(PKPH, Cilegon)-Rasulullah SAW bersabda, :”Akan datang pada manusia  suatu masa, dimana motivasi (hidup) mereka adalah nafsu perut-perut mereka, kemuliaan mereka (diukur) dengan kesenangan (syahwat) mereka, orientasi mereka pada wanita-wanita mereka. Dan agama mereka adalah Dinar dan Dirham, mereka sejelek-jelek makhluk, dan bagi mereka tidak ada kesenangan (kebahagian) di sisi Allah,”(HR Ad-Dailami).

Setelah Libur Idhul Fitri usai, aktivitas kita mulai normal kembali. Kantor Pemerintah, Swasta, Lembaga Formal non Formal kembali melaksanakan rutinitasnya, menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Pejabat, Pegawai, Karyawan, Buruh, Petani, Pedagang, dan Nelayan mulai bekerja kembali, mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya, membiayai pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraanya.

Rezeki berasal dari kata razaqa, yang berarti memberi. Rezeki diterjemahkan sebagai pemberian, yaitu pemberian dari Allah swt kepada hambanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan halal, berarti boleh atau mubah. Jadi, rezeki yang halal adalah bagaimana kita mendapat apa yang kita makan, minum, pakai, dan semua kebutuhan kita melalui jalan atau cara yang diperbolehkan oleh Allah.  Mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan kita dilarang untuk memakan harta sesama dengan cara yang batil, Allah berfirman:

Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta sebagaian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil. (QS Al Baqarah[2]:188), Rasulullah saw juga bersabda,”Mencari rezeki dengan jalan halal adalah kewajiban diantara kewajiban yang ada (HR Ath Thabrani).

 Rasulullah saw menyebutkan, ada  satu dosa yang tidak dapat ditebus dengan shalat, istighfar, haji, dan amalan-amalan lainnya. Dosa itu hanya bisa ditebus dengan mencari harta yang halal. Rasulullah saw bersabda,”

Sesungguhnya diantara dosa-dosa, ada satu dosa yang tidak dapat dihapus oleh sholat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh haji dan tidak pula oleh umrah.” Para sahabat kemudian bertanya, “lantas apa yang bisa menghapuskannya, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “keprihatinan dalam mencari rezeki.

Mata pencaharian atau pekerjaan yang halal merupakan sumber rezeki yang harus diusahakan, ini adalah sumber keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Jadikanlah rezeki yang halal dan berkah menjadi target usaha kita, dan jangan mudah tergiur dengan jumlah yang banyak namun tidak mendapat ridha dan barokah dari Allah swt.

Bagaimana kalau susah mendapatkan yang Halal ?

            Seringkali, kita sudah berusaha dengan keras, banting tulang mencari yang halal, namun ternyata hasil yang didapat masih belum mencukupi kebutuhannya, dan tak jarang juga dalam kondisi “kepepet”, seperti ini dan seiring lemahnya iman, akhirnya mengikuti langkah langkah syaitan, yang diharamkan oleh Allah dan Rasulullah, seraya berkata,” mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Inilah ujian!, ketidaksabaran seseorang atas ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskan manusia ke dalam murka Allah. Hari ini semakin nyata sinyalemen yang disampaikan Rasulullah SAW, setiap hari kita jumpai sepak terjang dan hiruk pikuk manusia pemuja perut, budak nafsu syahwat, korupsi menyebar dimana-mana dan tanpa malu-malu. Mereka hanya mengejar kesenangan dan kepuasan, walaupun semuanya itu tidak pernah akan tercapai, kecuali dengan sabar dan bersyukur kepada Allah SWT.

            Allah selalu menyayangi dan mengasihi umatnya, serta mengingatkan, Allah berfirman,” Hai sekalain manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan, karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. (QS Al Baqarah[2]: 168).

 Setan memang selalu menakut-nakuti manusia dengan kefakiran dan membisikkan agar manusia berbuat dosa. Allah berfirman,:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti)  kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS AlBaqarah [2]: 268).

 Janganlah merasa disempitkan rezekinya dan jangan berprasangka buruk kepada Allah, atau merasa terlambat datangnya rezeki, ketika rezeki yang didapatkan sedikit. Rasulullah saw bersabda,” Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu terlambat datangnya. Sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati hingga telah datang kepada rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram (HR Abdurrazaq, Ibn Hibban, dan Al Hakim, di shahihkan oleh Al-Albani).

            Dengan memahami dan melaksanakan apa yang diteladankan Raulullah SAW, niscaya kita tidak pernah risau, gundah, atau tekanan batin karena memikirkan rezeki atau penghasilan. Allah Maha Pengatur, selalu Maha Pengasih dan Penyayang.

 

Halal itu nikmat

Halal itu berkah

Halal untuk kita semua

 

Hadi Susilo

Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)-Allah SWT selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya, meskipun kadangkala sang hamba mengeluh dan tidak mau menerima pemberianNya, karena tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Orang beriman tentunya harus memiliki sifat qanaah, yakni perasaan cukup dengan pemberian Allah, meskipun kadang hanya menerima sedikit atau kurang.

Qanaah akan menjadikan seorang hamba senantiasa merasa kaya, walaupun berpenghasilan sedikit ataupun banyak. Hatinya selalu ridha dengan pemberian dari  Allah SWT, sehingga melahirkan perasaan senang, tenang, dan mulia, Allah berfirman,:

 “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS: Al Mukminun [23]:51).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,” Wahai manusia, sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik,dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul.

Musthafa Al-Maraghi menjelaskan, Allah SWT memerintahkan bukan hanya kepada para RasulNya, namun juga untuk seluruh umat Islam, untuk makan makanan halal dan beramal shalih; dua perintah yang disandingkan ini mengisyaratkan bahwa, makanan halal adalah sebagai sumber energi untuk ibadah, kebaikan dan amal shalih, amal kebaikan yang diteladankan  oleh Rasulullah SAW. Makanan halal melahirkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Salah satu kebahagian di dunia, adalah sebagai sumber energi atau tenaga untuk berbuat baik dan  amal shalih.

Silaturahmi HA IPB-Gubernur Banten

 

Kenapa kita malas dan berat untuk berbuat baik ?

Makanan berfungsi sebagai: sumber energi, perbaikan sel yang rusak, dan pertumbuhan sel tubuh. Energi digunakan untuk melakukan metabolisme tubuh, sehingga tubuh dapat melakukan aktivitas dan rutinitas sehari hari, seperti: bekerja, belanja, jalan-jalan, pengajian, dan lain sebagainya.

 Ibnu Katsir menjelakaskan, makanan yang halal adalah makanan yang baik yang dihalalkan oleh Allah, sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang tidak membahayakan tubuh dan akal. Dekan makanan halal, hati akan menjadi bersih, dengan hati bersih inilah akan tercermin sikap, ucapan, dan tindakan yang baik. Sebagai Muslim,  tugas kita adalah beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintahNya, dan menjauhi segala laranganNya.

 Mengapa kita malas dan merasa berat untuk berbuat baik?.  Saatnya Muhasabah atau introspeksi diri. Muhasabah adalah solusi tepat untuk menyadari dan merenugi segala perbuatan yang telah dilakukan sehingga kita dapat mengukur keberhasilan dan kekurangannya. Mari kita kembali koreksi dari hal yang mudah, makanakan. Makanan yang kita konsumsi setiap hari, jangan-jangan ada yang perlu kita review atau kaji ulang, apa yang telah masuk ke dalam mulut dan perut kita.

 Abu Said Al-Khudri, menyampaikan kisah, bahwa suatu hari Rasulullah SAW naik ke mimbar, lalu berkhotbah,:

 “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian ialah keberkahan bumi yang Allah keluarkan untuk kalian.” Sebagaian sahabat kemudian bertanya,”Apakah keberkahan bumi itu?” Rasulullah menjawab,”Perhiasan kehidupan dunia.”

Selanjutnya, seorang sahabat bertanya lagi,”Apakah kebaikan (perhiasan dunia) itu dapat mendatangkan kejelekan?”

Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah saw menjadi terdiam, sampai-sampai kami mengira bahwa beliau sedang menerima wahyu. Selanjutnya beliau menyeka peluh dari dahinya, lalu bersabda, “manakah yang tanya tadi?” sahabat yang tanya menyahut, “Inilah saya”.

Kemudian Rasulullah saw bersabda kepadanya,”

Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda itu tampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musim semi menyebabkan binatang kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda itu terasa manis, barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barangsiapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikaan binatang yang makan rerumputan akan tetapi tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya iapun celaka karenanya). (HR muttafaq Alaih)

Demikianlah pentingnya makanan halal yang kita konsumsi, makanan halal akan membersihkan dan melembutkan hati, membentuk tubuh menjadi sehat dan kuat. Makanan halal dapat menjadi sumber energi untuk kebaikan, mengerjakan amal sholih, amal yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

 #Halal itu sehat

#Halal energi untuk kebaikan

#Halal untuk semua

 

 

Hadi Suslo,

Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)-Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Alhamdulilah puasa di Bulan Ramadhan sudah kita laksanakan, semoga amal ibadah dan puasa kita mendapatkan ridho Allah SWT. Kami mengucapkan Selamat Iduhl Fitri, semoga kita dapat meningkatkan amal ibadah di bulan Syawal ini.

Islam adalah agama yang sempurna, agama yang sangat memperhatikan semua urusan  umatnya baik di dunia maupun di akherat. Perintah puasa Ramadhan disampaikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 183,”

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagiamana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Ibn Abbas mendefinisikan takwa sebagai "takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya".

 Musa bin A’yun berkata: Orang-orang yang bertakwa membersihkan diri dengan hal-hal yang halal karena takut jatuh pada hal-hal yang haram,  maka Allah menyebut mereka muttaqin. Ramadhan adalah masa kasih sayang Allah pada hambanya,  Ramadhan mendidik kita untuk membersihkan jiwa raga dan harta.

Membersihkan jiwa karena Ramadhan menghantar kita kepada taqwa, la’allakum tattaqun (supaya kamu bertaqwa), sebaik-baik jiwa adalah jiwa yang bertaqwa. Membersihkan raga karena puasa bermanfaat untuk mengembalikan asupan melancarkan metabolisme dan menyehatkan kerja organ dalam tubuh kita, Sumu tasihhu (puasalah agar kalian sehat). Membersihkan harta karena sesungguhnya Ramadhan saat yang baik untuk berinfaq dan berzakat, khuz min amwalihim shadaqotan tutahhiruhum watuzakkihim biha,  ambillah dari mereka zakat yang membersihkan dan menyucikan mereka (QS. At Taubah : 103). Ramadhan menjadikan harta, raga, dan jiwa kita kembali suci, kembali fitri. Inilah yang perlu kitarawat dan  jaga.

Bagaimana cara menjaga kesucian badan kita ?

Sebagai makhluk hidup tentu tidak lepas dengan makanan, makanan adalah sebagai sumber energi, dengan adanya makanan, proses metabolisme dalam tubuh dapat berjalan. Badan atau raga kita yang sudah kembali suci, harus kita jaga dan pelihara. Mulailah dengan makan makanan yang halal.

Ibnu Katsir menjelakaskan, makanan yang halal adalah makanan yang baik yang dihalalkan oleh Allah, sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang tidak membahayakan tubuh dan akal. Sebagai muslim, tentu makanan bukan sekedar sumber energi,  makan adalah termasuk rangkaian ibadah kepada Allah, seperti yang diperintahkan kepada manusia. Perintah mengkonsumsi makanan halal, ditujukan untuk seluruh manusia, sebagaiman  dalam Firman Allah, :

 “Wahai sekalain manusia makanlah sebagaian dari makanan yang ada di bumi ini, yang halal dan baik dan janganlah kamu menuruti jejak langkah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh kamu yang nyata. (QS: Al-Baqarah:168), demikian juga Allah berfirman, “ Dan Allah telah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS Al A’raf :157).

 Mari kita jadikan bulan Syawal, setelah kita kembali suci sebagai pembuka dan penghantar halaman pertama dari rangkaian amal ibadah yang lebih baik, inilah tugas kita sejak saat ini, detik ini, hingga akhir hayat. Semoga Allah memanjangkan umur, memberikan kekuatan dan kesehatan kita dengan memulai makan makanan halal, aamin.

 

Halal itu pilihan

Halal adalah kebutuhan

Halal untuk semua

 

Hadi Susilo,

Direktur Pusat kajian Produk halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)- Ilmu pengetahuan dan teknologi pembuatan bahan  atau produk pangan telah dan terus berkembang, hal ini berdampak juga pada status kehalalan bahan dan produk pangan yang dihasilkan. Pelaku usaha atau industri menggunakan bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penunjang untuk menghasilkan produk yang  mengundang selera dengan mengubah tekstur, rasa, dan warna. Hal inilah yang sebagaian besar masyarakat tidak tahu status kehalalan bahan dan proses produksinya. Inilah yang termasuk dalam perkara samar (syubhat).

Produk halal dan baik adalah untuk semua manusia, dengan mengkonsumsinya manusia akan sehat jasmani, akal, dan rohaninya. Berikut adalah tips untuk  memilih bahan dan produk pangan halal:

  1. Produk Pangan Kemasan

Pilihlah produk kemasan, dan lihat label/logo Halal dari Lembaga Sertifikasi Halal di Indonesia atau Lembaga Sertifikasi Halal Luar Negeri yang telah bekerjasama. Saat ini sertifikasi halal di Indonesia masih dikeluarkan oleh LPPOM MUI.

  1. Produk Pangan NonKemasan

Produk pangan nonkemasan, misalnya daging, periksalah sertifikat halal dari Lembaga Sertifikasi Halal di Indonesia atau Lembaga Sertifikasi Halal di negara pengekspor daging tersebut. (untuk importir daging, periksalah nama negara tujuan pengiriman daging tersebut, jika bukan dikirim ke Indonesia, maka jangan dibeli).

  1. Produk Pangan di Restauran, gerai, warung, dan kedai

Produk-produk tersebut lihatlah Sertifikat Halalnya (Lihat juga tanggal kedaluwarsanya di sertifikat halal tersebut, serta jenis-jenis makanan yang disertifikasi. Jika masa berlaku sudah kedaluwarsa, maka konsumen jangan makan dan minum atau membeli. Demikian juga, bila tidak terlihat jenis makanan/minuman yang tertulis di sertifikat halal tersebut. Jangan dibeli/dikonsumsi.

  1. Kuas dari bulu hewan

 Pilih kuas yang bertuliskan asal bulu kuas, misalnya: kuas berus kambing (goat hair/pool pastry), jangan pilih yang bertuliskan kuas dari bulu babi (Hog bristle), atau kuas yang tidak jelas asalnya.

  1. Hindari Peralatan Makan yang tidak halal

Sekarang banyak beredar peralatan makan, seperti: mangkok, piring, gelas, cangkir yang ada tulisan: Fine bone, super bone, atau mild bone. Bahan ini banyak menggunakan tulang babi dalam proses produksinya. Perlu dikaji kehalalannya.

  1. Periksa Komposisi Bahan Pangan

Apabila status kehalalan produk pangan belum jelas, periksalah komposisi produk pangan tersebut. Lihat komposisi bahan bahan yang dipergunakan dalam membuat produk pangan tersebut.

Itulah tips memlih bahan dan produk pangan halal, dengan bentuk kehati-hatian itulah semua makanan yang dikonsumsi akan halal dan baik, sehingga jasmani dan rohani akan sehat. Kehati-hatian adalah wujud ketakwaan makhluk kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

 

Sumber: Buku Saku Produk Halal

(PKPH, Cilegon)–Allah  memegang seluruh urusan dan mengatur rizki semua makhlukNya, Allah Yang Maha Mengetahui seluruh rahasia alam semesta, telah menetapkan apa-apa yang halal dan baik bagi manusia untuk dimakan. Semua makanan yang halal dan baik merupakan makanan pilihan dengan kualitas super yang dapat menyehatkan jasmani dan rohani, dan pasti tidak membahayakan untuk seluruh manusia, baik Muslim atau Non Muslim, Sebaliknya dengan makanan yang haram, pasti membahayakan jasmani dan rohani.

Syaitan akan selalu menggoda dan menyesatkan manusia dari syariat yang ditetapkan Allah dengan mengharamkan yang halal, dan menghalalkan yang haram. Sayyidina Ali meriwayatkan, bahwa Rasululah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang hidup dari makanan yang serba halal, cerahlah agamanya, lembutlah hatinya dan tidak ada dinding penghalang bagi doanya. Dan barang siapa yang makan dari makanan yang subhat, samarlah agamanya dan gelaplah hatinya. Dan barang siapa yang makan dari makanan yang haram, matilah hatinya, ringanlah agamanya, lemahlah keyakinannya dan Allah menutup doanya, serta sedikitlah ibadahnya. (Al Hadist)

Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram(baik dzat maupun hukumnya), maka api neraka lebih berhak atasnya.(HR Tirmidzi)

Setiap makanan atau minuman akan diproses melalui metabolisme dalam tubuh untuk: sumber energi, pertahanan tubuh, dan pertumbuhan sel. Dengan makanan yang haram tentunya akan menghasilkan sel yang haram, Sel yang haram ini akan tumbuh menjadi otot atau daging yang haram. Daging yang haram inilah yang akan menjadi salah satu bahan api neraka.

Marilah, di bulan suci Ramadhan, saatnya kita introspeksi diri, saatnya muhasabah diri, jika hati kita sulit untuk khusyu’ dalam ibadah, atau jika terasa berat hati untuk memenuhi seruan kebaikan, dan jihad fi sabilillah, atau lebih ada kecenderungan hati kepada maksiat dan kemungkaran, mungkin hal ini bisa terjadi karena apa yang kita makan dan minum atau yang kita pakai ada yang tercampur dengan yang diharamkan Allah. Makanan halal akan melembutkan hati,  hati  menjadi bersih dan peka untuk menerima kebenaran yang telah ditetapkan Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

 

Hadi Susilo

Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH)

Universitas  Mathla’ul Anwar  Banten

(PKPH, Cilegon) - Salah satu binatang yang secara jelas dinyatakan haram dalam Islam adalah babi. Semua bagian dari babi, banyak dipakai dan dimanfaatkan,  mulai dari: daging, kulit, tulang, darah, organ dalam, baik dalam keadaan daging segar maupun produk turunanya. Babi dan produk turunannya  banyak dipakai dalam industri makanan dan minuman, yang bisa jadi kita tidak tahu dalam penggunaannya.

Islam mengharamkan babi, hal ini ditulis dalam Al Qur’an,  Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha  Penyayang".(QS Al Baqarah:173.


Allah telah menggariskan hukum  yang harus dipatuhi oleh manusia, dan hal ini tanpa diketahui oleh manusia mengapa Allah mengharamkannya. Seperti halnya diharamkannya  babi. Banyak orang yang beranggapan diharamkannya babi berhubungan erat dengan masalah kesehatan, karena kebiasaan babi yang selalu hidup ditempat yang jorok dan cara pembudidayaan yang tidak higinies. Seringkali babi juga dihubungkan dengan cacing pita karena babi lebih sering berada ditempat yang kotor. Daging babi bisa menjadi sumber penyakit.

Syaikh Muhammad Abduh saat mengunjungi Perancis, beberapa mahasiswa menanyakan tentang alasan Islam mengharamkan babi. Mahasiswa tersebut menyampaikan bahwa di peternakan babi yang modern, kebersihan terjamin, proses sterilisasi sangat memadai, sehingga babi tidak akan terjangkit oleh cacing pita atau bakteri berbahaya.

Muhammad Abduh tidak langsung menjawab, tetapi meminta didatangkan dua ekor ayam jantan dan satu ekor ayam betina, serta dua ekor babi jantan dan satu ekor babi betina. Mahasiswa bertanya, untuk apa semua ini? Penuhi Apa yang saya minta,“jawabnya. Mereka memenuhi permintaan Muhammad Abduh, kemudian beliau mengurung dua ekor jantan dalam satu kandang dan keduanya saling bertarung untuk mendapatkan ayam betina.

Setelah itu beliau melepaskan dua ekor babi jantan dengan satu ekor babi betina. Kali ini keanehan yang mereka saksikan. Tidak ada perkelahian untuk memperebutkan babi betina. Tanpa rasa cemburu dan harga diri, babi jantan yang satu justru membantu babi jantan lainnya melaksanakan hajat birahi seksualnya. Inilah salah satu sifat babi yang akan menular pada pemakannya.

Seorang laki-laki pemakan babi akan membiarkan istrinya bersama laki-laki lain tanpa cemburu. Seorang ayah akan membiarkan anak perempuannya pergi bersama laki-laki yang bukan muhrimnya tanpa rasa khawatir dan was-was. Itulah  perilaku babi, semoga rahasia Allah perlahan akan terbuka. Namun apabila kita sebagai manusia yang memiliki kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan ternyata tidak juga mampu menguak rahasia Allah, siapa tahu Allah  hanya menguji keteguhan iman kita sebagai khalifah dimuka bumi untuk mematuhi setiap larangan-Nya.

 

Hadi Susilo

Prodi Biologi Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon) -Tak terasa dan wajib disyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt, hari ini kita memasuki puasa di hari pertama di tahun 1440 H. Pemerintah telah menetapkan awal ibadah puasa bulan Ramadhan jatuh pada tanggal 6 Mei 2019. Puasa (As-Shaum) menurut bahasa adalah al-imsak (menahan), secara syariat didefinisikan dengan menahan diri dari makan, minum, menggauli istri, dan seluruh perkara yang dapat membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat beribadah kepada Allah Swt.

Allah mewajibkan ibadah puasa kepada umat Rasulullah Muhammad saw, ibadah puasa ini juga diwajibkan kepada umat umat sebelumnya, tujuan diperintahkan berpuasa ini adalah agar bertakwa kepada Allah, hal ini disebutkan dalam Al Quran, Allah berfirman:

Hai orang-orang berfirman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa [Al Baqarah (2): 183].

Puasa akan melatih, mendidik, dan menguatkan mental untuk bersabar, mengajarkan dan membantu jiwa agar terbiasa mengendalikan diri, dan menumbuhkan, merawat kekuatan takwa.

 

Keutamaan Puasa

Rasulullah saw menjelaskan tentang keutamaan orang yang berpuasa, dalam beberapa hadisnya, yaitu:

  1. Puasa sebagai perisai dari api neraka

          Puasa itu perisai dari api neraka, sebagaimana perisai yang melindungi salah seorang dari kalian dari pembunuhan di medan perang (HR Ahmad).

  1. Menjauhkan dari api neraka

          Barangsiapa berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 musim (HR Muttafaq ‘alaih).

  1. Doanya tidak tertolak

          Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka doanya tidak akan tertolak (HR Ibnu Majah).

  1. Masuk Surga melalui pintu Ar-Rayyan

        Sesungguhnya di surga ada pintu yang bernama Ar-Rayan. Kelak pada hari kiamat nanti orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melaluinya dan tak seorangpun selain mereka yang diizinkan melaluinya. Ketika dikatakan, “ mana orang-orang yang berpuasa?” Kemudian mereka bangkit, yang tak seorangpun selain mereka yang melaluinya. Ketika mereka telah masuk, seketika pintu tersebut ditutup, karena itulah tidak seorang pun selain mereka dapat memasukinya (HR Muttafaqu ‘Alaih).

Marilah di bulan suci, bulan Ramadhan ini kita laksanakan perintah Allah dengan menjalankan ibadah puasa dengan mengikuti contoh kepada Rasulullah saw, semoga ibadah kita ini akan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dan akan mendapatkan ridhoNya.

 

Hadi Susilo

Staf Pengajar Prodi Biologi

Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

(PKPH, JAKARTA) -- Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch Ikhsan Abdullah mengingatkan pemerintah untuk terus mendorong pertumbuhan industri halal. Termasuk rekayasa teknologi dan barang gunaan melalui integrasi produk halal dalam sisten keuangan syariah.“Perbankan syariah wajib membiayai sektor UMKM dan industri halal, sehingga UMKM tumbuh bersama perbankan syariah. Di sinilah perlu diciptakan skema pembiayaan yang memperkuat relasi antara kedua gerbong,” tutur Ikhsan dalam siaran persnya, Jumat (2/11).

Pemerintah, ia melanjutkan harus memberikan dukungan penuh. "Saatnya bangsa Indonesia memimpin, tidak terus menjadi pasar besar bagi perdagangan internasional,” kata dia. Masalahnya, Ikhsan mengingatkan, industri halal Indonesia masih tertinggal dari Mayalsia, Singapura, Thailand, Korea, bahkan Taiwan. Musababnya, pelaku usaha di Tanah Air belum menjadikan produk halal sebagai peluang.

Padahal, kata Ikhsan, produk halal sejalan dengan gaya hidup modern dan milienial. Bahkan sedang menjadi tren global, seperti halal food, halal fashion, halal finance, halal tourism, plus halal media. “Negara tetangga sudah mengambil benefit, sementara kita masih meributkan peralihan penyelenggara jaminan produk halal,” ungkap Ikhsan.

Alhasil, Ikhsan mengingatkan, pemerintah harus segera mengamandemen Pasal 65 UU JPH. Dalam Pasal 65 UU JPH, pemerintah diwajibkan untuk mengeluarkan peraturan pemerintah sejak dua tahun ditetapkannya UU JPH. “Semestinya peraturan pemerintah diterbitkan dulu sebagai peraturan pelaksana UU JPH, ini sesuai dengan ketentuan Pasal 63, 64, dan 67 UU JPH,” kata Ikhsan. Sebelum menerbitkan pemerintah pemerintah sebagai peraturan pelaksana, jelas Ikhsan, pemerintah wajib menyampaikan usulan amandemen terhadap pasal 65.

“Jika PP diterbitkan tanpa mengamandemen pasal 65, maka pemerintah bisa dianggap melanggar ketentuan UU JPH karena menerbitkan PP yang sudah lewat waktu,” ungkapnya.

 

 Sumber:  Republika
 
 

(PKPH, LONDON) -- Seperempat orang muda di Inggris, yang berusia 16 sampai 24 tahun, menggolongkan diri mereka sebagai bukan peminum alkohol. Hal ini berdasarkan penelitian University College London, Rabu(10/10). Disebutkan tidak minum alkohol makin menjadi kecenderungan di kalangan generasi muda, dan makin banyak pemuda yang berusia 16 sampai 24 tahun di Inggris benar-benar menghindari alkohol. Para peneliti mengatakan kondisi itu memperlihatkan bahwa norma seputar konsumsi alkohol tampaknya berubah.

Dr. Linda Ng Fat, penulis utama studi itu, mengatakan, "Peningkatan dikalangan generasi muda yang tidak minum alkohol didapati di seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah utara atau selatan Inggris, di kalangan warga kulit puti, mereka yang mengenyam pendidikan penuh, yang bekerja dan di seluruh kelas sosial serta kelompok yang lebih sehat."

Wanita peneliti tersebut mengatakan peningkatan jumlah non-peminum alkohol didapati di seluruh banyak kelompok yang berbeda mungkin makin menjadi arus utama di kalangan generasi muda. Kecenderungan itu diduga disebabkan oleh banyak faktor budaya.

"Peningkatan di kalangan generasi muda yang memilih untuk tidak minum alkohol menunjukkan prilaku ini mungkin menjadi makin dapat diterima, sementara prilaku berbahaya seperti minum dalam jumlah banyak menjadi kurang normal," tambah Ng Fat, ahli akademi terkenal mengenai kecenderungan konsumsi alkohol di kalangan generasi muda. Penelitian itu, yang diterbitkan di jurnal medis BMC Public Health, mendapati lebih dari 25 persen pemuda sekarang menggolongkan diri mereka sebagai "bukan peminum".

Data dari survei tahunan kesehatan dari Inggris yang diteliti oleh para peneliti mendapati bagian pemuda yang berusia 16-24 tahun yang tidak mengkonsumsi alkohol telah naik selama masa 10 tahun dari 18 persen jadi 29 persen.Pada 2005, jumlah itu memperlihatkan bahwa 43 persen pemuda mengakhi mereka mengkonsumsi alkohol lebih dari batas yang disarankan, tapi 10 tahun kemudian jumlah tersebut telah turun jadi 28 persen.

Tapi studi itu atas 10.000 pemuda juga mendapati bahwa peningkatan jumlah orang yang tidak minum alkohol tak terlihat di kalangan perokok, etnik minoritas dan orang dengan kesehatan mental buruk.

 

Sumber: Republika

 
 

(PKPH, JAKARTA) -- Kebiasaan minum alkohol kini benar-benar dikecam. Dua studi terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan minum dalam jumlah sedang pun dapat meningkatkan risiko kematian dini. Penelitian terbaru yang dipublikasikan Rabu di jurnal Alcoholism: Clinical & Experimental Research, menemukan bahwa minum ringan sebanyak empat kali atau lebih per minggu dapat meningkatkan risiko kematian dini. Meskipun kadar minum itu sesuai dengan pedoman federal, seperti dilansir Time, yang dikutip Jumat (5/10).

Istilah ringan ini merujuk pada definisi para peneliti, yakni minum alkohol atau dua kali. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan agensi federal lainnya merekomendasikan minum alkohol tidak lebih dari satu kali per hari untuk perempuan atau dua untuk lelaki. Para peminum yang menenggak alkohol empat kali atau lebih memiliki risiko meninggal sekitar 20 persen lebih tinggi selama periode penelitian dibandingkan dengan mereka yang minum alkohol tiga kali atau kurang per minggu, demikian temuan penelitian.

 "Pengurangan sepertinya tidak memperbolehkan kita minum lebih dari tiga kali seminggu. Frekuensi minum itu memang penting, sama halnya dengan minum obat. Jika Anda minum obat seminggu sekali, itu memengaruhi Anda secara berbeda dibandingkan jika Anda minum obat setiap hari," kata rekan penulis Dr. Sarah Hartz, lektor psikiatri di Washington University School of Medicine di St. Louis.

Senada dengan tinjauan alkohol yang dipublikasikan di The Lancet pada Agustus. Karya tulis ilmiah Hartz menyebutkan tidak ada tingkat minum yang benar-benar aman sebab terdapat risiko masalah kesehatan, mulai dari tabrakan kendaraan hingga kanker. Untuk penelitian ini, Hartz dan rekan-rekannya mengambil data dari National Health Interview Survey (NHIS), serta catatan medis dari pasien Veterans Health Administration (VHA). Dalam kelompok NHIS, minum satu atau dua gelas sekitar tiga kali per minggu dikaitkan dengan risiko kematian terendah secara keseluruhan - bahkan dibandingkan dengan mereka yang minum kurang dari itu.

Namun di luar itu, setiap pertambahan gelas dihubungkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi, temuan para peneliti. Tren serupa diamati pada kelompok VHA. Risiko individu yang terkait dengan minum alkohol ini bervariasi. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan beberapa manfaat kesehatan jantung yang terkait dengan minum ringan, tetapi risiko kanker yang lebih tinggi terkait dengan hampir semua jumlah konsumsi alkohol - keduanya konsisten dengan penelitian sebelumnya tentang minum. Berdasarkan analisis biaya-manfaat, seorang dokter kemungkinan akan memiliki rekomendasi yang berbeda untuk pasien dengan riwayat keluarga penyakit jantung versus kanker.

 

 Sumber: Antara

 

 

 

 
 
 
Halaman 1 dari 2
000508199
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
525
482
3151
8400
22023
508199
IP Anda: 54.92.148.165
20-07-2019 23:53

Flag Counter

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: