عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا جُلُوساً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ». فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وَضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِى يَدِهِ الشِّمَالِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مِثْلَ ذَلِكَ فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الأُولَى فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضاً فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الأُولَى فَلَمَّا قَامَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- تَبِعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ إِنِّى لاَحَيْتُ أَبِى فَأَقْسَمْتُ أَنْ لاَ أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلاَثاً فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُئْوِيَنِى إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِىَ فَعَلْتَ. قَالَ نَعَمْ . قَالَ أَنَسٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِىَ الثَلاَثَ فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئاً غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ حَتَّى يَقُومَ لِصَلاَةِ الْفَجْرِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّى لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلاَّ خَيْراً فَلَمَّا مَضَتِ الثَلاَثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْتَقِرَ عَمَلَهُ قُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنِّى لَمْ يَكُنْ بَيْنِى وَبَيْنَ أَبِى غَضَبٌ وَلاَ هَجْرٌ ثَمَّ وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ لَكَ ثَلاَثَ مِرَارٍ « يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ». فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَلاَثَ مِرَارٍ فَأَرَدْتُ أَنْ آوِىَ إِلَيْكَ لأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِىَ بِهِ فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ فَمَا الَّذِى بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَا هُوَ إِلاَّ مَا رَأَيْتَ. قَالَ فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِى. فَقَالَ مَا هُوَ إِلاَّ مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّى لاَ أَجِدُ فِى نَفْسِى لأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلاَ أَحْسُدُ أَحَداً عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ هَذِهِ الَّتِى بَلَغَتْ بِكَ وَهِىَ الَّتِى لاَ نُطِيقُ.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu. Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا :الأحزاب: 70،

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلا مَعْرُوفًا

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

أَفَلا يَرَوْنَ أَلا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلا وَلا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا:طه:89

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى :طه : 44 .

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا :الاسراء:28

 

Disampaikan oleh :

Dr Jihaddudin M.Pd, Wakil Rektor 1

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

 

(PKPH, Palembang)-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan kembali acara Sosialisasi Pengembangan Desa Wisata melalui pendampingan di Tahun 2020,  di 3 (tiga) daerah yakni: Bali, Makasar dan Palembang. Acara sosialisasi yang dilaksanakan di Hotel Aston  Palembang, Sumatera Selatan (12/02), dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Palembang Provinsi Sumatera Selatan, Aufa Syahrizl, SP, M.Sc dihadiri oleh Dr. Wisnu Bowo Tarunawijaya, SE, MM selaku Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antar Lembaga dengan mengundang 43 Perguruan Tiinggi se wilayah Sumatera, Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Universitas Mathla’ul Anwar Banten (UNMA Banten) mengirimkan 2 (dua) dosen pendamping Desa Wisata, Nenden Suciyati Sartika, M.Pd dan Tuti Rostianti Maulani, M.Si untuk ikut dalam sosialisasi pengembangan desa wisata melalui pendampingan tahun 2020 di Palembang, Sumatera Selatan. Program ini dilaksanakan dalam rangka melanjutkan pendampingan desa wisata yang memiliki komitmen untuk membentuk desa nya menjadi Desa Wisata dengan standar minimal   Desa Rintisan  yang persyaratannya dipekuat dengan SK kepala Desa dan SK Bupati sebagai pertanggungjawaban pemangku kepentingan  dalam mengembangkan wilayah desanya.

Tahun 2019 UNMA Banten telah melaksanakan kegiatan pembinaan terhadap Desa Ramea Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang bekerjasama dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa UNMA Banten dan LP3M UNMA Banten dan dinyatakan berhasil oleh Kementerian Pariwisata RI, sehingga program pendampingan desa wisata akan dilanjutkan kembali oleh UNMA Banten pada tahun 2020 ini. 

Kegiatan yang akan dilakukan setelah sosialisasi ini adalah dosen pendamping wisata akan membuat proposal untuk mengajukan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif RI dengan tema Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Desa, dengan lokasi yang sama, di desa Ramea Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandelang. Dan akan ada pembinaan secara langsung Dosen Pendamping Desa Wisata (TOT)  dan pembinaan langsung ke masyarakat di Desa Wisata yang akan didanai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI melalui Deputi Bidan Sumber Daya dan Kelembaaan Kementerian Pariwisata dan ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Pelaksanaan kegiatan pengembangan desa wisata ini akan diambil dari “dana bersama” antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Desa dan Universitas yang memiliki proram Penelitan dan Pengabdian.  Dosen pendamping desa wisata hendaknya dipilih orang-orang yang kreatif bukan saja dalam hal pendampingan akan tetapi dibutuhkan kreatifitas membuat pengajuan-pengajuan hibah-hibah baik dari Dikti Kemendikbud RI, Lembaga Pengelolaan Dana Keuangan (LPDP) Kementerian RI atau dana CSR dari stakeholders (TRM 2020)

(PKPH, Pandeglang)- Rumah Kreatif Halal Unma Banten akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema "Peran dan Kesiapan Farmasis dalam Menyongsong Pelaksanaan Halal Mandatory" di Auditorium Unma Banten Pandeglang  pada hari Kamis (17/10). Ketua Rumah Kreatif Halal Unma Banten, Priyono menyampaikan, kegiatan ini diselenggarakan menyambut diberlakukannya Undang Undang No 33. Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal. Tujuan kegiatan ini adalah, sosialisasi tentang UU Jaminan Produk Halal, memahami dan menggunakan tentang pentingnya Produk Halal, bagi Farmasis dapat memberikan kompetensi terkait perannya di Industri Halal, dapat memberikan peluang untuk menjadi Penyelia Halal atau Auditor Halal, ungkap Priyono.

Narasumber yang akan hadir antara lain: Direktur LPPOM MUI Banten, Kepala BB BPOM Banten, Direktur PKPH Unma Banten, Direktur LPH Mathla'ul Anwar Banten, Sekretaris Jendral Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Jumlah peserta yang sudah mendaftar saat ini sudah mencapai 249 peserta, dan akan dimeriahkan oleh UMKM Pandeglang. Priyono menambahkan, Kegiatan ini disponsori oleh Salicyl Fresh, didukung oleh IAI, PAFI, Balai Besar BPOM Banten, PKPH Unma Banten.

Rumah Kreatif Halal Unma Banten adalah wadah generasi milenial yang peduli dan fokus pada pengembangan industri halal. Rumah Kreatif Halal Unma Banten, dibawah Binaan Pusat Kajian Produk Halal Unma Banten. (HS/02)

 

(PKPH, Pandeglang)- Kajian kali ini akan membahas tentang pendidikan keluarga dalam perspektif pendidikan seperti yang diteladankan oleh Bapaknya para Nabi, Nabi Ibrahim AS. Telaah Tafsir Surat Ibrahim ayat 35-41.

1. Do’a Nabi Ibrahim agar Mekkah dijadikan Negeri yang Aman

Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 35-36

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (36)

Menurut Hamka, ayat ini menyuruh Nabi Muhammad Saw. memperingatkan kembali kepada kaum Quraisy bahwasanya yang memulai memancang negeri Mekkah tempat mereka berdiam itu ialah nenek-moyang mereka Nabi Ibrahim. Dari sebuah lembah yang belum ada penghuninya, sampai menjadi sebuah negeri besar. Adapun maksud Ibrahim mendirikan negeri Mekkah itu ialah karena hendak mendirikan sebuah rumah persembahan kepada Allah, dan sunyi dari berhala. Oleh karena itu beliau memohonkan kepada Allah supaya anak cucunya jangan sampai menyembah berhala-berhala itu. Dan dido’akannya kepada Tuhan supaya negeri yang telah dibukanya itu aman sentosa. Merasa tentram kiranya orang yang ada di sana. Jangan ada huru-hara, dan siapa yang masuk ke sana terjamin keselamatannya.[1]

Menurut Quraish Shihab, do’a nabi Ibrahim As. untuk menjadikan kota Mekkah dan sekitarnya sebagai kota yang aman adalah do’a untuk menjadikan keamanan yang ada di sana berkesinambungan hingga akhir masa. Atau, menganugerahkan kepada penduduk dan pengunjungnya kemampuan untuk menjadikannya aman dan tenteram. Permohonan ini, menurut banyak ulama antara lain Thabathaba’i dan Asy-Sya’rawi, bukan berarti menjadikannya aman secara terus-menerus tanpa peranan manusia atau dalam istilah kedua ulama ini  amn takwiniy/ keamanan yang tercipta atas dasar penciptaan keamanan. Yang beliau mohonkan itu adalah amn tasyri’iy, yakni permohonan kiranya Allah menetapkan hukum keagamaan yang mewajibkan orang mewujudkan, memelihara, dan menjaga keamanannya.[2]

Manusia pada umumnya sejak  dahulu hingga kini memang menghormati kota Mekkah baik secara tulus dan didorong ketaatan beragama maupun melalui adat kebiasaan yang berlaku pada penduduknya atau peraturan yang ditetapkan oleh penguasanya yang melarang non-muslim memasukinya.[3] Do’a nabi Ibrahim pada ayat 35 ini dikabulkan Tuhan, dan Dia telah menjadikan negeri Mekkah dan sekitarnya, menjadi tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada di sana. Di negeri itu dilarang menumpahkan darah, menganiaya orang, membunuh binatang, dan menebang tumbuh-tumbuhan yang berada di sana.[4] Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ankabut ayat 67.                                                                                

Kata () jauhkanlah diriku dan keturunanku dari penyembah berhala. Menurut Ahmad Mustafa Al-Maragi yaitu tetapkanlah kami pada tauhid dan Islam yang telah kami pegang ini, serta jauhkanlah dari penyembahan berhala.[5]

Menurut Al-Qurthubi, kata baniy adalah anak cucunya dari tulang rusuknya sendiri, yang mana jumlah mereka ada delapan, dan tidak seorang pun dari mereka yang menyembah berhala.[6] Kata shanam menurut pendapat Ath-Thabari, Al-Biqa’i, dan Asy-Sya’rawi sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab adalah berhala yang berbentuk manusia, sedang kata watsan adalah batu atau apa saja yang dikultuskan. Sedangkan Ibn Asyur memahami kata shanam dalam arti patung, atau batu, atau bangunan yang dijadikan sesembahan dan diakui sebagai Tuhan. Nabi Ibrahim memanjatkan do’a ini setelah melihat di daerah sekitarnya terjadi penyembahan berhala-berhala.  Beliau berhijrah meninggalkan tempat tinggalnya di Ur negeri orang-orang Keldania karena penduduknya menyembah berhala. Di mesirpun beliau menemukan hal serupa demikian juga di Palestina. Lalu, beliau membawa istri dan anaknya berhijrah ke jazirah Arab tepatnya Mekkah sekarang dan di sanalah beliau menempatkan istri dan anaknya serta mengajarkan Tauhid.[7]

Permohonan Nabi Ibrahim As. agar menghindarkan anak cucu beliau dari penyembahan berhala, bukan dalam arti memaksa mereka mengakui keesaan Allah, tetapi bermohon kiranya fitrah kesucian yang dianugerahkan Allah dalam jiwa setiap manusia dan yang intinya adalah Tauhid, bermohon kiranya fitrah tersebut terus terpelihara.[8] 

“Ya Tuhanku! Sesungguhnya dia itu yaitu berhala-berhala telah menyesatkan kebanyakan manusia”. (pangkal ayat 36). Menurut Hamka, Nabi Ibrahim yang telah banyak mengembara, sejak dari tanah kelahirannya Babil (negeri Irak sekarang), sampai ke Palestina, tanah yang dijanjikan Tuhan pula buat anak keturunannya, hingga mesir tempat dia menikahi Hajar, dilihatnya diseluruh negeri itu betapa sesatnya manusia karena menyembah berhala, bahkan sampai beliau bertentangan dengan ayahnya sendiri dan rajanya. Sekarang dibukanya negeri baru, lembah yang tidak ada tanam-tanaman itu, ialah karena ingin mendirikan sebuah daerah bersih daripada berhala dan bersih dari yang menyesatkan manusia.[9]

 “Lantaran itu maka barangsiapa  yang mengikut aku, sesungguhnya dia adalah golonganku.” Dan yang masuk golonganku itulah hanya yang dapat aku pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan, dan pendirian bertuhan Esa itulah yang dinamai Agama Nabi Ibrahim yang HANIF, yaitu Agama Tauhid. “Dan barangsiapa yang mendurhakai aku.” Yakni yang mengubah pelajaran Tauhid yang aku pusakakan itu, “Maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (ujung ayat 36).

Sebagai seorang di antara Rasul yang besar, Nabi Ibrahim pun rupanya telah mendapat ilham dari Tuhan bahwa sepeninggalnya kelak akan ada penyelewengan dari anak cucunya. Dan kemudian setelah Nabi Muhammad Saw. diutus Tuhan, beliau dapati agama HANIF Nabi Ibrahim telah dikotori dan dicampur-aduk dengan menyembah berhala. Nabi Ibrahim yang terkenal pengasih, penghiba (Awwahun, Halimun) tidaklah mengutuk anak-cucunya yang mendurhakai jalan yang ditinggalkannya yang diselewengkan itu. Melainkan menyerahkannya kepada Tuhan, moga-moga Tuhan mengampuni, sebab Tuhan itu pun Maha Penyayang.[10]

Penafsiran Hamka di atas senada dengan penafsiran Quraish Shihab bahwa pada penutup do’a Nabi Ibrahim as, Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, bukan berarti memohon pengampunan bagi para penyembah berhala, tetapi menyerahkan kepada Allah Swt. putusan terakhir karena hanya Allah yang memiliki  hak prerogatif menyangkut pengampunan atau penyiksaan. Do’a Nabi Ibrahim As. ini menunjukkan betapa halus budi beliau dan betapa iba dan kasihnya terhadap umat manusia.[11]

Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa setiap muslim hendaknya senantiasa berdo’a untuk keselamatan dan keamanan tempat tinggalnya dan agar penduduknya diberikan rizki yang berlimpah. Selain itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu menyiapkan lingkungan yang aman dan jauh dari berbagai kesyirikan dan kemaksiatan demi terjaganya fitrah dalam jiwa setiap anak yaitu tauhid. Karena lingkungan yang penuh dengan kesyirikan dan kemaksiatan tentunya akan memberikan dampak negatif sebagaimana yang di jelaskan dalam ayat ini bahwa bahwa berhala-berhala telah menyesatkan banyak manusia.

b. Nabi Ibrahim Menempatkan Isma’il di Dekat Baitullah dan Anjuran Bersyukur

 Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 37:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْ

دَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (37)

 

Menurut lembaga penafsiran Al-Qur’an Departemen Agama, Ayat ini menerangkan saat Ibrahim As. akan kembali ke palestina menemui istrinya Sarah, meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Isma’il yang masih kecil di Mekkah, di tengah-tengah padang pasir yang tandus, tanpa ditemani oleh seorang  manusia pun dan tanpa bekal untuk keluarganya yang ditinggalkan. Waktu itulah ia berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, mohon agar keluarganya itu dilindungi dan diselamatkan dari segala mara bahaya dan bencana yang mungkin akan menimpanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Ibrahim sebagai seorang nabi yang telah melangsungkan pernikahan dengan istrinya Sarah. Namun sekian lama pernikahan pasangan ini tak kunjung dikaruniai keturunan dikarenakan Sarah wanita yang mandul, sedangkan Ibrahim telah menginjak masa tua. Oleh karena itu, dinikahinya pembantu istrinya bernama Hajar setelah mendapat izin dan persetujuan dari Sarah. Dari pernikahan itu lahirlah  seorang putra yang diberi nama Isma’il.[12]

Menurut Syaik Imam Al-Qurthubi, diriwayatkan bahwa Sarah cemburu kepada Hajar setelah Ismail lahir. Sarah menyampaikan perasaan hatinya itu kepada suaminya Ibrahim, dan meminta agar Ibrahim membawa dan menjauhkan Hajar dan putranya Ismail darinya, lalu Ibrahim pergi membawa Hajar ke Mekkah. Setelah setibanya di tengah-tengah lembah Mekkah, ia meninggalkan anaknya beserta ibunya di sana dan pada hari itu juga ia kembali pergi pulang meninggalkan keduanya. Ini semua dilakukan berdasarkan wahyu dari Allah. Dan ketika dia meninggalkan keduanya, Ibrahim berdo’a dengan do’a yang terdapat dalam ayat ini.[13]

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Ibrahim berdo’a tanpa berkata “wahai” sebagaimana kebiasaan Al-Qur’an melukiskan do’a orang-orang yang dekat kepada Allah. Do’anya: “Tuhan kami dan Tuhan makhluk seluruhnya! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di satu lembah yaitu Mekkah yang kini belum dihuni dan yang tidak dapat mempunyai tanaman karena gersang tanahnya. Namun demikian, aku tempatkan mereka di sana karena lokasinya di dekat rumah-Mu (Baitullah) Ka’bah yang agung lagi yang dihormati,Tuhan kami! Yang demikian itu, yakni penempatan mereka di sana, adalah agar mereka melaksanakan shalat secara berkesinambung lagi baik dan sempurna, maka karena tempat itu seperti yang aku lukiskan dan Engkau ketahui dan tujuanku tidak luput dari pengetahuan-Mu, maka aku bermohon: Jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, baik yang engkau tumbuhkan di sana maupun yang dibawa oleh manusia ke sana, mudah-mudahan dengan aneka anugerah-Mu mereka terusmenerus bersyukur.[14]

Firman-Nya: ghairi  dzi zar’in/tidak dapat mempunyai tanaman menunjukkan bahwa tanah di daerah itu bukanlah lahan pertanian. Redaksi yang digunakan ini bukan sekadar berarti tidak ditumbuhi tumbuhan, tetapi lebih dari itu, yakni tidak memiliki atau tidak berpotensi untuk ditumbuhi tumbuhan. Memang kenyataan menunjukkan bahwa Mekkah dan sekitarnya bukan saja gersang, tetapi juga dikelilingi oleh batu-batu sehingga tidak memungkinkan adanya tumbuh-tumbuhan.[15]

Tim penafsir Al-Qur’an Departemen Agama menjelaskan, ketika Hajar dan putranya sampai di suatu tempat, yang waktu itu semua perbekalan dan air minum telah habis, putranya Ismail menangis kehausan, sedang air susunya tidak mengalir lagi. Ia bermaksud mencari air, dan ditidurkannya putranya di bawah pohon tempat ia berteduh. Ia pun pergi ke mana saja yang dianggapnya ada air, namun ia tidak menemukannya setetes pun. Ia pun kembali ke tempat putranya yang ditinggalkan. Waktu itu Ismail sedang menangis kehausan sambil memukulmukulkan kakinya ke tanah. Hajar pun berdo’a menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.[16]

Do’a Ibrahim dan Istrinya hajar dikabulkan Tuhan. Waktu itu juga, terpancarlah air dari tanah bekas pukulan kaki anaknya Ismail yang sedang menangis. Di saat itu pula, timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga, dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya  dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail. Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya, seraya berkata, “Zam! Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)” Dan terkumpullah air itu, tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama Telaga Zamzam.[17] Hamka menjelaskan bahwa do’a nabi Ibrahim Makbul, sehingga negeri Mekkah tidak pernah kekurangan buah-buahan meskipun negeri Mekkah itu sendiri kering, lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, dan sumur Zamzam tidak cukup airnya untuk mengaliri tanah tandus itu, dan sekelilingnya adalah gunung-gunung batu semuanya. Sampai kepada zaman kita sekarang ini pun do’a nabi Ibrahim masih tetap dirasakan di negeri Mekkah. Mekkah sendiri tidak menghasilkan tumbuhtumbuhan, tetapi di desa-desa Badwi luar Mekkah, sebagai di Wadi Fathimah, Wadi Usfan, Thaif dan lain-lain, terdapat Wadi atau Oase yang ada telaga dan ada air, dan banyak terdapat kebun-kebun. Hasil kebun-kebun itu di angkut orang ke Mekkah.[18] 

Menurut Al-Biqa’i yang di kutip oleh Quraish Shihab, kata tahwi terambil dari kata hawa yang bermakna meluncur dari atas kebawah dengan sangat cepat. Maksudnya, menuju ke satu arah di dorong oleh keinginan dan kerinduan. Agaknya, do’a Nabi Ibrahim inilah yang menjadikan setiap muslim selalu merindukan untuk datang ke Mekkah, bahkan kembali lagi dan kembali lagi walau telah berulang-ulang mengunjunginya.[19]

Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa perlunya berhijrah ke suatu tempat yang aman bagi kelangsungan pendidikan agama untuk anak dan pemeliharaan akidahnya. Karena itu, sebagian ulama mengharamkan keluarga muslim untuk hidup menetap di tengah masyarakat non-muslim bila keberadaan mereka di sana dapat mengakibatkan kekaburan ajaran agama atau kedurhakaan kepada Allah Swt., baik untuk dirinya maupun sanak keluarganya.[20]

 c. Keikhlasan dalam Beribadah

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 38:

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ (38)

“Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau mengetahui segala yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan.” Menurut Ibnu Jarir sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir maksudnya adalah Engkau mengetahui maksud dan tujuanku dalam do’aku, dan apa yang kuinginkan dengan do’aku untuk penduduk negeri ini, yaitu semata-mata hanya mengharapkan keridhaan-Mu dan keikhlasan untuk-Mu, karena Engkau mengetahui segala sesuatu baik lahir maupunbathinnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Mu, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.[21]  Quraish Shihab menjelaskan, Engkau mengetahui bukan saja ketulusan kami bermohon dan beibadah tetapi juga mengetahui kebutuhan dan keinginan, walau tanpa kami mohonkan dan mengetahui pula apa yang terbaik bagi kami.[22]

Menurut Hamka, ayat ini melukiskan keikhlasan Ibrahim dan anakanaknya dalam berkhidmat kepada Allah. Sebab Tauhid adalah ikhlas, apa yang ada dihati itulah yang tampak keluar atau di ucapkan. Dengan Allah kita tidak dapat menyimpan rahasia apapun, karena Allah maha mengetahui baik isi bumi maupun isi langit, apalagi hanya dengan isi hati kita. Tauhid  dan ikhlas itulah yang menyebabkan tidak mungkin mempersekutukan Allah dengan yang lain. Dan apabila manusia telah mendapat pendirian hidup (akidah) tauhid dan ikhlas itu, kekayaan besarlah yang diberikan Allah kepadanya. Itulah jiwa yang telah keluar dari gelap dan menempuh terang, dan itulah hidup yang sejati.[23] Dari penafsiran Ibnu Katsir, Quraish Shihab dan Hamka di atas, dapat diambil simpulan bahwa dalam berdo’a maupun beribadah diperlukan keikhlasan semata-mata hanya karena Allah dan mengharap ridho-Nya bukan mengharapkan yang lainnya sebab di jelaskan bahwa ikhlas itu adalah tauhid. Ikhlas dan tauhid itulah yang tidak akan menyebabkan manusia mempersekutukan Allah.

Adapun nilai pendidikan yang dapat di ambil dari ayat ini yaitu dalam lingkungan keluarga, orang tua hendaknya mengajarkan keikhlasan atau nilai kejujuran kepada anak. Karena kejujuran adalah muara dari segala kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke surga-Nya.

d. Pujian Nabi Ibrahim Kepada Allah karena diberikan Keturunan

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 39-40:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40)

“segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq.” (pangkal ayat 39). Hamka menjelaskan, Ibrahim memuji Allah dengan sepenuh-penuh pujian, karena beliau selalu mengharap keturunan yang akan menyambung cita-citanya, jangan sampai ajaran yang diberikan Tuhan itu putus sampai dia saja, beliau menghendaki anak dan keturunanya yang akan menyambung perjuangannya. Permohonannya itu didengar dan dikabulkan Tuhan. Oleh sebab itu beliau melanjutkan di dalam pujiannya: “Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar do’a.” (ujung ayat 39).[24]

Lembaga penafsiran Al-Qur’an departemen agama menjelaskan sekalipun Sarah sudah sangat tua dan tidak mungkin lagi melahirkan anak, tetapi keinginan mempunyai putra selalu menjadi idamannya, lebih-lebih setelah mendengar

Isma’il telah bertambah dewasa, selalu dikunjungi oleh suaminya Ibrahim, ke tempat ia dibesarkan di Mekkah yang sangat jauh jaraknya dari Palestina. Timbul rasa iri hatinya kepada Hajar bekas pembantunya, apalagi setelah dinikahi Ibrahim  atas izinnya pula. Ditambah pemikiran Sarah, kenapa pembantunya dikaruniai seorang putra, sedangkan dia sendiri belum dianugerahi. Rasa iri itu semakin lama semakin besar. Dalam keadaan demikianlah, malaikat datang kepada dua orang suami istri yang telah lanjut usia itu, menyampaikan perintah Allah untuk memberitahukan kabar gembira bahwa mereka akan dianugerahi Allah seorang putra yang bernama Ishaq, seorang anak laki-laki yang akan diangkat menjadi nabi dan rasul dikemudian hari.[25]

Penyampaian berita oleh malaikat itu dilukiskan dalam firman Allah surah Hud ayat 71-73:

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَاوَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73)

Dan firman Allah Swt. dalam surah Al-Hijr ayat 53-56:

قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (53) قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ (54) قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ (55) قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ (56)

Hamka kembali menjelaskan bahwa negeri Mekkah sudah ramai, Ka’bah (Baitullah) sudah tegak, dan anak laki-laki pun sudah ada dua orang. Yang seorang akan mengembangkan bangsa Arabi dan yang seorang lagi akan mengembangkan bangsa Ibrani. Semuanya itu disyukuri oleh Ibrahim dengan hati yang tulus dan ikhlas. Kemudian dilanjutkan do’anya:

“Ya Tuhanku! Jadikanlah aku pendiri sembahyang, dan (demikian juga) anak cucuku. Ya Tuhan kami! Perkenankanlah kiranya do’aku.” (ayat 40).

Do’a beliau agar dia menjadi pendiri sembahyang telah terkabul, begitu juga do’a untuk anak cucunya pun juga terkabul. Dari keturunan Ishaq muncullah berpuluh-puluh nabi dan rasul, termasuk: Ya’kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusya’, Ilyasa, Ilyas, Zulkifli, Ayyub, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya dan Isa Almasih dan lain-lain dari Anbiya Bani Israil. Dan dari keturunan Ismail, datanglah penutup segala Nabi (Khatamul Anbiya’) dan yang paling istimewa dari segala Rasul (Sayyidil Mursalin), Muhammad Saw.[26]

Demikian pula Quraish Shihab menafsirkan: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat yang sangat besar kepadaku di hari tua ku yaitu Isma’il yang kutempatkan di dekat Baitullah  dan Ishaq yang kini bersama ibu kandungnya di Palestina. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar, yakni memperkenankan do’a yang dipanjatkan secara tulus kepada-Nya.Selanjutnya, Nabi Ibrahim berdo’a menggarisbawahi tujuan penempatan keluarganya di dekat Masjid al-Haram (baca ayat 37) sekaligus untuk mengisyaratkan bahwa tujuan itu baru dapat tercapai bila dia memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Allah. Nabi Ibrahim as berdo’a: “Tuhanku, yang selalu berbuat baik kepadaku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang  yang tetap melaksanakan secara benar, baik dan bersinambung shalat.”[27]

 e. Mendo’akan Kedua Orang Tua

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 41:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)

Dalam do’a Nabi Ibrahim di atas, terbaca bahwa beliau mendo’akan kedua orangtuanya.  Menurut Thabathaba’i sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab bahwa do’a Nabi Ibrahim ini merupakan do’a terakhir Nabi Ibrahim yang direkam Al-Qur’an. Jika demikian, do’a beliau kepada kedua orang tuanya menunjukkan bahwa kedua orangtuanya adalah orang-orang yang meninggal dalam dalam keadaan Muslim, bukan musyrik. Ini sekaligus membuktikan bahwa Azar bukanlah ayahnya. Demikian ulama berkesimpulan. Ulama lain berpendapat bahwa permohonan pengampunan untuk orangtuanya ini terjadi sebelum adanya larangan mendo’akan orang tua yang musyrik.[28]

Adapun Hamka menjelaskan, penutup do’a Nabi Ibrahim ini sangat mengharukan. Beliau, nenek para nabi dan rasul memohon ampun kepada Allah entah ada kelalaian dan kekurangan dalam memikul kewajiban sebab dia manusia. Ampuni juga kedua orangtuanya kalau boleh, dan terutama lagi ampunilah sekalian orang yang telah menegakkan kepercayaan kepada Engkau, Ya Allah. Siapa yang tidak terharu merenungkan ini, semakin manusia berendah hati dihadapan Allah maka semakin tinggi martabat manusia dihadapan-Nya. Patutlah bagi kita umat Islam senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Saw. pada waktu shalat dengan menyertai juga shalawat kepada Nabi Ibrahim As. dan keluarganya.[29]

 [1] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XIII-XIV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 152-153.   

[2] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 386-387. 

[3] Ibid., h. 387. 

[4] Kementrian Agama RI, loc.cit.  

[5] Ahmad Mustafa Al-Maragi, op.cit., h. 302. 

 [6] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, diterjemahkan oleh Muhyiddin Masridha, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 871.  

[7] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 387. 

[8] Ibid., h. 388.  

[9] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XIII-XIV, op.cit., h. 153. 

[10] Ibid.

 [11] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 388. 

[12] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 173. 

[13] Syeikh Imam Al-Qurthubi, op.cit., h. 875. 

[14] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 389. 

[15] Ibid., h. 389-390.  

[16] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 174. 

[17] Ibid., h. 174-175.  

[18] Hamka, op.cit., h. 154-155.

[19] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit.,h. 390. 

[20] Ibid.

[21] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir jilid 4, diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar, dkk, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2008), h. 549. 

[22] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit.,  389. 

[23] Hamka, op.cit., h. 155-156. 

[24] Ibid., h. 156. 

[25] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 177. 

[26] Hamka, op.cit., h. 156. 

[27] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 391.

[28] Ibid., 

[29] Hamka, op.cit., h. 156-157. 

Katak adalah binatang amphibi pemakan serangga yang hidup di air tawar atau daratan, berkulit licin, berwarna hijau atau merah kecokelat-cokelatan, kaki belakang lebih panjang, pandai melompat dan berenang.

Klasifikasi  Katak

Berdasarkan tingkat taksonomi umumnya, katak di klasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom           : Animalia

Phylum             : Chordata

Class                 : Amphibia

Order               : Anura

Familia              : Ranidae

Genus              : Fejervarya

Species            : F. cancrivora

 

Deskripsi Katak

Fejervarya cancrivora merupakan katak besar, tekstur kulit memiliki lipatan-lipatan dan bintil-bintil memanjang searah dengan sumbu tubuh. Warna kulit bervariasi, coklat lumpur kotor dengan bercak gelap. Jari-jari kaki meruncing, selaput renang mencapai ujung,  kecuali 1 atau 2 ruas jari kaki keempat (yang terpanjang).

 

Habitat

Katak ini sangat banyak dijumpai di sawah-sawah. terdapat dalam jumlah banyak di sekitar rawa dan bahkan di daerah berair asin, seperti tambak atau hutan bakau.

 

Penyebaran

Indo-Cina,Hainan sampai sampai ke Filipina, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya (Introduksi).

 

Bagaimana hukumnya memakan katak?

Dari segi dalil, kita menemukan sebuah hadits yang menyebutkan tentang memakan hewan katak “Dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy bahwasanya seorang tabib (dokter) bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka Rasulullah SAW melarang membunuhnya.” (Ditakharijkan oleh Ahmad dan di Shahihkan Hakim, ditakhrijkannya pula Abu Daud dan Nasa’I).

Hadist dari  para ulama umumnya mengatakan bahwa memakan daging katak itu tidak halal. Sebab Rasulullah SAW melarang untuk membunuhnya. Seandainya boleh dimakan, maka tidak akan dilarang untuk membunuhnya. Hukumnya pun haram dimakan, meski tidak ada keterangan bahwa dagingnya najis atau haram dimakan.

Seandainya boleh dimakan, maka tidak akan dilarang untuk membunuhnya, Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Ahmad Ishaq, Alhakim dari Abdurrahman bin Utsman at-Tamimi. Silahkan periksa kitab Al Lubab Syahril Kitab jilid 3 halaman 230, juga kitab Takmilatul Fathi jilid 8 halaman 62, kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 4 halaman 298 dan kita Al-Muhazzab jilid 1 halaman 250.

Mereka yang mengharamkan kodok juga mendasarkan larangan ini dengan dalil bahwa katak itu termasuk hewan yang menjijikan secara umum. Walhasil, kecenderungan jumhur ulama berpendapat bahwa katak itu tidak halal dimakan berdasarkan dalil dan kaidah diatas.

 

Fatwa MUI: Katak atau Kodok sebaiknya Dihindari

“Terkait katak atau kodok dan ada beberapa jenis lain,  MUI secara khusus pernah melakukan pengkajian”. Sekretaris Komisis Fatwa MUI Asrorun Ni’am. mengatakan binatang yang hidup di dua alam haram dikonsumsi, sekalipun binatang itu suci dan bisa dikembangbiakkan. “Para ulama beda pendapat, namun  jumhur (mayoritas ulama) menyatakan itu terlarang. Tapi MUI juga mengakui ada mazhab yang menyatakan daging katak atau kodok bisa dikonsumsi. Lalu apa kesimpulan dari kajian MUI tersebut? Ni’am menyata MUI menghimbau agar daging katak sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi mengingat adanya perbedaan pandangan para ulama.

“Fatwanya sudah ada. Mengimbau untuk memilih makanan konsumsi yang aman secara kesehatan dan keluar dari perbedaan pandangan fuqoha (ahli fikih). Kalau bisa dihindari, ya dihindari. Begitu, ya. Karena terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama,” kata Ni’am.

Kajian MUI ini,  menyimpulkan hal lain di samping soal konsumsi, yakni pengembangbiakan katak. Untuk poin kedua ini, MUI memberikan lampu hijau sepenuhnya. “Membudidayakan untuk kepentingan nonkonsumsi, seperti untuk menggemburkan tanah dan lain-lain, itu diperkenankan”, ujarnya.

Berdasarkan referensi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa katak hukumnya haram untuk dimakan, namun diperbolehkan membudidayakannya untuk kepentingan nonkonsumsi seperti untuk menggemburkan tanah dan lain-lain.

 

Iin Yuwinani

Mahasiswa Prodi Biologi

Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

(PKPH, Jakarta)-Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengadakan  Focus Group Discussion (FGD) dengan Akademisi pada 19 Juni 2019 di Jakarta. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengajak akademisi berperan aktif dalam  program Kampung Anak Sejahtera (KAS). KAS adalah program dari KPPPA bekerjasama dengan Food Bank of Indonesia (FOI) untuk membantu menekan angka gizi buruk pada balita.

FGD tersebut dihadiri akademisi dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, seperti: UGM, UI, IPB, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Udayana, Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Universitas Andalas, Universitas Brawijaya, dan LIPI.  Diskusi diarahkan untuk memberikan saran dan mengkritisi program Kampung Anak Sejahtera baik berdasarkan program tahun lalu maupun rencana program tahun ini sesuai bidang keilmuan dan berkolaborasi membentuk model pendampingan intervensi pangan masyarakat dengan fokus penekanan angka stunting dan perbaikan status gizi balita. 

Hendra Jamal, asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan, mengemukakan bahwa target penurunan angka stunting adalah 20% sebagaimana dicanangkan WHO.  Prof. Ikeu Tanziha dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB menekankan penting adanya konvergensi lintas sektoral dalam intervensi program KAS.  Masih menurut Prof. Ikeu, selain pemberian makanan tambahan (PMT) perilaku pengasuhan yang baik sangat berperan dalam menekan angka stunting.  Dari UNMA, Mujijah menambahkan bahwa kedekatan orang tua dengan anak juga dapat memberikan pengaruh positif dalam tumbuh kembang balita.  Sedangkan Tuti Rostianti dari prodi Teknologi Pangan Unma menyampaikan bahwa kerjasama OPD dengan pusat juga penting dijalin agar program berjalan efektif dan efisien.

Program KAS sendiri dilakukan mengingat status gizi anak Indonesia saat ini dalam kondisi yang tidak menggembirakan.  Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 sebanyak 3,9% balita mengalami gizi buruk, 13,8% gizi kurang, dan 30,8% mengalami pendek (stunting).  Permasalahan gizi tersebut akan mengakibatkan tumbuh kembang anak tidak optimal yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas generasi. 

Kampung Anak Sejahtera (KAS) merupakan program kerjasama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Food Bank of Indonesia (FOI) untuk membantu menekan angka gizi buruk pada balita melalui program.  Program tersebut terdiri dari program intervensi pangan pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada masa 1000 HPK hingga anak berusia 2-5 tahun selama 6 bulan dan setiap bulannya diadakan monitoring status gizinya.  Selain itu diberikan edukasi dan pelatihan tentang pangan dan gizi pada relawan, ibu hamil, ibu menyusui, dan orang tua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT). Program KAS telah dilaksanakan di 4 daerah yaitu Desa Bulagor (Pandeglang), Desa Cibatok Dua (Bogor), Desa Selomirah (Magelang), dan Desa Kalisogo (Sidoarjo).  Tahun ini KAS akan dijalankan pada 4 wilayah baru, yaitu Kabupaten Subang, Wonosobo, Grobogan, dan Kulonprogo.  Sejak tahun 2018 Unma telah terlibat dalam program KAS dalam edukasi dan pelatihan tentang pangan dan gizi.  Tahun ini diharapkan tidak hanya dosen yang berperan tetapi juga mahasiswa UNMA dapat terlibat dalam program tersebut, terutama sebagai pendamping pelaksanaan program agar tepat sasaran dan berjalan baik. (EK/PKPH Unma)

 

(PKPH, Serang)- Universitas Mathla'ul Anwar  (Unma) Banten menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama RI di Serang (10/5). Penandatangan dilakukan oleh Prof Dr H Abdul Gani Abdullah SH, selaku Rektor Universitas Mathla'ul Anwar Banten dan Prof Ir Sukoso, M.Sc PhD, selaku Kepala Badan BPJPH, dan disaksikan oleh Wakil Rektor I Unma Banten, Dr H Jihaduddin M.Pd, dan Wakil Rektor III Unma Banten, Dr H Ali Nurdin, M.Si.

Peserta Seminar dan Workshop HICO 2019

Penandatangan nota kesepahaman juga dikuti dengan kegiatan Seminar nasional halal dan Workshop dengan tema Halal Industry: Challenges & Opportunities, yang diikuti oleh 340 peserta, dari: Akademisi, Mahasiswa, Pelajar, Pelaku UMKM dan Industri, Pemerintah Daerah, dan MUI. Narasumber yang hadir bersal dari BPJPH, Kawasan Industri Halal Modern Land Cikande, BB BPOM Serang dan PKPH Unma Banten.

Penyerahan Buku Undang Undang No 33 Tahun 2014, Tentang Jamianan Produk Halal

Direktur PKPH Unma Banten, Hadi Susilo, menyampaikan penandatangan nota kesepahaman ini terkait dengan Jaminan Produk Halal dan Pengembangan Kelembagaan antara UNMA Banten dan BPJPH. PKPH Unma Banten telah berdiri  2 tahun yang lalu, dan telah berkiprah dalam sosialisasi UU No 33 Tahun 2014, tentang Jaminan Produk Halal di Wilayah Propinsi Banten. PKPH Unma Banten telah bekerjasama dengan MUI Kabupaten Pandeglang, LPPOM Banten, BPPV Dinas Pertanian Banten, dan PT Sucofindo. Disamping itu, PKPH Unma Banten juga membantu menfasilitasi UMKM untuk mendapatkan Sertifikasi Halal dari LPPOM MUI Banten.

 

Sosialisasi UU No 3 Tahun 2014, Oleh kepala BPJPH, Prof Ir Sukoso, MSc. PhD

 

Ketua Panitia Seminar Nasional dan Worshop, Priyono, memyampaikan ucapan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan kegiatan seminar dan workshop ini, seminar ini didukung oleh IAI, PAFI, Bank BI Kanwil Banten, Fakultas Sains dan Farmasi Unma Banten,  BB BPOM Serang, dengan media partner, Kantor Berita Islam Internasional MINA, Antara, Swara Banten, Jawa Pos TV, Radio krakatau FM.

(PKPH, Serang)-- Kementerian Pariwisata RI menyelenggarakan Training of Trainer (TOT) Dosen Pendamping desa wisata di Hotel Le Dian, Serang  19-21 Maret 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk pengembangan desa wisata  dalam menghasilkan perubahan peningkatan kawasan desa menjadi kawasan desa wisata yang akan didatangi oleh wisatawan. 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Neneng Nurcahayati, menyampaikan peran dosen pendamping dapat memperkuat pariwisata, khususnya di wilayah Banten. Dengan berbagai destinasi  wisata di Banten perlu diperkuat dengan peningatan daya tarik desa wisata perlu terus dilakukan dengan dukungan berbagai pihak, bukan saja tugas pemerintah saja, seluruh masyarakat berkewajiban untuk membuat kawasan desanya menjadi kawasan desa wisata yang akan banyak dikunjungi pariwisata.  Tujuh perguruan tinggi di Banten akan bekerja bersama selama 3 bulan untuk membuat desa di wilayah Provinsi Banten yang masih embrio menjadi desa wisata.  Kelompok Masyarakat Sadar Pariwisata (Pokdarwis) sudah dibentuk  dibeberapa wilayah di desa Provinsi Banten untuk mempermudah dalam pengembangan kawasan pedesaannya menjadi desa wisata yang akan dikembangkan di desanya sehingga mempermudah dalam proses pendampingan desa wisatanya

Universitas Mathlaul Anwaw Banten diwakili 5 orang dosennya, yakni: Tuti Rostianti, Ari Ekopriatno, Nenden Suciyawati, Dody Riswanto, dan Agus Setiawan akan menyampaikan  ide kretaif untuk bisa disharing dalam hal pengmbangan desa wisata  dengan perguruan tinggi yang diundang dalam acara ini.   Adanya interaksi antar lini di desa dengan pendamping menjadi proses belajar dalam mengembangkan kawasan desa wisata. Dengan Do, see, learn, buy  and arrive menurut ibu Lia Apriza (praktisi pariwisata dan dosen Stipar Bandung) menjadi misi dan target untuk mengajak wisatawan dating ke desa wisata.

Akan ada diskusi kelompok untuk membuat cara pendampingan yang baik dalam membentuk kekuatan dalam pendampingan desa wisata.  Masing-masing perguruan tinggi akan mempresentasikan cara pendampingan pemberdayaan desa wisata sehingga dapat memperbaiki kualitas dosen pendamping setelah TOT ini dilaksanakan. (Tuti/03)

(PKPH, Jakarta)—Universitas Mathla’ul Anwar Banten berkomitmen mengembangkan desa wisata di wilayah Banten, hal ini dibuktikan dengan dilakukannya penandatangan kerjasama dan persiapan TOT Dosen dalam rangka pengembangan desa wisata. Penandatanganan perjanjian  kerjasama antara Kementerian Pariwisata  dengan Perguruan Tinggi dan Kementerian Desa, Pembanguan Daerah Teringgal, dan Transmigrasi dilaksanakan di Hotel Sultan Jakarta (28/2), diikuti oleh 57 Perguruan Tinggi di Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua. Universitas Mathla’ul Anwar diwakili oleh Wakil  Rektor II, H Sanusi,  SE, MM, sementara dari Kementrerian pariwisata diwakili oleh Wisnu Bawa Tarunajaya, dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi diwakili oleh Hasrul Ediyar.

Kampung cikadu, Panimbang, Pandeglang

 

Tujuan kerjasama ini dalam rangka penyelenggaraan pengembangan desa wisata sebagai destinasi pariwisata berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan di lingkup daerah tertentu. Sebagai tindak lanjutnya, Kemendes akan mengundang tim Kemenpar untuk membahas action plan pengembangan Desa Wisata melalui pendampingan.

Universitas Mathla’ul anwar, melalui Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) Unma Banten telah merintis kegiatan pengembangan desa wisata ini mulai setahun yang lalu, dengan mengunjungi dan identifikasi permasalahan di beberapa desa-desa wisata seperti: di Cikadu, Kecamatan Panimbang, Desa Banyubiru, Desa Sukacai, dan Desa Banyuresmi, kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten.

Ditempat terpisah, Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) Unma Banten, Hadi susilo, sangat mengapresiasi kerjasama ini. PKPH Unma Banten Telah menyiapkan 5 Dosennya untuk mengikuti kegiatan TOT Dosen pendamping Wisata desa, yang akan diselenggarakan pada tanggal 18-20 maret 2019. PKPH Unma Banten sedang mengembangkan desa wisata halal, diharapkan dengan adanya desa wisata halal ini dapat mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, dengan menjaga kearifan lokal dan berkelanjutan.(HS/02).

(PKPH, Pandeglang) – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) melakukan kunjungan dalam rangka silaturahmi kepada Pimpinan Universitas Mathla’ul Anwar Banten dan  verifikasi persyaratan untuk mendirikan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Calon Auditor Halal di Pandeglang (30/11). Kunjungan Ini juga didampingi oleh Kanwil Kementrian Agama Propinsi Banten, Drs H Zarkazy.

Ketua tim BPJPH, H Amrulloh menyampaikan, dalam rangka pelaksanaan amanah Undang Undang N0 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, dan menyongsong diberlakukannya Mandatory sertifikasi Produk Halal mengajak Perguruan Tinggi dan Lembaga Keagamaan Islam berbadan Hukum untuk bekerjasama dengan BPJPH untuk mendirikan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), sesuai dengan pasal 12 dan pasal 13.

 

Wakil Rektor 1 Universitas Mathla’ul Anwar Banten, Dr H Jihaduddin M.Pd, menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada BPJPH. Universitas Mathla’ul Anwar siap bekerjasama dengan BPJPH dalam pendirian LPH. Unma Banten telah membentuk pusat halal, dengan nama Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) Unma Banten 2 tahun yang lalu, sebelum dibentuknya BPJPH,  PKPH Unma Banten merupakan cikal bakal LPH Mathla’ul Anwar. Unma Banten juga telah bekerjasama dengan USIM Malaysia untuk melakukan riset halal, ungkapnya.Verifikasi BPJPH dilakukan dengan melihat kelengkapan dokumen LPH, dan fasilitas laboratorium yang dimiliki Oleh Unma Banten.

Direktur LPH MA, Dwi Marwati menyampaikan, LPH MA telah didirikan pada 21 April 2018, dan didukung kuat oleh PB Mathla'ul Anwar. Dwi menambahkan, tentang kesiapan LPH MA untuk berpartisipasi aktif dan bekerjasama dengan BPJPH dalam Implementasi UU No 33 tahun 2014. (HS/02).

Halaman 1 dari 2

Flag Counter

000810403
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
154
1028
8320
30277
32184
810403
IP Anda: 35.172.216.157
29-03-2020 03:06

Kontak :

Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI:

Harga Emas :

Harga Emas