(PKPH, Pandeglang)-- Halal saat ini menjadi salah satu peluang bisnis yang prospeknya mulai dilirik para pengusaha.  Berdasarkan data dari Global Islamic Economic Report, potensi industri halal dunia tercatat mencapai USD 2 miliar pada 2016, dan diproyeksikan pada 2022 akan bertambah menjadi USD 3.1 milyar. Pada acara pembukaan Indonesia Halal Lifestyle Expo yang diselenggarakan 3 Oktober 2018, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, menyatakan bahwa pesatnya jumlah umat muslim dunia menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri hulu hingga hilir untuk ekonomi berkelanjutan. Industri halal yang dapat dikembangkan di Indonesia, melalui sektor: kuliner, fashion, pariwisata hingga keuangan.

Hal ini tentu menggembirakan bagi berbagai pihak, terutama umat Islam.  Dari sisi pengusaha muslim, tentu peluang besar ini menjadi berkah tersendiri, mereka tetap dapat mengembangkan bisnisnya dalam koridor syariat Islam. Dari sisi konsumen, umat muslim akan mendapatkan kemudahan dalam mencari berbagai produk dan jasa yang tidak menyalahi aqidahnya. 

Perkembangan halal lifestyle ini tentu perlu diapresiasi, namun sebagai seorang muslim selayaknya perkembangan baik tersebut tidak hanya dilihat dari sisi keuntungan dan kemudahannya. Namun sejatinya hanyalah bonus dari dijalankannya syariat Islam sebagai bentuk ketakwaan seorang muslim. Kita perlu meluruskan niat agar berkembangnya gaya hidup halal tidak hanya membawa keuntungan dunia tapi juga akhirat. 

Luruskan Niat

Niat adalah perkara yang sangat penting dalam beramal bagi setiap muslim. Berkaitan dengan niat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan”. (HR Bukhari & Muslim).  Karena itu jika halal lifestyle yang berkembang saat ini hanya diniatkan untuk mendapatkan berbagai keuntungan dunia tentu sangat disayangkan, karena hanya memberikan keuntungan dunia sedang akhirat tidak diperolehnya. 

Niat semata karena beribadah kepada Allah dalam menjalankan aktivitas bisnis halal harus menjadi yang pertama dan utama.  Tanpa niat karena Allah, aktiviatasa bisnis halal hanya bernilai nol dihadapanNya.  Geliat halal yang semakin lama semakin kuat, jika tidak dibarengi dengan niat yang benar hanya akan menjadi kegiatan yang mengejar keuntungan materi.  Pelakunya akan melakukan segala cara agar bisnisnya sukses meski melanggar syariat, padahal pada saat yang sama dia mengklaim telah melakukan aktivitas halal. 

Konsekuensi Keimanan

Sebagai seorang muslim, halal dan haram adalah standar dalam seluruh aktivitas.  Dia hanya akan memakan dan meminum makanan dan minuman yang halal serta melakukan perbuatan-perbuatan yang halal dan menghindari perbuatan-perbuatan yang haram.  Ini merupakan konsekuensi dari keimanannya terhadap Allah sebagaimana terdapat dalam firman-Nya,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

فَلاَ وَ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An Nisaa’: 65)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, maka seorang muslim harus senantiasa mengikuti aturan yang sudah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh urusan mereka.  Dengan kata lain, seorang muslim harus selalu menyesuaikan aktivitasnya dengan hukum-hukum syariat Islam.  Ketaatannya dalam mengikuti hukum syariat merupakan bukti keimanannya yang kokoh.

Hukum-hukum syariat Islam mencakup seluruh aspek, yakni aspek hablum minallah (hubungan dengan Allah), aspek hablum minafsi (hubungan dengan diri sendiri), dan aspek hablum minannas (hubungan dengan manusia).   Hukum-hukum syariat yang termasuk dalam aspek hubungan manusia dengan Allah adalah yang berkaitan dengan ibadah mahdhah seperti salat, puasa, zakat, dan haji.  Sedangkan aspek hubungan manusia dengan dirinya sendiri seperti pakaian, makanan dan minuman serta akhlak.  Aspek hubungan manusia dengan manusia mencakup hukum-hukum syariat tentang muamalah, sosial, politik, dan lain sebagainya.

Dasar Hukum Makanan dan Minuman Halal

Halal lifestyle berkembang bermula dari kasus lemak babi pada produk pangan tahun 1988.  Pada saat itu pemerintah meminta agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) berperan aktif dalam meredakan kasus lemak babi tersebut.  Hingga kemudian pada 6 Januari 1989 LPPOM MUI didirikan untuk melakukan pemeriksaan dan sertifikasi halal.  Pada tahun 2014 keluarlah Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH) No. 33 Tahun 2014.  Berdasarkan undang-undang ini, sertifikat halal merupakan keharusan bagi seluruh produk maupun jasa di Indonesia.  

Tentu perkembangan industri pangan halal saat ini tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran Kaum Muslimin untuk mengkonsumsi pangan halal sebagai konsekuensi keimanannya.  Berikut adalah dalil-dalil yang mewajibkan seorang muslim untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan melarang untuk mengkonsumsi pangan yang haram:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

 “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah: 168)

Dalam Surat Al Maidah ayat 3 dan Al Baqarah ayat 173 dijelaskan apa saja makanan yang diharamkan.

 حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ

 “Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, tercekik, yang dipukul, yang jatuh ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya….”.

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.”

Allah juga mengharamkan khamer dalam ayat berikut:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

 “Mereka  bertanya kepadamu tentang khamar dan judi, katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya ............”

Berdasarkan serangkaian ayat di atas, beberapa yang diharamkan adalah bangkai, darah, babi, binatang yang disembelih selain menyebut nama Allah, dan khamer atau minuman yang memabukkan. Selain yang dijelaskan dalam Al Quran, beberapa yang diharamkan adalah yang disebutkan dalam hadis-hadis berikut.

Nabi saw. melarang memakan binatang buas yang bertaring. (HR Muslim),  hadis  lain menyebutkan, Rasulullah saw. melarang makan daging keledai piaraan. (HR Muslim).

Termasuk yang diharamkan memakannya adalah hewan-hewan yang dilarang untuk membunuhnya dan hewan yang harus dibunuh. Rasulullah SAW melarang membunuh shurad, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah).

Nabi pernah bersabda “Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tanah biasa, yaitu : ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan burung rajawali” (H.R. Abu Daud) pada riwayat lain disebutkan juga burung gagak.

Penutup

Sebagai seorang muslim seluruh urusannya harus berpegang pada hukum-hukum syariat sebagai konsekuensi keimanannya.  Tren dunia tentang halal lifestyle bagi seorang muslim harus dimaksudkan sebagai bentuk ketakwaannya, bukan sekedar tren yang diikuti untuk mendapatkan keuntungan dunia.  Telah jelas mana saja yang dihalalkan dan mana saja yang diharamkan berdasarkan ayat-ayat Al Quan dan hadis.  Seyogyanya seorang muslim memperhatikan dan mentaatinya sebagai bentuk ketaatan dan ketundukannya pada Rab yang telah menciptakannya. Wallahu’alam bishowab.

 

Eko Yuniarsih

Ketua Bidang Pendidikan dan Pengelolaan Sumberdaya Manusia

Pusat Kajian Produk Halal Unma Banten

 

000508194
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
520
482
3146
8395
22023
508194
IP Anda: 54.92.148.165
20-07-2019 23:53

Flag Counter

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: