(PKPH, Makasar)-Di tahun ke-18 Hijriah, saat wabah menyerang Kota Syam, Gubernur Abu Ubaidah yg sangat mencintai rakyatnya itu wafat. Pimpinan diserahkan ke Muadz bin Jabal tapi beliau juga wafat akibat wabah. Setelah itu Amr bin Ash ditunjuk sebagai pengganti. Dialah yang mempunyai ide bahwa wabah yang telah membunuh 20 ribu penduduk Syam waktu itu atau setengah populasi. harus diatasi dengan menyuruh para warganya menjaga jarak dan berpencar di gunung-gunung. Ternyata ide ini manjur dan wabah berhenti.

Jaga jarak atau dikenal saat ini social distancing sangat dianjurkan. Sedih memang rasanya saat hari Jum’at ini tidak bisa shalat berjamaah di mesjid. Seperti mimpi, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Prihatin juga melihat orang tidak mau salaman dan mengambil jarak karena memang itu yang harus dilakukan untuk menghindari penularan virus corona yang sedang mewabah saat ini.

Allah memang akan menguji kita dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Manusia tidak punya kuasa untuk menolaknya. Manusia hamba yang sangat lemah. Hanya memang kadang manusia takabur karena merasa dirinya kaya, kuat dan berdaya. Ujian ini diharapkan menyadarkan manusia sehingga kembali hanya membesarkan Sang Pencipta.

Maha Benar Allah dengan Firman-Nya: Walanabluwannakum bisyayim minal khaufi wal juui'i wanaqshim minal amwaali wal anfusi watstsamaraati wabasysyirish shaabiriin (QS Al-Baqarah 2:155). Artinya: Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

BERTAHANLAH DI RUMAH DAN JAGALAH JARAK SEBAGAI IKHTIAR AGAR UJIAN INI SEGERA BERAKHIR.

 

Pesan Dakwah 24 Rajab 1441M

By: Prof. Veni Hadju

(PKPH, Cilegon)-Masjid Al Aqsha terletak di dalam tembok kota tua Yerusalem, Palestina. Al-Aqsha merupakan salah satu dari tiga masjid paling suci di kalangan umat Islam, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Masjid al aqsha pernah menjadi kiblat bagi umat muslim, al aqsa adalah milik kaum muslim.

Nama Masjid Al-Aqsha yang disematkan pada masjid ini, adalah Allah sendiri yang memberinya nama, bersamaan dengan nama Masjidil Haram. Allah berfirman :

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ 

Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra [17] : 1).

Kata “Al-Aqsha”, dari segi bahasa mempunyai arti “yang paling jauh”, karena Masjid Al-Aqsa adalah jarak masjid paling jauh dari Masjidil Haram. Jarak antara Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsha di Palestina sekitar 1.500 km,  memerlukan masa perjalanan naik unta atau kuda sekitar 40 hari lamanya.

Ulama asal Mesir Dr Amer Khaled, yang berdakwah di Inggris, menyampaikan, dikatakan terjauh karena ibadah di dalamnya juga dapat menjauhkan dari kotoran dan dosa. Nama Masjid Al-Aqsha juga disebutkan langsung oleh lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, seperti disebutkan dalam pertanyaan sahabat Nabi, Abu Dzar Al-Ghifari:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلُ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ يَعْنِي بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً

Artinya: “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?” Beliau bersabda, “Al-Masjid Al-Haram”. Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Kemudian Al-Masjid Al-Aqsha”. Berkata Abu Mu’awiyah “Yakni Baitul Maqdis” . Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama antara keduanya?”. Beliau menjawab, “Empat puluh tahun”. (HR Ahmad dari Abu Dzar).

Pondasi Masjid Al-Aqsha diletakkan Allah  sejak jaman Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Dalam kurun waktu sekian lama, bangunan itu rusak dan runtuh dimakan waktu. Areal tanah sekitar Masjid Al-Aqsha juga termasuk ke dalam kawasan masjid tersebut. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam shalat di tanah itu, bagian Masjid Al-Aqsha.

Ibnul Qayyim Al-Jauzy menyebutkan, Masjid Al-Aqsha dibangun kembali di atas pondasinya oleh cucu Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, yakni Nabi Ya`qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘Alaihis Salam. Keturunan berikutnya, Nabi Daud bin Ya’qub ‘Alaihis Salam membangun ulang masjid itu. Bangunan Masjid Al-Aqsa diperbaharui oleh putera Nabi Dawud ‘Alaihis Salam, yakni Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam. Mereka para Nabi utusan Allah membangun kembali Masjid Al-Aqsa adalah untuk tempat ibadah mendirikan shalat di dalamnya, bukan mendirikan kuil sinagog seperti seperti klaim Zionis Yahudi.

Nama Masjid Al-Aqsha merupakan nama yang agung, mulia lagi penuh berkah, yang dinamai langsung oleh Allah, dan disebutkan langsung juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Masjid Al aqsha adalah warisan dari Umat Islam. Masjid Al aqsha adalah hak kaum muslimin, Al aqsha  hak kita.

Al aqsha hak musliminin, Al aqsha hak kita.

Hadi Susilo

Aqsa Working Group (AWG) Banten

 

عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا جُلُوساً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ». فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وَضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِى يَدِهِ الشِّمَالِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مِثْلَ ذَلِكَ فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الأُولَى فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضاً فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الأُولَى فَلَمَّا قَامَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- تَبِعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ إِنِّى لاَحَيْتُ أَبِى فَأَقْسَمْتُ أَنْ لاَ أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلاَثاً فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُئْوِيَنِى إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِىَ فَعَلْتَ. قَالَ نَعَمْ . قَالَ أَنَسٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِىَ الثَلاَثَ فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئاً غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ حَتَّى يَقُومَ لِصَلاَةِ الْفَجْرِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّى لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلاَّ خَيْراً فَلَمَّا مَضَتِ الثَلاَثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْتَقِرَ عَمَلَهُ قُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنِّى لَمْ يَكُنْ بَيْنِى وَبَيْنَ أَبِى غَضَبٌ وَلاَ هَجْرٌ ثَمَّ وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ لَكَ ثَلاَثَ مِرَارٍ « يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ». فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَلاَثَ مِرَارٍ فَأَرَدْتُ أَنْ آوِىَ إِلَيْكَ لأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِىَ بِهِ فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ فَمَا الَّذِى بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَا هُوَ إِلاَّ مَا رَأَيْتَ. قَالَ فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِى. فَقَالَ مَا هُوَ إِلاَّ مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّى لاَ أَجِدُ فِى نَفْسِى لأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلاَ أَحْسُدُ أَحَداً عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ هَذِهِ الَّتِى بَلَغَتْ بِكَ وَهِىَ الَّتِى لاَ نُطِيقُ.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu. Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا :الأحزاب: 70،

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلا مَعْرُوفًا

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

أَفَلا يَرَوْنَ أَلا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلا وَلا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا:طه:89

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى :طه : 44 .

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا :الاسراء:28

 

Disampaikan oleh :

Dr Jihaddudin M.Pd, Wakil Rektor 1

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

 

(PKPH, Makasar)-Takdir diyakini oleh orang-orang beriman terjadi atas kehendak Allah. Takdir terjadi di luar kekuasaan manusia dan manusia harus menerimanya. Semua takdir adalah baik di sisi Allah. Namun pada sisi manusia, ada takdir yang akan menjadi ujian dan ada pula berupa karunia Allah. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat mempelajari sesuatu secara detail sehingga dapat memprediksi takdir yang akan terjadi.

Ahmad Rusdan Utomo, PhD, peneliti Stem Cell alumni Harvard University USA, yang saat ini bekerja di Jakarta, menulis artikel lewat Medsos dengan judul SAAT SAINS KETEMU TAKDIR. Tulisan ini dengan cepat menjadi viral dan menjadikan beliau diundang sebagai pembicara di berbagai tempat dan sempat hadir di Baruga Amiruddin, Fak Kedokteran Unhas beberapa pekan lalu. Pada intinya beliau mengatakan bahwa sains memberi penjelasan kepada kita bagaimana sesuatu bisa terjadi (sains) dan kalau itu telah terjadi (takdir) bagaimana sikap kita menghadapinya.

Takdir Allah atas Virus Corona yang telah mengalami mutasi genetik pada hewan kalelawar adalah kuman yang mematikan pada manusia. Virus ini mempunyai tingkat penularan yang sangat tinggi walaupun angka kematian berada di bawah 5%. Saat ini penderita Virus ini sudah berada di lebih 100 negara dan menembus angka 100.000. Allah memang menciptakan segala sesuatu dan menetapkan kadar dari setiap ciltaan-Nya dengan tepat. Pemahaman akan takdir Virus Corona ini harusnya menyadarkan kita semua bahwa kita pasti akan kembali kepada-Nya.

Maha Benar Allah dengan Firman-Nya: Wa khalaqa kulla syay in faqaddarahuu taqdiiraa (QS Al-Furqan 25:2). Artinya: Dan (Allah) menciptakan segala sesuatu lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.

PERHATIKANLAH TAKDIR ALLAH YANG ADA PADA DIRIMU DAN DI ALAM SEKITARMU, PASTI ADA HIKMAH DI BALIK ITU

 

Pesan Dakwah 16 Rajab 1441H

By: Prof. Veni Hadju


(PKPH, Makasar)-Tiada hari tanpa pemberitaan Coronavirus saat ini. Banyak hal yangg diberitakan, dari kematian yang terus meningkat dan luas penyebarannya, sampai berbagai cara yangg ditempuh untuk menyelamatkan diri dari virus yang mematikan ini. Sekolompok orang di China dikabarkan menghadiri shalat berjamaah di mesjid-mesjid untukk memohon pertolongan Allah. Mereka pasrah dan berserah diri kepada-Nya.
 
Sungguh ini ujian yg sangat berat. Perekonomian China terpuruk. Kebebasan mereka terkekang.  Penerbangan dari dan ke sana ditutup. Bahkan masalah rasial muncul di banyak negara. Banyak warga yang merasa tidak aman bertemu atau berpapasan dengan mereka. Semua ini tidak pernah dipikirkan oleh para penguasa China yang bangga dengan kejayaannya. Apalagi dalam tiga tahun terakhir ini terdengar berita tentang kezaliman penguasa pada kelompok minoritas yang tidak berdosa.
 
Allah melalui Kitab mulia-Nya, berulangkali memperingatkan hamba-Nya akan azab yang pedih bagi orang-orang yang berbuat zalim. Manusia tidak berkuasa sedikitpun terhadap kehidupan di dunia ini. Manusia sangat lemah, sehebat apapun teknologi senjatanya, setinggi apapun ilmunya. Azab bisa datang seketika seperti banyak terlihat pada penduduk yang berbuat zalim sebelumnya. Semua ini agar manusia sadar untuk kembali berbuat baik.
 
Maha Benar Allah dengan Firman-Nya: Wa maa antum bimu'jiziina fil ardhi wamaa lakum minduunillaahi miwwaliyyi walaa nashiir (QS Asy syuura (42):31). Artinya: Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan juga seorang penolong selain Allah.
 
MINTALAH PERTOLONGAN HANYA KEPADA ALLAH DAN HENTIKAN KEZALIMAN TERHADAP SESAMA MANUSIA
 
Pesan Dakwah 19Jumadil Akhir 1441H
By: Prof. Veni Hadju
 
 
 
 
 

(PKPH, Cilegon)- Kata an-nashihah berasal dari kata an nush-hu, kata ini secara etimologi mengandung dua makna, yakni: 1) Bersih dari kotoran-kotoran dan bebas dari para sekutu;  2) Merapatnya dua sesuatu sehingga tidak saling berjauhan.

Begitu pentingnya nasihat dalam agama, hingga disebut dalam hadis, dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Definisi an-nashihah secara terminologi dalam hadits ini adalah: Mengharapkan kebaikan orang yang dinasihati, definisi ini berkaitan dengan nasihat yang ditujukan kepada pemimpin umat Islam dan rakyatnya. Adapun jika nasihat itu diarahkan kepada Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya, maka yang dimaksud adalah merapatnya hubungan seorang hamba dengan tiga hal tersebut di atas, di mana dia menunaikan hak-hak mereka dengan baik.

Memberi dan menerima nasihat,  berlaku untuk segenap manusia, siapapun orangnya,  apapun jabatannya, tanpa terkecuali. Nasihat yang berdasarkan Allah SWT dan Rasul-Nya, berlaku untuk para pemimpin umat Islam dan masyarakat pada umumnya. Ini mengingat manusia tidak lepas dari lupa dan salah.

Memberi nasihat kepada orang lain berupa teguran positif dan saran konstruktif  berarti menepati sunah Rasulullah SAW.  Nabi Muhammad SAW sendiri memberikan teladan bagaimana beliau bersikap terbuka menerima input (saran masukan) dari kalangan sahabat-sahabatnya yang memberikan pandangan, terutama dalam persoalan yang bukan wahyu. Sebaliknya, orang yang tidak mau menerima nasihat menunjukkan bahwa dirinya merasa telah sempurna, merasa tidak ada lubang-lubang kesalahan sedikit pun, serta merasa tidak punya celah kekurangan.

Sebagai contoh, betapa keterbukaan baginda Nabi Muhammad SAW ketika bersedia menerima pandangan seorang sahabat biasa yang memberikan saran agar Nabi SAW mengubah lokasi pasukan ke tempat yang lebih strategis di dekat mata air. Saran ini diterima oleh Nabi Muhammad  SAW demi kemaslahatan perjuangan. Berkenaan dengan itu, Imam Malik menegaskan bahwa salah satu persyaratan untuk menjadi pemimpin umat adalah adanya kesediaan dan keterbukaan menerima teguran umat dengan ikhlas karena Allah SWT. Memang, menerima nasihat, saran, dan teguran tidaklah mudah, karena disamping rasa malu, kekurangannya terlihat orang banyak, juga perasaan gengsi atau menjaga wibawa. Padahal, dengan tidak mau disempurnakan itulah, bisa jadi sobekan kekurangannya akan bertambah lebar.

Bersyukurlah kita sebagai umat beragama yang masih mau menerima nasihat kebaikan dari orang lain. Hal itu adalah bagian dari penyempurnaan keagamaan kita sebagai makhluk Allah SWT. Dengan saling menasihati di antara sesama, maka kita akan banyak memperoleh mutiara-mutiara  hikmah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

 

(PKPH,  Makasar)-Berita kematian akibat Coronavirus menyebar dengan cepat. Mencekam. Virus ini telah membunuh 132 orang di China dan telah menyebar ke 20 negara (Data 30 Januari 2020). Spekulasi bermunculan. Ada yg mengatakan ini adalah senjata biologis yang terlepas (escape) dari laboratorium. Ada yg mengaitkan dengan perilaku konsumsi makanan ekstrim. Ada juga yang mengatakan bahwa ini peringatan Allah untuk seluruh manusia.

Virus adalah makhluk Allah yang tunduk pada pencipta-Nya. Jenis virus berbeda-beda. Ada yang aman atau memberi pengaruh kecil terhadap kesehatan tubuh manusia namun ada yg memberi dampak buruk bahkan mematikan. Virus yangg berasal dari Kota Wuhan, China, yang menular saat ini (2019-nCoV) disebut para ahli paling mematikan. Diperkirakan jumlah korban akan terus meningkat.

Allah senantiasa mengingatkan hamba-Nya dengan tanda-tanda kebesaran-Nya. Keganasan Virus Corona yang kita saksikan saat ini hanyalah peringatan kecil bahwa kehebatan manusia tidak ada artinya sama sekali. Bagaimana hebatnya kaum Ad, kaum Tsamud, kaum Lut dan Fir'aun yang akhirnya hancur karena kesombongan mereka dan perbuatan mereka sewenang-wenang di muka bumi.

Maha Benar Allah dengan Firman-Nya: Walaqad akhadznaa aala fir'auna bissiniina wanaqshim minatstsamaraati la'allahum yadzdzakkaruun (QS Al-A'raaf 7:130). Artinya: Dan sungguh Kami telah menghukum Fir'aun dan kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau bertahun-tahun dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mengambil pelajaran.

JADIKANLAH PELAJARAN DARI APA YG MENIMPAMU DAN ALLAH BERSAMA ORANG YANG BERBUAT BAIK

Pesan Dakwah 7 Jumadil Akhir 1441H
By: Prof. Veni Hadju

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا (الاحزاب:53)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.


الأحكام الشرعية

الحكم الأول: هل يجوز تناول الطعام بدون دعوة؟

اتفق الفقهاء على أنه لا يجوز دخول البيوت إلا بإذن. ولا يجوز تناول طعام الإنسان إلا بإذن صريح أو ضمني، لقوله عليه السلام: «لا يحل مال أمرئ مسلم إلا عن طيب نفسه» .

وقد دلت الآية الكريمة على حرمة دخول بيوت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إلا بعد الإذن، وعلى حرمة (التطفل) وهو أن يحضر إلى الوليمة بدون دعوة، وفاعله يسمى ب (الطفيلي) ، والحكم عام في جميع البيوت، فلا يجوز لإنسان أن يدخل بيت أحد بدون إذنه، ولا أن يتناول الطعام بدون رضى صاحبه، وهذا أدب رفيع من الآداب الاجتماعية التي أرشد إليها الإسلام.

قال ابن عباس: كان ناس يتحيَّنون طعامه عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام ُ، فيدخلون عليه قبل الطعام، وينتظرون إلى أن يدرك، ثمّ يأكلون ولا يخرجون، فكان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يتأذى بهم فنزلت هذه الآية.

الحكم الثاني: هل الجلوس بعد تناول طعام الوليمة حرام؟

دلّ قوله تعالى: {فَإِذَا طَعِمْتُمْ فانتشروا} على ضرورة الخروج بعد تناول الطعام، وهذا من الآداب الإسلامية التي أدّب الله بها المؤمنين، فالمكث والجلوس بعد تناول الطعام ليس بحرام، ولكنّه مخالف لآداب الإسلام، لما فيه من الإثقال على أهل المنزل سيما إذا كانت الدار ليس فيها سوى بيت واحد، اللهمَّ إلا إذا كان الجلوس بإذن صاحب الدار أو أمره، أو كان جلوساً يسيراً تعارفه الناس، لا يصل إلى حدّ الإثقال المذموم.

ومع ذلك فالأفضل الخروج، ولهذا جاء التعبير بالفاء التي تفيد الترتيب والتعقيب {فانتشروا} .

فالمكث بعد الطعام غير مرغوب فيه على الإطلاق ولم يبق إلا أن يفرغ أهل البيت لبعض شأنهم، والبقاء بعد ذلك نوع من الإثقال غير محمود، يتنافى مع الأدب الرفيع، والذوق السليم.

الحكم الثالث:هل الطعام المقدّم للضيف على وجه التمليك أم الإباحة؟

أشارت الآية الكريمة وهي قوله تعالى: {فَإِذَا طَعِمْتُمْ فانتشروا} إلى أنّ الطعام الذي يقدّم للضيف لا يكون على وجه التمليك، وإنما هو على وجه الإباحة، فلو أراد الضيف أن يحمل معه الطعام إلى بيته لا يجوز له ذلك لأن المضيف إنما أباح له الأكل فقط دون التملك له أو أخذه أو إعطائه لأحد.

قال العلامة القرطبي: «في هذه الآية دليل على أن الضيف يأكل على ملك المضيف، لا على ملك نفسه لأنه تعالى قال: {فَإِذَا طَعِمْتُمْ فانتشروا} فلم يجعل له أكثر من الأكل، ولا أضاف إليه سواه، وبقي الملك على أصله»

Syari’at memerintahkan agar pernikahan ini dihadiri banyak orang dan diadakan walimah setelahnya agar tersiar di kalangan masyarakat. Jika kita diundang di acara walimatul ‘urs, hendaknya kita perhatian dengan adab-adabnya. Berikut adab menghadiri walimah:

  1. Tidak datang semata-mata untuk makan. Akan tetapi, hendaklah ia niatkan untuk mengamalkan sunnah, memuliakan saudaranya sesama mukmin, dan agar tidak dikira takabbur (sombong).
  2. Ia niatkan sebagai pengamalan takwa dalam ketaatan, dengan demikian, makan yang asalnya kebiasaan menjadi bernilai ibadah.
  3. Mengamalkan adab-adab makan yang disunnahkan, diantaranya:
    Pertama, membaca basmalah sebelum mengulurkan tangan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamkepada seorang anak

«يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu dulu.” (HR. Al-Bukhari No. 5376)

Kedua, hendaknya ia makan makanan yang ada di dekatnya. Dalilnya adalah hadits sebelumnya.
Ketiga, tidak mulai makan dari bagian tengahnya. Hal ini berdasarkan hadits Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «البَرَكَةُ تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ، فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ، وَلَا تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ»

Keberkahan turun di bagian tengah makanan. Maka mulailah untuk makan dari pinggirnya, jangan makan dari tengahnya.” (HR. Tirmidzi (Tuhfatul Ahwaadzi) dan dia berkata hadits ini hasan shahih (4/439).

  1. Para undangan dibolehkan makan sampai kenyang. Boleh pula ia berhenti sebelum kenyang. Diharamkan melebihi batas kenyang, karena berbahaya dan melanggar etika masyarakat. Walaupun demikian, jika ia makan melebihi batas, maka ia tidak diharuskan mengganti atau membayar makanan yang melebihi batas tersebut.
  2. Para undangan tidak boleh mengambil hidangan di meja untuk di bawa pulang. Tidak boleh pula memberikan atau menjualnya kepada orang lain.
  3. Jika orang yang diundang telah duduk di depan makanannya, maka ia tidak boleh memberikan makanan tersebut kepada orang lain. Jika ia memberikannya kepada orang lain yang sama-sama diundang, maka ia tidak wajib mengganti makanan tersebut. Namun apabila ia memberikannya kepada selain para undangaan, maka ia wajib menggantinya.
  4. Para undangan tidak diperkenankan membawa orang lain yang tidak diundang, kecuali bila dibolehkan oleh pengundang. Jika orang yang tidak diundang itu masuk, maka orang yang mengundang berhak untuk menghalanginya. Jika orang itu masuk tanpa izin, maka ia berhak mengusirnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda,

«إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ، وَهَذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا، فَإِنْ شِئْتَ أَذِنْتَ لَهُ، وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتَهُ»

Engkau (Abu Syu’aib) mengundang kami berlima, sedangkan orang ini mengikuti kami. Jika engkau mau, engkau bisa mengizinkannya, dan jika engkau mau, engkau boleh tidak mengizinkannya.” (HR. Bukhari (Fath al-Baari)(IX/470))

  1. Para undangan dianjurkan untuk mendo’akan pemilik makanan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ، وَبَاِرِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُم

Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah mereka pada apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka” (HR. Ahmad IV/187-188).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الوَلِيمَةِ، يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya yang diundang kepadanya, sedangkan kaum fakir dibiarkan (tidak diundang). HR. Al-Bukhari (no. 5177) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1432) kitab an-Nikaah, Abu Dawud (no. 3742) kitab al-Ath’imah, Ibnu Majah (no. 1913) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 7237), Malik (no. 1160) kitab an-Nikaah, ad-Darimi (no. 2066) kitab al-Ath’imah



 

 

(PKPH, Makasar)—“Kalau sudah jodoh tidak akan lari kemana”. Kalimat ini sudah tertanam kuat dan semua menyetujui kebenarannya. Artinya, rasio dan hati setiap manusia menerima bahwa hidup ini ada yang mengatur. Bagaimanapun usahanya, kalau belum jodoh, belum berhasil. Hidup ini sudah ada ketentuannya, apakah itu pasangan hidup, pekerjaan, rezeki, tempat tinggal, kapan dan dimana kita wafat.

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu seseorang yang saat ini punya bisnis yang terus berkembang dan mendatangkan keuntungan bermilyar-milyar. Ia termasuk dalam salah satu dari milyuner di negara ini.  Dalam suatu pertemuan, dia berkata bahwa apa yang diraihnya adalah karena kerja kerasnya dan pantang menyerah. Baginya, semua yang diinginkan asal terus dikejar dengan keuletan dan kesabaran pasti akan berhasil. Tentu, jika Allah menghendakinya.

Allah memang telah menetapkan kadar setiap hamba-Nya. Ada orang yang diberikan kemampuan untuk terus bekerja dan mencapai apa yang diinginkannya. Ada juga orang yang diberi talenta yang luar biasa sehingga memperoleh rezeki yang melimpah. Namun, orang yang gagal juga tidak sedikit. Setiap orang berbeda hidupnya, setiap orang berbeda kadarnya. Namun yang harus diingat, kehidupan dunia bukanlah yang sebenarnya.

Maha Benar Allah dengan Firman-Nya: Wamaa haadzihil hayaatuddunya illaa lahwuw ala’ib, wa innad daaral aakhirata lahiyal hayawaanu lau kaanuu ya’lamuun [QS Al Ankabut (29): 44]. Artinya: Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.

JODOH ANDA SUDAH ADA DAN JADIKAN ITU UNTUK MENDAPATKAN KEHIDUPAN AKHIRAT YANG TERBAIK.

Pesan Dakwah 24 Jummadil Awal 1441H

By: Prof Veni Hadju

(PKPH, Makasar)-Siapa yang menurunkan hujan dari langit? Siapa yang mengarahkan hujan ke daerah tertentu? Siapa yang menentukan berat ringannya curah hujan di suatu daerah? Buat apa hujan diturunkan? Apakah ada kehidupan kalau hujan tidak ada? Apa yang ada pada air hujan? Bagaimana seandainya air hujan asin?

Pertanyaan-pertanyaan diatas dijawab Allah dengan jelas dalam Kitab-Nya yang mulia. Berulang kali Allah mengingatkan manusia, bahwa Sayalah yang menurunkan hujan. Sayalah yang mengarahkan hujan turun disuatu tempat. Sayalah........., Manusia tidak kekuatan sama sekali. Jangankan menurunkan hujan, menyetopnya pun tidak sanggup. Allah, Sang Pencipta, tahu bahwa manusia butuh air, manusia perlu tanaman dan hewan ternak untuk dimakan. Allah Maha Penyayang kepada hamba-Nya.

Kemarin saya bertemu teman dari Manila, Philipina, yang mengatakan bahwa sudah setahun ini tidak ada hujan di kotanya.  Ada juga info tentang beberapa daerah di Australia yang dilanda suhu udara tinggi dan tidak ada hujan. Allah tentu pada waktunya akan menurunkan air hujan dengan kasih sayangNya. Hanya sayang sekali banyak hamba yang kurang berterima kasih atas segala nikmat yang diberikanNya selama ini.

Maha Benar Allah dengan FirmanNya: Afara aitumul maa alladzi tasyrabuun, a antum anzaltumuuhu minal muzni am nahnul munziluun, lau nasyaa u ja’alnaahu ujaajan falaulaa tasyakuruun [QS Al Wa’qiah (56):68-70]. Artinya: Pernahkan kamu perhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya kami menghendaki niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur.

SYUKURILAH HUJAN YANG TELAH MEMBASAHI BUMI INI DENGAN SEMAKIN TAAT KEPADA PERINTAH-NYA.

Pesan Dakwah 16 Jummadil Awal 1441H

By: Prof Veni Hadju

Halaman 1 dari 15

Flag Counter

000810456
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
207
1028
8373
30330
32184
810456
IP Anda: 35.172.216.157
29-03-2020 03:40

Kontak :

Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI:

Harga Emas :

Harga Emas