(PKPH, Pandeglang)-Pernahkah  anda makan daging kelinci ? Banyak yang bilang daging kelinci sangat lezat. Bolehkan kita memakan dagingnya? Kelinci adalah hewan kelompok mamalia, karena kelinci mempunyai kelenjar mammae, Kelinci mempunyai daun telinga, kelinci masuk dalam famili Leporidae, kelinci sangat mudah ditemukan dibanyak negara, kelinci berkembang biak dengan beranak atau vivivar. Sebelumnya kelinci ini disebut sebagai hewan liar yang hidup di Eropa hingga Afrika.

Klasifikasi Kelinci

Kingdom          : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Mammalia

Order               : Lagomorpha

Family              : Leporidae

Genus              : Oryctolagus

Species            : Orictolagus cuniculus

 

Deskripsi Kelinci

Bagian tubuh kekinci di selimuti dengan bulu halus tetapi lebat, memiliki warna yang sangat bervariasi mulai dari warna hitam, kecokelatan, abu-abu, hitam putih, dan lain-lain. Bagian mata pada kelinci berwarna kemerahan, berbentuk bulat kelonjongan. Bagian hidung pada kelinci berbentuk silindris, mempunyai gigi seri di bagian depan berguna untuk memotong atau mengunyah rumput. Telinga pada kelinci panjang, tegak dan menghadap kedepan. Telinga ini memiliki warna yang sama dengan bentuk tubuhnya. Sedangkan kaki pada kelinci memiliki dua pasang, satu pasang di bagian depan sangat panjang dan satu pasang di bagian belakang sangat pendek.

Panjang rata-rata pada kelinci ini mencapai 50-60 cm bahkan lebih, kelinci mampu memproduksi 6-10 ekor perindukan. Usia memproduksi indukan jantan dan betina minimal 5-6 bulan, tergantung pada varietas kelinci. Kumis pada kelinci hampir menyerupai kucing, sangat halus dan juga pertumbuhan jarang. Kumis ini terdapat di sekitar bagian hidung kelinci tepatnya di bagian samping kiri dan kanan hidungnya. Kelinci memiliki ekor yang sangat pendek 2-4 cm, terkadang tampak dan tidak.

Mengonsumsi daging kelinci merupakan pemandangan yang tak sulit dijumpai di masyarakat. Banyak dari mereka yang menyukai karakter khas daging ini. Bahkan, ada sebagian rumah makan yang khusus menyediakan masakan dari daging ini. Diantaranya masakan daging kelinci yang kita temui misalnya sate kelinci, kelinci gulai, tongseng kelinci dan beberapa masakan-masakan lain yang berasal dari daging kelinci.

Bagaimana hukumnya memakan daging kelinci?

 Dari Anas bin Malik radiyallahu’anhu, beliau menceritakan,“Kami pernah berusaha menangkap kelinci di lembah Marru Zhohran. Orang-orang berusaha menangkapnya hingga mereka kelelahan. Kemudian aku berhasil menangkapnya lalu aku berikan kepada Abu Tholhah. Diapun menyembelihnya kemudian daging paha diberikan kepada Nabi sahallallahu ‘alaihi wasallam.Dan beliau menerimanya.”(HR. Bukhari 5535, Muslim 1953, dan Turmudzi 1789).

Kemudian dalam hadist lain dari Muhammad bin Shafwan rdiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, Saya menangkap 2 kelinci, namun saya tidak mendapat alat untuk menyembelihnya, hanya saya bisa menyembelihnya di Marwah. Kemudian aku tanyakan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menyuruhku untuk memakannya. (HR. Nasal 4313, Abu Daud 2822, Ibnu Majah 3175) dan dishahihkan al-Albani).

Dua hadist di atas memberikan kesimpulan bahwa kelinci hukumnya halal. Dan ini merupakan pendapat Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Said, Atha, Ibnul Musayyab, Al-Laits, Malik, Asy-Syafi’I, Abu Tsaur dan IBnul Mudzir. Bahkan Ibnu Qudamah mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada seorangpun ulama yang berpendapat haramnya kelinci kecuali satu riwayat dari Amr bin Al-Ash.” (Al-Mughni, 9/412)

Fatwa MUI: Memperbolehkan konsumsi Kelinci

Sidang MUI  di Jakarta pada 12 Maret 1983, Komisi Fatwa MUI menetapkan bahwa hukum memakan daging kelinci adalah halal. Keputusan ini didasari hadis yang diriwayatkan Jamaah – Nail al-Autarjus 7 hal.137.”Dari Anas, ia berkata: Melintas di depan kami seekor kelinci di Marri Zahran, maka orang-orang mengejar dan menangkapnya, dan aku mendapatinya. Maka aku memberikan kepada Abu Talhah lalu di sembelihnya. Dan ia mengirim kepada Rasulullah kedua pahanya dan beliau menerimanya.”

MUI juga mempertimbangkan surat permintaan Direktur Urusan Agama Islam Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Departemen Agama RI di Jakarta No:D11/5/HK.03.1/3647/1982 tanggal 27 November 1982 tentang daging kelinci. Termasuk pula surat Sekretaris Direktur Jendral Peternakan Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian RI di Jakarta No: 512NI1b/E tanggal 8 juli 1982.

Dari referensi tersebut, maka mengonsumsi kelinci adalah dihalalkan, sebab menurut hadist dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia menetapkan bahwa hukum memakan daging kelinci adalah halal, sesuai ajaran islam.

 

Iin Yuwinani

Mahasiswa Prodi Biologi, Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

 

 
 
 
 
 

 

(PKPH, Jakarta)-Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama, Sukoso mengatakan akan segara meluncurkan logo untuk sertifikasi produk  halal yang baru. Label halal baru itu diberi nama Halal Indonesia. "Logo itu diputuskan oleh Kemenkumham dan masih disimpan di Kemenkumham . Akan segera diluncurkan pada 17 Oktober 2019," kata Sukoso di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019.

Sukoso menuturkan, bagi usaha atau jasa yang sudah menggunakan logo halal lama masih diperbolehkan. Namun, sampai tiga tahun sejak peraturannya berjalan, maka harus mengganti dengan logo halal yang baru. "Aturan kita membolehkan logo yg lama selama tiga tahun. Jadi silahkan gunakan logo yang lama hingga stok di gudang habis logonya. Sampai masa jeda tiga tahun nanti diganti dengan logo baru yang bernama logo Halal Indonesia," ujar Sukoso. Tentang penggunaan logo yang baru, Menurut Sukoso, perintah itu adalah amanat undang-undang yang tertuang pada Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Jika produk atau jasa sudah mempunyai sertifikasi halal yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sukoso menerangkan, mereka bisa langsung melapor ke BPJPH untuk melakukan pendataan. Dengan demikian BPJPH dapat mengetahui jumlah dan sektor mana saja yang sudah tersertifikasi. "Karena ini maklumat Undang-Undang jika sertifikasi anda habis, sebelum tiga bulan, BPJPH wajib mengingatkan anda lewat surat resmi," kata Sukoso.

Sukoso mengungkapkan, pihak sedang mempersiapkan untuk Sistem Informasi Manajemen Halal atau SIM Halal agar pengajukan sertifikasi halal bisa dilakukan secara daring. Namun menurutnya, itu semua tidak mudah karena sistem ini harus teritegrasi dengan bank rekanan bank. Menurut Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, produk yang wajib bersertifikat halal terdiri atas barang dan jasa. Termasuk di sini adalah makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa ginetik, barang guna pakai, lalu ada penyembelihan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan dan penyajian.

 

Sumber: tempo.co

(PKPH, Pandeglang), Kementrian Pariwisata Republik Indonesia melalui Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional II kembali mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan judul Identifikasi Culture Diversity dan Biodiversity Geopark Ujung Kulon Pandeglang, pada hari Rabu, 26 Juni 2019 di Ruang Meeting S’Rizki Hotel & Restaurant, Pandeglang.

Kegiatan FGD ini dihadiri oleh ± 50 peserta yang terdiri dari: SKPD di Provinsi Banten, SKPD Kabupaten Pandeglang, Badan Pengelola Geopark Ujung Kulon, Para Pelaku Usaha, Akademisi, Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) UNMA Banten, Asosiasi dan Komunitas Pariwisata, Tim Percepatan KEK Tanjung Lesung dan Kementerian Pariwisata RI. FGD Identifikasi Culture Diversity dan Biodiversity Geopark Ujung Kulon Pandeglang tersebut dipimpin Kadispar Provinsi Banten, Ir. Hj. Eneng Nurcahyati, dengan Narasumber antara lain: Prof. Reiza Dienaputra (Universitas Padjajaran), Mufti Ali, Phd (Sejarawan Banten), Dr. Asep Muhyidin, M.Pd (Universitas Tirtayasa), Ir. Anggodo (Kepala Taman Nasional Ujung Kulon).

Acara dibuka oleh Kadispar Kabupaten Pandeglang dr. Hj. Asmani Raneyanti, MM, MHA, dalam sambutan menyampaikan: Dinas pariwisata Kabupaten Pandeglang menuju Geopark Nasional, walaupun anggaran terbatas namun karena adanya kemauan,  kami yakin  Pandeglang bisa menjadi Geopark Nasional, semangat Bupati Pandeglang dan upayanya yg maksimal semoga bisa mewujudkannya. Pandeglang sudah menetapkan mulai Ujung Pantai Carita sampai dengan Ujung Kulon sudah menjadi kawasan untuk Geopark Nasional. Team dari sumber daya manusia (SDM) Provinsi Banten sudah menyelusuri peninggalan-peninggalan yang akan dimasukan kedalam Geopark Nasional, karena banyak peninggalan-peninggalan yang berharga ternyata tidak dimanfaatkan sebagai Geopark. Semoga, PP. 9 tahun 2009 tidak menghambat pandeglang dalam membangun Geopark Nasional.

Kabid Area I Asdep Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional II Ibu Wastutik, SE, MM menyampaikan  bahwa Kegiatan ini  sebagai langkah lanjutan dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan destinasi wisata baru atau Geowisata yang berada di Kawasan Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang yang tujuan sebagai langkah lanjutan dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan destinasi wisata baru atau Geowisata yang berada di Kawasan Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang yang tujuan pelaksanaan FGD ini antaranya menyamakan persepsi diantaranya adalah kepentingan dan stakeholder pariwisata terkait unsur Akademisi, Business, Community, Goverment, Media (ABCGM) melalui sistem penataan dan pengelolahan yang sinergi, harmoni, dan kerjasama sehingga dapat mewujudkan destinasi Geopark Kawasan Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. (Agus setiawan/pkph unma)

 

Jangkrik merupakan salah satu jenis serangga, hewan ini biasanya hidup di berbagai tempat yang basah dan dingin. Jangkrik dapat kita temukan lewat suara khas yang keluar dari hewan tersebut, terutama pada saat malam hari.

Klasifikasi dan morfologi jangkrik berdasarkan tingkat taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Klasifikasi Jangkrik

Kingdom          : Animalia

Phylum            :  Arthropoda

Class                : Insecta

Order              : Ortoptera

Family              : Gryllidae

Genus             : Gyllids

Species           : Gryllus mitratus

Deskripsi Jangkrik

Morfologi

Jangkrik yang hidup dan berkembang biak yang ada di Indonesia terdapat 123 jenis dan belum dapat diketahui asal usulnya serta bangsanya. Berdasarkan beberapa pengamat jangkrik memiliki panjang berkisar 2-3 cm, warna tubuh bervariasi, tetapi pada umumnya memiliki warna cokelat, kehitaman dan hitam (Paiman et al. (1999).

Untuk ras/bangsa yang memiliki sayap dan tubuh yang berwarna kuning kemerahan, hitam legam memiliki ukuran mencapai 5 cm bahkan lebih, untuk jenis ini biasanya digunakan untuk pakan burung, ikan, dan digunakan untuk aduan suara yang sangat nyaring (Susena, 1999).

Alat Pencernaan Jangkrik

Alat pencernaan Jangkrik terdiri atas usus depan untuk penghancuran makanan, usus tengah untuk penyerapan sari makanan, dan usus belakang untuk pengeluaran sisa-sisa makanan.

Alat Reproduksi Jangkrik

Alat reproduksi pada jangkrik jantan adalah aedeagus dan pada jangkrik betina adalah ovipositor. Aedeagus pada jangkrik jantan tidak terlihat karena berada di dalam tubuh, sedangkan ovipositor pada jangkrik betina terlihat jelas seperti bentuk jarum yang ujungnya seperti tombak dan berfungsi untuk meletakkan telur.

 

Bolehkah kita mengkonsumsi jangkrik?

Berdasarkan pengamatan kaidah fiqih dan pertimbangan ushul fiqih sebelum mencari dalil-dalil (nash) tentang halal haramnya jangkrik maka kita perlu menegaskan sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram fil Islam (hal.22) bahwa hukum asal segala sesuatu adalah boleh (al-Ashlu fil asya’al-ibadah) menurut beliau, bahwa hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan dan manfaatnya adalah halal dan boleh, kecuali yang ditentukan hukum keharamannya secara pasti oleh nash-nash yang shahih dan sharih (accurate texts and clear statements). Maka jika tidak ada nash seperti itu maka hukumnya kembali kepada asalnya yakni boleh. (istishab hukmil ashl). Prinsip inilah yang dipakai Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menentukan hukum segala sesuatu selain ibadah dan aqidah. (Qawa’id Nuraniyah Fiqhiyah, hal. 112-113).  

Kaidah hukum itu berdasarkan ayat-ayat yang jelas (sharih), firman Allah: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah:29) Demikian pula dalam surat Al-Jatsiyah:13 dan Luqman:20. Inilah  bentuk rahmat Allah kepada umat manusia dengan berlakumnya syariah yang memperluas wilayah halal dan memperluah wilayah halal dan mempersempit wilayah haram, seperti ditegaskan oleh Nabi saw: “Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka ia adalah halal (hukumnya) dan apa yang Dia haramkan maka (hukumnya) haram. Sedang apa yang Dia diamkan maka ia adalah suatu yang dimaafkan. Maka terimalah pemaafan-Nya, karena Allah tidak mungkin melupakan sesuatu.” (HR. Hakim dan Bazaar).

Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-139/MUI/IV/2000 Tentang Makan Dan Budidaya Cacing dan Jangkrik Majelis Ulama Indonesia setelah:

Menimbang:

  • Bahwa budidaya cacing dan jangkrik kini banyak dilakukan orang, baik untuk makan (pakan) hewan tertentu, obat-obatan, jamu dan kosmetik, maupun untuk dikonsumsi (dimakan orang)
  • Bahwa masyarakat memerlukan penjelasan tentang hukum membudidayakan, makan, dan memanfaatkan kedua jenis binatang tersebut
  • Bahawa oleh karena itu,Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang membudidayakan, makan, dan memanfaatkan kedua jenis binatang tersebut untuk dijadikan pedoman oleh masyarakat.

Memperhatikan:

  1. Makalah Budidaya Cacing dan Jangkrik dalam Kajian Fiqh yang dipresentasikan oleh Dr. KH. Ahmad Munif, pada siding Komisi Fatwa MUI.
  2. Pandangan ahli budidaya cacing dan jangkrik yang disampaikan pada sidang Komisi Fatwa MUI.
  3. Pandangan peserta sidang Komisi Fatwa MUI.

 Mengingat :

1. Firman Allah SWT: “Allah-lah yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu sekalian” (QS. Al-Baqarah[2]:29). “Allah menundukkan untukmu semua yang ada di langit dan di bumi (segala rahmat)  dari-Nya” (QS. Al-Jasiyah: 13). “Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentingan) mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin” (QS.Luqman: 20)

2.Hadist Nabi SAW: Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitabNya (al-Qur’an) adalah halal, apa-apa yang diharamkan-Nya , hukumnya haram, dan apa-apa yang Allah diamkan/tidak dijelaskan hukumnya, dimaafkan. Untuk itu terimalah pemaafan- Nya, sebab Allah tidak pernah lupa tentang sesuatu apa pun” (HR. Al-Hakim). “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia- siakan, menentukan beberapa ketentuan, janganlah kamu langgar, mengharamkan   beberapa hal, janganlah kamu rusak, dan Allah tidak menjelaskan hukum beberapa hal karena kasih sayang padamu, bukan karena lupa, janganlah kamu cari-cari hukumnya.” ( HR. Turmuzi dan Ibnu Majah)

3. Kaidah fiqh : “Pada dasarnya segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah/boleh.

Memutuskan

Menetapkan : Fatwa Tentang Makan dan Budidaya Jangkrik

Hukum yang berkaitan dengan jangkrik

  1. Jangkrik adalah binatang serangga yang sejenis dengan belalang
  2. Membudidayakan jangkrik untuk diambil manfaatnya, untuk obat/kosmetik misalnya, untuk dimakan atau dijual, hukumnya adalah boleh (mubah, halal), sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat).

Berdasarkan referensi tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi dan membudidayakan jangkrik untuk di ambil manfaatnya hukumnya adalah mubah/boleh, sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat).

 

 

Iin Yuwinani

Mahasiswi Prodi Biologi, Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

(PKPH, Jakarta)-Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengadakan  Focus Group Discussion (FGD) dengan Akademisi pada 19 Juni 2019 di Jakarta. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengajak akademisi berperan aktif dalam  program Kampung Anak Sejahtera (KAS). KAS adalah program dari KPPPA bekerjasama dengan Food Bank of Indonesia (FOI) untuk membantu menekan angka gizi buruk pada balita.

FGD tersebut dihadiri akademisi dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, seperti: UGM, UI, IPB, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Udayana, Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Universitas Andalas, Universitas Brawijaya, dan LIPI.  Diskusi diarahkan untuk memberikan saran dan mengkritisi program Kampung Anak Sejahtera baik berdasarkan program tahun lalu maupun rencana program tahun ini sesuai bidang keilmuan dan berkolaborasi membentuk model pendampingan intervensi pangan masyarakat dengan fokus penekanan angka stunting dan perbaikan status gizi balita. 

Hendra Jamal, asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan, mengemukakan bahwa target penurunan angka stunting adalah 20% sebagaimana dicanangkan WHO.  Prof. Ikeu Tanziha dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB menekankan penting adanya konvergensi lintas sektoral dalam intervensi program KAS.  Masih menurut Prof. Ikeu, selain pemberian makanan tambahan (PMT) perilaku pengasuhan yang baik sangat berperan dalam menekan angka stunting.  Dari UNMA, Mujijah menambahkan bahwa kedekatan orang tua dengan anak juga dapat memberikan pengaruh positif dalam tumbuh kembang balita.  Sedangkan Tuti Rostianti dari prodi Teknologi Pangan Unma menyampaikan bahwa kerjasama OPD dengan pusat juga penting dijalin agar program berjalan efektif dan efisien.

Program KAS sendiri dilakukan mengingat status gizi anak Indonesia saat ini dalam kondisi yang tidak menggembirakan.  Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 sebanyak 3,9% balita mengalami gizi buruk, 13,8% gizi kurang, dan 30,8% mengalami pendek (stunting).  Permasalahan gizi tersebut akan mengakibatkan tumbuh kembang anak tidak optimal yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas generasi. 

Kampung Anak Sejahtera (KAS) merupakan program kerjasama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Food Bank of Indonesia (FOI) untuk membantu menekan angka gizi buruk pada balita melalui program.  Program tersebut terdiri dari program intervensi pangan pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada masa 1000 HPK hingga anak berusia 2-5 tahun selama 6 bulan dan setiap bulannya diadakan monitoring status gizinya.  Selain itu diberikan edukasi dan pelatihan tentang pangan dan gizi pada relawan, ibu hamil, ibu menyusui, dan orang tua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT). Program KAS telah dilaksanakan di 4 daerah yaitu Desa Bulagor (Pandeglang), Desa Cibatok Dua (Bogor), Desa Selomirah (Magelang), dan Desa Kalisogo (Sidoarjo).  Tahun ini KAS akan dijalankan pada 4 wilayah baru, yaitu Kabupaten Subang, Wonosobo, Grobogan, dan Kulonprogo.  Sejak tahun 2018 Unma telah terlibat dalam program KAS dalam edukasi dan pelatihan tentang pangan dan gizi.  Tahun ini diharapkan tidak hanya dosen yang berperan tetapi juga mahasiswa UNMA dapat terlibat dalam program tersebut, terutama sebagai pendamping pelaksanaan program agar tepat sasaran dan berjalan baik. (EK/PKPH Unma)

 

(PKPH, Serang)-Status halal suatu bahan pangan bukan hanya sebagai kewajiban yang diperintahkan Allah SWT bagi kaum muslim atas makanan yang  dikonsusi tetapi kini sudah menjadi lifestyle yang menjadi syarat mutlak atas segala sesuatu yang dipakai dan dikonsumsi di kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan bahan pangan daging baik itu daging sapi, kerbau, dan ayam yang diperoleh dari rumah penyembelihan hewan (RPH) dimana syarat halalnya suatu bahan pangan hewani selain dari jenis hewan  yang diharamkan untuk dikonsumsi seperti: daging babi, anjing, hewan yang bertaring tajam dan hewan yang hidup di dua alam,  juga proses penyembelihan merupakan titik kritis yang menentukan status kehalalan daging.

Dalam rangka menjaga kehalalan atas komoditas daging yang beredar di pasaran, Pemerintah Provinsi Banten pada Rabu, 19 juni 2019 telah mengadakan Pendidikan dan Pelatihan terhadap para juru sembelih halal (JULEHA) yang diadakan di Auditorium Balai Pengembangan Peternakan, Kawasan Pusat Pertanian Terpadu Dinas Pertanian Provinsi Banten. Dalam kegiatan tersebut PKPH UNMA Banten berkesempatan hadir untuk terlibat sebagai peserta sekaligus sebagai tamu undangan dari pihak akademisi.

Pemateri yang diundang dalam kegiatan tersebut berasal dari Fakultas Kedokteran IPB yang merupakan dosen dan juga seorang auditor halal BPJPH yang ahli di bidang penyembelihan halal,  Drh. Supratikno, M.Si PA Vet dan juga dari MUI Provinsi Banten KH. Endang Saepul Anwar. Peserta selain mendapatkan ilmu mengenai teknik penyembelihan halal, dalam kegiatan tersebut diingatkan kembali atas kewajiban seorang juru sembelih dalam menjaga kehalalan ternak yang disembelihnya dari segi agama, dampak terhadap kualitas daging yang penyembelihannya tidak sempurna dan juga akan pentingnya sertifikasi dan keahlian berbahasa inggris bagi juru sembelih karena kesempatan bagi mereka untuk bisa berkarir diluar negri karena kebutuhan akan juru sembelih halal disana semakin tinggi.

Sesi kedua dilaksanakan praktik begaimana proses penyembelihan hewan yang benar juga mengevaluasi bagi juru sembelih disetiap wilayah banten bagaimana mereka biasa melakukan penyembelihan dan menkoreksi apabila terjadi kesalahan atas kebiasaan yang mereka lakukan. Diakhir acara dilakukan pembagian sertifikat bagi peserta pelatihan bahwa mereka sudah tersertifikasi sebagai juru sembelih halal yang sudah terdidik dan juga akan selalu dievaluasi dalam jangka waktu tertentu oleh Dinas Pertanian Pemerintahan Provinsi Banten.

Dengan terlaksananya kegiatan tersebut diharapkan terjaminmya status halal terhadap komoditas daging (sapi, kerbau dan ayam) diseluruh wilayah Provinsi Banten dan juga bagi para juru sembelih halal yang tersertifikasi dapat meningkatkan jenjang karirnya dengan tetap kritis untuk mau mengikut setiap kegiatan pelatihan dan meningkatkan kemampuan mereka. (Marlinda)

 

(PKPH, Pandeglang)- Tanggal 29 April 2019 Presiden RI Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 31 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang Undang No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. PP inilah yang telah lama ditunggu oleh masyarakat sebagai landasan operasional dalam penyelenggaraan jaminan produk halal di Indonesia. 

PP ini mengatur lebih detail tentang penyelenggaraan JPH di Indonesia seperti tata cara kerjasama, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), biaya sertifikasi halal, tata cara registrasi produk, penahapan jenis produk serta pengawasan. Undang Undang No 33 Tahun 2014 pasal 4 menyebutkan bahwa semua produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Diksi dalam Undang Undang ini menyebut kata wajib. Bukan harus atau dapat.

Wajib berarti mengandung konsekuensi hukum apabila tidak dilaksanakan. Alias akan terkena sanksi jika tidak bersertifikat halal. Menurut Undang Undang ini, kewajiban sertifikasi halal bagi produk berlaku paling lambat lima tahun sejak diundangkan. Batas terahir tersebut adalah tanggal 17 Oktober 2019. Tanggal ini mengacu pada tanggal diundangkannya Undang Undang diatas yaitu 17 Oktober 2014 yang tercatat dalam Lembaran Negara Tahun 2014 nomor 295. Batas akhir ini sesungguhnya meniscayakan agar semua perangkat regulasi turunan dari UU tersebut rampung seutuhnya sebelum 17 Oktober 2019.

Namun, lahirnya PP No 31 diatas masih memerlukan regulasi yang lebih detail lagi berupa Peraturan Menteri Agama (PMA). Rancangan PMA saat ini sudah tersedia dan masih dalam tahap uji sahih sebelum diundangkan.

Silaturahmi PKPH Unma Banten dengan Kanwil Depag Banten

 

Tantangan

Indonesia menjadi negara penting dan strategies dalam perbincangan industry halal dunia. Salah satunya karena merupakan negara berpenduduk muslim terbesar sedunia. Sebagai negeri mayoritas muslim, Indonesia sudah sepantasnya menganggap penting produk halal. Hal tersebut terbukti dengan dialihkannya kebijakan halal dari yang bersifat sukarela (voluntary) menjadi kewajiban (mandatory).  

Untuk penyelenggaraan halal mandatory ini dibentuklah Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di bawah Kementerian Agama. Badan ini meskipun berstatus setingkat eselon I, namun dikelola secara Badan Layanan Umum (BLU). Perhatian luar negeri terhadap industri halal Indonesia cukup besar. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lembaga halal luar negeri (LHLN) yang sudah bekerjasama. Menurut data LPPOM MUI, hingga Juni 2019 ini sudah ada 45 lembaga sertifikasi halal luar negeri yang bekerjasama dengan Indonesia. LHLN tersebut berasal dari 26 negara. Selain itu, saat ini sudah ada lebih dari 22 negara mengajukan permohonan kerjasama kepada BPJPH.

Ramainya keinginan luar negeri bekerjasama tersebut karena berbagai negara melihat peluang pasar domestik Indonesia yang sangat besar. Mereka berharap bisa menyuplai kebutuhan produk halal domestik Indonesia. Indonesia memang menempati peringkat pertama dalam top muslim food expenditure, peringkat kelima pada kategori top muslim travel expenditure, peringkat ketiga pada top muslim apparel expenditure, peringkat kelima pada top muslim media expenditure dan peringkat keenam pada top muslim pharmaceuticals expenditure. Ini artinya, antusiasme luar negeri lebih pada keinginan untuk membanjiri pasar domestik Indonesia dengan produk halal mereka.

Apakah saat bersamaan Indonesia sudah dapat mensuplai kebutuhan produk halal dunia? Tampaknya belum. Banyak produk halal di berbagai negara seperti timur tengah misalnya, kebanyakan bukan dipasok dari Indonesia. Umumnya dari Malaysia atau Thailand. Malaysia bisa memasok produk halal ke timteng karena standar halalnya sudah diterima oleh OKI. Malaysia tergabung sebagai anggota The Standards and Metrology Institute for the Islamic Countries (SMIIC). Sementara Indonesia sampai saat ini masih proses menjadi anggota SMIIC sehingga produk halalnya belum bisa menembus pasar OKI. Thailand, meskipun mereka bukan negara OKI, melakukan sertifikasi halalnya melalui JAKIM, Malaysia. Sehingga banyak produk halal dari Thailand ditemukan di negara OKI.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia seharusnya menjadi ‘pengendali’ pasar industry halal dunia. Tantangan ini semakin menguat ketika kebijakan halal sudah menjadi otoritas negara dan bersifat mandatory.

 

Peluang

Dari sisi peluang, pada pasar domestik saja terbentang peluang lebar untuk mengembangkan industri halal di nusantara. Data Kemenkop UKM Tahun 2017 menyebut terdapat 62.928.077 unit UMKM di Indonesia. Jika setiap unit memiliki sebuah produk, maka ada lebih dari 62 juta produk yang harus disertifikasi halal. Untuk mensertifikasi lebih dari 62 juta tentu diperlukan perangkat yang tidak sedikit. Diperlukan puluhan ribu auditor halal dan penyelia halal. Juga diperlukan sekian banyak laboratorium untuk pengujian halal. Dan pasti diperlukan ratusan bahkan mungkin ribuan LPH.

Menurut data LPPOM MUI, sampai tahun 2018 baru ada 727.617 produk yang tersertifikasi halal. Dibandingkan dengan jumlah produk UMKM jumlah tersebut masih sangat kecil atau bahkan belum berarti apa-apa.

Lalu, siapa yang akan mengerjakan ‘proyek’ jutaan sertifikasi halal tersebut? Darimana sumber dananya? Bagaimana system operasionalnya? Inilah pekerjaan kita semua….

 

Mohammad Zen

Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)-Rasulullah SAW bersabda, :”Akan datang pada manusia  suatu masa, dimana motivasi (hidup) mereka adalah nafsu perut-perut mereka, kemuliaan mereka (diukur) dengan kesenangan (syahwat) mereka, orientasi mereka pada wanita-wanita mereka. Dan agama mereka adalah Dinar dan Dirham, mereka sejelek-jelek makhluk, dan bagi mereka tidak ada kesenangan (kebahagian) di sisi Allah,”(HR Ad-Dailami).

Setelah Libur Idhul Fitri usai, aktivitas kita mulai normal kembali. Kantor Pemerintah, Swasta, Lembaga Formal non Formal kembali melaksanakan rutinitasnya, menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Pejabat, Pegawai, Karyawan, Buruh, Petani, Pedagang, dan Nelayan mulai bekerja kembali, mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya, membiayai pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraanya.

Rezeki berasal dari kata razaqa, yang berarti memberi. Rezeki diterjemahkan sebagai pemberian, yaitu pemberian dari Allah swt kepada hambanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan halal, berarti boleh atau mubah. Jadi, rezeki yang halal adalah bagaimana kita mendapat apa yang kita makan, minum, pakai, dan semua kebutuhan kita melalui jalan atau cara yang diperbolehkan oleh Allah.  Mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan kita dilarang untuk memakan harta sesama dengan cara yang batil, Allah berfirman:

Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta sebagaian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil. (QS Al Baqarah[2]:188), Rasulullah saw juga bersabda,”Mencari rezeki dengan jalan halal adalah kewajiban diantara kewajiban yang ada (HR Ath Thabrani).

 Rasulullah saw menyebutkan, ada  satu dosa yang tidak dapat ditebus dengan shalat, istighfar, haji, dan amalan-amalan lainnya. Dosa itu hanya bisa ditebus dengan mencari harta yang halal. Rasulullah saw bersabda,”

Sesungguhnya diantara dosa-dosa, ada satu dosa yang tidak dapat dihapus oleh sholat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh haji dan tidak pula oleh umrah.” Para sahabat kemudian bertanya, “lantas apa yang bisa menghapuskannya, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “keprihatinan dalam mencari rezeki.

Mata pencaharian atau pekerjaan yang halal merupakan sumber rezeki yang harus diusahakan, ini adalah sumber keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Jadikanlah rezeki yang halal dan berkah menjadi target usaha kita, dan jangan mudah tergiur dengan jumlah yang banyak namun tidak mendapat ridha dan barokah dari Allah swt.

Bagaimana kalau susah mendapatkan yang Halal ?

            Seringkali, kita sudah berusaha dengan keras, banting tulang mencari yang halal, namun ternyata hasil yang didapat masih belum mencukupi kebutuhannya, dan tak jarang juga dalam kondisi “kepepet”, seperti ini dan seiring lemahnya iman, akhirnya mengikuti langkah langkah syaitan, yang diharamkan oleh Allah dan Rasulullah, seraya berkata,” mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Inilah ujian!, ketidaksabaran seseorang atas ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskan manusia ke dalam murka Allah. Hari ini semakin nyata sinyalemen yang disampaikan Rasulullah SAW, setiap hari kita jumpai sepak terjang dan hiruk pikuk manusia pemuja perut, budak nafsu syahwat, korupsi menyebar dimana-mana dan tanpa malu-malu. Mereka hanya mengejar kesenangan dan kepuasan, walaupun semuanya itu tidak pernah akan tercapai, kecuali dengan sabar dan bersyukur kepada Allah SWT.

            Allah selalu menyayangi dan mengasihi umatnya, serta mengingatkan, Allah berfirman,” Hai sekalain manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan, karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. (QS Al Baqarah[2]: 168).

 Setan memang selalu menakut-nakuti manusia dengan kefakiran dan membisikkan agar manusia berbuat dosa. Allah berfirman,:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti)  kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS AlBaqarah [2]: 268).

 Janganlah merasa disempitkan rezekinya dan jangan berprasangka buruk kepada Allah, atau merasa terlambat datangnya rezeki, ketika rezeki yang didapatkan sedikit. Rasulullah saw bersabda,” Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu terlambat datangnya. Sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati hingga telah datang kepada rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram (HR Abdurrazaq, Ibn Hibban, dan Al Hakim, di shahihkan oleh Al-Albani).

            Dengan memahami dan melaksanakan apa yang diteladankan Raulullah SAW, niscaya kita tidak pernah risau, gundah, atau tekanan batin karena memikirkan rezeki atau penghasilan. Allah Maha Pengatur, selalu Maha Pengasih dan Penyayang.

 

Halal itu nikmat

Halal itu berkah

Halal untuk kita semua

 

Hadi Susilo

Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)-Allah SWT selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya, meskipun kadangkala sang hamba mengeluh dan tidak mau menerima pemberianNya, karena tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Orang beriman tentunya harus memiliki sifat qanaah, yakni perasaan cukup dengan pemberian Allah, meskipun kadang hanya menerima sedikit atau kurang.

Qanaah akan menjadikan seorang hamba senantiasa merasa kaya, walaupun berpenghasilan sedikit ataupun banyak. Hatinya selalu ridha dengan pemberian dari  Allah SWT, sehingga melahirkan perasaan senang, tenang, dan mulia, Allah berfirman,:

 “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS: Al Mukminun [23]:51).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,” Wahai manusia, sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik,dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul.

Musthafa Al-Maraghi menjelaskan, Allah SWT memerintahkan bukan hanya kepada para RasulNya, namun juga untuk seluruh umat Islam, untuk makan makanan halal dan beramal shalih; dua perintah yang disandingkan ini mengisyaratkan bahwa, makanan halal adalah sebagai sumber energi untuk ibadah, kebaikan dan amal shalih, amal kebaikan yang diteladankan  oleh Rasulullah SAW. Makanan halal melahirkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Salah satu kebahagian di dunia, adalah sebagai sumber energi atau tenaga untuk berbuat baik dan  amal shalih.

Silaturahmi HA IPB-Gubernur Banten

 

Kenapa kita malas dan berat untuk berbuat baik ?

Makanan berfungsi sebagai: sumber energi, perbaikan sel yang rusak, dan pertumbuhan sel tubuh. Energi digunakan untuk melakukan metabolisme tubuh, sehingga tubuh dapat melakukan aktivitas dan rutinitas sehari hari, seperti: bekerja, belanja, jalan-jalan, pengajian, dan lain sebagainya.

 Ibnu Katsir menjelakaskan, makanan yang halal adalah makanan yang baik yang dihalalkan oleh Allah, sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang tidak membahayakan tubuh dan akal. Dekan makanan halal, hati akan menjadi bersih, dengan hati bersih inilah akan tercermin sikap, ucapan, dan tindakan yang baik. Sebagai Muslim,  tugas kita adalah beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintahNya, dan menjauhi segala laranganNya.

 Mengapa kita malas dan merasa berat untuk berbuat baik?.  Saatnya Muhasabah atau introspeksi diri. Muhasabah adalah solusi tepat untuk menyadari dan merenugi segala perbuatan yang telah dilakukan sehingga kita dapat mengukur keberhasilan dan kekurangannya. Mari kita kembali koreksi dari hal yang mudah, makanakan. Makanan yang kita konsumsi setiap hari, jangan-jangan ada yang perlu kita review atau kaji ulang, apa yang telah masuk ke dalam mulut dan perut kita.

 Abu Said Al-Khudri, menyampaikan kisah, bahwa suatu hari Rasulullah SAW naik ke mimbar, lalu berkhotbah,:

 “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian ialah keberkahan bumi yang Allah keluarkan untuk kalian.” Sebagaian sahabat kemudian bertanya,”Apakah keberkahan bumi itu?” Rasulullah menjawab,”Perhiasan kehidupan dunia.”

Selanjutnya, seorang sahabat bertanya lagi,”Apakah kebaikan (perhiasan dunia) itu dapat mendatangkan kejelekan?”

Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah saw menjadi terdiam, sampai-sampai kami mengira bahwa beliau sedang menerima wahyu. Selanjutnya beliau menyeka peluh dari dahinya, lalu bersabda, “manakah yang tanya tadi?” sahabat yang tanya menyahut, “Inilah saya”.

Kemudian Rasulullah saw bersabda kepadanya,”

Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda itu tampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musim semi menyebabkan binatang kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda itu terasa manis, barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barangsiapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikaan binatang yang makan rerumputan akan tetapi tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya iapun celaka karenanya). (HR muttafaq Alaih)

Demikianlah pentingnya makanan halal yang kita konsumsi, makanan halal akan membersihkan dan melembutkan hati, membentuk tubuh menjadi sehat dan kuat. Makanan halal dapat menjadi sumber energi untuk kebaikan, mengerjakan amal sholih, amal yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

 #Halal itu sehat

#Halal energi untuk kebaikan

#Halal untuk semua

 

 

Hadi Suslo,

Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)-Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Alhamdulilah puasa di Bulan Ramadhan sudah kita laksanakan, semoga amal ibadah dan puasa kita mendapatkan ridho Allah SWT. Kami mengucapkan Selamat Iduhl Fitri, semoga kita dapat meningkatkan amal ibadah di bulan Syawal ini.

Islam adalah agama yang sempurna, agama yang sangat memperhatikan semua urusan  umatnya baik di dunia maupun di akherat. Perintah puasa Ramadhan disampaikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 183,”

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagiamana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Ibn Abbas mendefinisikan takwa sebagai "takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya".

 Musa bin A’yun berkata: Orang-orang yang bertakwa membersihkan diri dengan hal-hal yang halal karena takut jatuh pada hal-hal yang haram,  maka Allah menyebut mereka muttaqin. Ramadhan adalah masa kasih sayang Allah pada hambanya,  Ramadhan mendidik kita untuk membersihkan jiwa raga dan harta.

Membersihkan jiwa karena Ramadhan menghantar kita kepada taqwa, la’allakum tattaqun (supaya kamu bertaqwa), sebaik-baik jiwa adalah jiwa yang bertaqwa. Membersihkan raga karena puasa bermanfaat untuk mengembalikan asupan melancarkan metabolisme dan menyehatkan kerja organ dalam tubuh kita, Sumu tasihhu (puasalah agar kalian sehat). Membersihkan harta karena sesungguhnya Ramadhan saat yang baik untuk berinfaq dan berzakat, khuz min amwalihim shadaqotan tutahhiruhum watuzakkihim biha,  ambillah dari mereka zakat yang membersihkan dan menyucikan mereka (QS. At Taubah : 103). Ramadhan menjadikan harta, raga, dan jiwa kita kembali suci, kembali fitri. Inilah yang perlu kitarawat dan  jaga.

Bagaimana cara menjaga kesucian badan kita ?

Sebagai makhluk hidup tentu tidak lepas dengan makanan, makanan adalah sebagai sumber energi, dengan adanya makanan, proses metabolisme dalam tubuh dapat berjalan. Badan atau raga kita yang sudah kembali suci, harus kita jaga dan pelihara. Mulailah dengan makan makanan yang halal.

Ibnu Katsir menjelakaskan, makanan yang halal adalah makanan yang baik yang dihalalkan oleh Allah, sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang tidak membahayakan tubuh dan akal. Sebagai muslim, tentu makanan bukan sekedar sumber energi,  makan adalah termasuk rangkaian ibadah kepada Allah, seperti yang diperintahkan kepada manusia. Perintah mengkonsumsi makanan halal, ditujukan untuk seluruh manusia, sebagaiman  dalam Firman Allah, :

 “Wahai sekalain manusia makanlah sebagaian dari makanan yang ada di bumi ini, yang halal dan baik dan janganlah kamu menuruti jejak langkah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh kamu yang nyata. (QS: Al-Baqarah:168), demikian juga Allah berfirman, “ Dan Allah telah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS Al A’raf :157).

 Mari kita jadikan bulan Syawal, setelah kita kembali suci sebagai pembuka dan penghantar halaman pertama dari rangkaian amal ibadah yang lebih baik, inilah tugas kita sejak saat ini, detik ini, hingga akhir hayat. Semoga Allah memanjangkan umur, memberikan kekuatan dan kesehatan kita dengan memulai makan makanan halal, aamin.

 

Halal itu pilihan

Halal adalah kebutuhan

Halal untuk semua

 

Hadi Susilo,

Direktur Pusat kajian Produk halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

Halaman 1 dari 13
000508264
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
61
529
3216
8465
22023
508264
IP Anda: 54.92.148.165
21-07-2019 00:53

Flag Counter

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: