan, meneruskan, serta memajukan warisan para tokoh pembaharu tersebut, tradisi intelektual menjadi salah satu ikhtiarnya, disamping amal usaha lainnya. Muhammadiyah punya Pusat Majelis Tarjih, Nahdhatul Ulama punya Bahtsul Masail, Mathlaul Anwar, ya punya Majelis Fatwa.
Anak-anak muda Muhammadiyah begitu dinamis dalam melakukan kajian, diskusi, dan penelitian. Generasi muda NU, begitu progressive dalam merespon persoalan aktual. Dengan Lakpesdam nya yang adalah perangkat PB NU yang berfungsi sebagai lembaga kajian isu-isu strategis dan pemberdayaan manusia untuk transformasi sosial yang berkeadilan dan bermartabat.
Saya menangkap, tradisi keilmuan pada kedua organisasi keagamaan tersebut begitu hidup, dinamis, dan tentu saja produktif. Sebaliknya, saya belum mendapatkan "habit" ini di Mathlaul Anwar. Malah sebaliknya. Lho masa sih? Iya, serius. Mari kita buktikan!
Saya, yang adalah anak biologis dan ideologies Mathlaul Anwar, malah lebih banyak berdiskusi dengan kawan-kawan di Muhammadiyah dan NU, dibanding dengan kawan-kawan di Mathlaul Anwar. Mengapa? Karena tradisi intelektual saya dapatkan pada kedua organisasi tersebut. Sementara di Mathlaul Anwar wadah itu nyaris tiada (untuk tidak mengatakan tidak ada).
Tiadanya tradisi seperti ini karena banyak faktor. Yang amat kasat mata adalah Mathlaul Anwar itu terlalu "menesentris", yang kemudian diperparah dengan "menes style". Dua istilah ini akan saya jelaskan pada tulisan terpisah.
Mathlaul Anwar memiliki "khittah" yang tertuang dalam 9 Prinsip Mathlaul Anwar yang begitu bagus. Namun disparity antara norma mulia dalam prinsip dengan aktualisasi keseharian demikian berjarak. Kemauan untuk merespon persoalan keumatan secara serius masih minim. Paling banter celoteh celetak-celetuk liar yang hanya berujung pada debat kusir yang tidak produktif. Tidak solutif!
Merasa cukup dengan yang ada dan sudah merasa nyaman di zona nyaman, juga berkontribusi bagi sulit tumbuhnya tradisi intelektual. "Semua sudah ada dan diatur dalam Al-Quran" seolah menjadi justifikasi atas sikap yang diambil.
Sikap seperti ini bukan hanya ditunjukkan oleh satu dua orang. Pada banyak group WhatsApp yang saya menjadi bagian darinya, pakem ini demikian nampak. Jangan-jangan, dengan begitu banyaknya gejala karakter serupa, menjadi representasi dan mewujud sebagai tabiat organisasi!
Mathlaul Anwar kan punya Majelis Fatwa? Iya benar. Yang saya lihat, fatwa Mathlaul Anwar bahkan banyak. Bukan hanya anggota Majelis Fatwa, bahkan hampir seluruh kader, alumni, dan anggota, bisa berfatwa. Fatwa liar; kelas celoteh dan "ceplok-batok". Dan itu tidak bisa dijadikan rujukan!
Majelis Fatwa Mathlaul Anwar amat sedikit mengeluarkan fatwa sebagai respon dan sikap organisasi dalam menghadapi persoalan keumatan. Majelis Fatwa baru sebatas rajin membagikan fatwa organisasi keagamaan lain! Padahal, fatwanya dinanti sebagai acuan bagi anggotanya dalam bertindak, sebagai identitas khas organisasi.
Prasangka baik saya, karena setiap anggota, kader, alumni, sudah terbiasa "berfatwa" walau liar, itu menunjukkan bahwa sejatinya masing-masing sudah bisa bersikap tanpa fatwa. Sekaligus menunjukkan bahwa Mathlaul Anwar memiliki potensi dan kompetensi yang berlimpah. Sehingga Majelis Fatwa tak perlu "turun gunung". Satire kan?
Bila diajak diskusi lalu jawabannya semua sudah ada dalam kitab suci, maka kalau sudah begini, jangan harap Mathlaul Anwar bisa setara dengan Muhammadiyah atau Nahdhatul Ulama. Apalagi melampauinya! Mengapa? Karena Mathlaul Anwar sulit menjadi besar, akibat orang-orangnya sendiri yang mengerdilkan diri.
Simpulan saya, tradisi intelektualitas di Mathlaul Anwar masih minim. Hampir tidak ada! Penyebabnya, selain karena "menesentris" yang diperparah dengan "menes style", mayoritas tabiat organisasi (baca : kader, lebih tepatnya alumni) merasa "sudah cukup dengan yang ada", juga tiadanya lembaga yang berfungsi sebagai "think thank".
Dua faktor diawal, agak sulit dicari solusi, karena ia berhubungan dengan tabiat. Tahu sendiri kan "adat kakurung ku iga". Tapi, karena prinsip ushul fiqih yang mengatakan "bila engkau tidak bisa melakukan seluruhnya, maka jangan tinggalkan seluruhnya", maka saya punya harapan dengan ikhtiar yang ketiga.
Pengurus Besar Mathlaul Anwar atau Forum Silaturahmi Mathlaul Anwar bisa membentuk lembaga yang berfungsi sebagai think tank; lembaga yang memiliki peran melakukan kajian atas beragam persoalan keagamaan, keumatan, dan kebangsaan. Lingkar Studi Mathlaul Anwar atau LISMA ini -saya menyebutnya demikian- terdiri dari para kader yang mumpuni dan kompeten pada bidang masing-masing.
Inilah mimpi saya sebagai kader Mathlaul Anwar. Semoga Pengurus Besar dan atau FosilMA bisa mengakomodir keinginan ini. Bila pun tidak, mungkin bisa dilakukan dengan cara bottom up. Saya dan kawan-kawan kader akan berhimpun dengan inisiatif sendiri. Mohon izin, "Mathlaul Anwar" akan saya sertakan. Perkara diakui atau tidak, mari kita diskusikan lebih lanjut.
Sedari awal tulisan ini dibuat, saya sudah menyadari akan menuai respon berbeda. Tapi adalah resiko, qulil haq walau kaana murran kadang bermata dua; yang bijak dan pakai otak menjadikannya sebagai masukan. Sementara yang berangasan pakai otot membentuk kepalan tangan.
Tulisan ini dibuat sebagai wujud kecintaan saya sebagai kader kepada Mathlaul Anwar. Ini sebuah muhasabah, sebagai otokritik, dari orang Mathlaul Anwar, oleh orang Mathlaul Anwar, dan untuk Mathlaul Anwar. Wallahualam..
(sebuah tulisan muhasabah bagi Mathlaul Anwar)
Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah warga biasa
*
Tags :