KabarSingkat

KabarSingkat (152)

(PKPH, Cilegon)-Dalam rangka mendorong pelaku usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Kota Cilegon, Rumah Kreatif BUMN Bank Mandiri menyelenggarakan kegiatan dengan tema “Pentingnya Sertifikat Halal  dan Barcode, di Cilegon pada Rabu (18/9). Kegiatan ini dihadiri lebih 35 UMKM yang berada di wilayah Cilegon dan Serang.

Manajer RKB Bank Mandiri, Astuti menyampaikan, UMKM yang siap masuk pasar modern diharapkan mempunyai Sertifikat halal dan Barcode dalam rangka meningkatkan pemasaran dan daya saing produk  UMKM.

Hadi Susilo, Direktur Pusat Kajian Produk Halal  (PKPH) Universitas Mathla’ul Anwar Banten memaparkan tentang Produk Halal, Peluang dan Tantangan. Saat ini tren industri halal meningkat di seluruh dunia, nilai transaksi pada tahun 2014 mencapai Rp. 1.522 Triliun dan diproyeksikan akan tumbuh 17 % CAGR menjadi Rp. 4.016 Triliun. Sudah saatnya UMKM untuk ambil bagian dari nilai transaksi tersebut, dan mempersiapkan diri menjelang diberlakukanya Wajib Sertifikasi Halal bulan Oktober mendatang, sesuai dengan amanah UU JPH No. 33 tahun 2014.

Narasumber GS1 Indonesia, Kumoro Wijanarko, menyampaikan GS1 Indonesia merupakan kepanjangan tangan dari GS1 Global Office, sebuah Badan Standarisasi Internasional yang berpusat di Brussel, Belgia, saat ini sudah mempunyai 112 Member Organisasi (MO) di seluruh dunia. Barcode diperuntukkan untuk identifikasi satuan produk, jasa, transport, aset, lokasi, dan lain-lainnya. Penggunaan barcode dapat membantu produk produk yang dihasilkan pelaku usaha dapat diterima oleh setiap Point of Scan, jelas Kumoro.

Denny, salah satu peserta UMKM dari Cilegon dengan produk Raja Dengdeng, menyampaikan terima kasihnya kepada RKB Bank Mandiri dan berharap kegiatan ini sering dilaksanakan dalam mendorong UMKM di Cilegon untuk lebih maju dan berdaya saing dengan produk dari luar Cilegon. UMKM Cilegon butuh dukungan dari semua pihak,dan siap untuk bersinergi, tegas Denny. (HS/02)

(PKPH, JAKARTA) —Fraksi PKS DPR protes keras atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 29 Tahun 2019 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan, yang menghapus keharusan label halal. Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini mengatakan aturan baru ini tidak benar. Permedag bertentangan dengan UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan produk peraturan lain, karena bisa dipahami melepas tanggung jawab negara terhadap kehalalan produk yang beredar di masyarakat. "Ini kemunduran luar biasa dengan semangat jaminan halal oleh negara,” kata Jazuli dalam siaran persnya Ahad (15/9).

Jazuli yang pernah memimpin Panja UU JPH ini, sangat menyesalkan keluarnya Permendag itu. Sebab,  Permendag yang lama (sebelum direvisi) jelas mencantumkan keharusan label halal tersebut. Lalu kenapa sekarang dihapus, apa Kemendag tidak paham konsekuensi dari aturannya atau segaja melabrak UU yang ada? Jangan pula Kemendag berdalih sudah diatur di peraturan lain, karena Kemendag dan aturannya adalah ujung tombak tata niaga produk di dalam negeri,” papar Jazuli.

Jika ada unsur kesengajaan atas nama kepentingan perdagangan, kata Jazuli, kebijakan ini jelas tidak sensitif terhadap konsumen Indonesia. Kebijakan ini bertolak belakang dengan undang-undang dan jaminan negara atas produk halal. "Kemendag seharusnya makin menegaskan aturan label halal bukan malah menghapusnya dari aturan karena Kemendag adalah ujung tombak tata niaga produk yang beredar di tanah air," tegas Jazuli.  sesegera mungkin Permendag Nomor 29/2019 itu dibatalkan atau direvisi.  Dasar revisi karena jelas bertentangan dengan undang-undang dan aturan lain yang lebih tinggi dan lebih kuat.

 "Batalkan sekarang juga, jangan sampai menimbulkan keresahan di masyarakat. Jangan sampai Permendag tersebut menjadi peluang mengalirnya produk yang tidak terjamin informasi kehalalannya. Ini jelas bertentangan dengan undang-undang jaminan produk halal dan berbagai peraturan lain," pungkas Jazuli.

 

Sumber: Republika.co.id
 

(PKPH, Pandeglang)-Rapat Kerja Nasional Penguru Besar Mathla’ul Anwar diselenggrakan di Menes, Pandeglang  tanggal 31 Agustus-1 September 2019. Rakernas dengan tema “Teguh Memberi Penerang Bagi Umat, dibuka secara resmi  oleh Sekda Propinsi Banten, Dr Al Muktabar.

Rakernas PB Mathla’ul  Anwar dihadiri oleh Pengurus Wilayah dari 23 Propinsi di Indonesia. Salah satu agenda kegiatan  Rakernas PB MA membahas tentang  peran umat dalam membangun industri halal di dunia, dengan narasumber dari Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Prof Ir Sukoso, MSc. PhD.

Didepan Peserta Rakernas, Sukoso menyampaikan mulai Oktober 2019 sertifikasi produk halal wajib, dan diselenggarakan oleh BPJPH. Sertifikasi halal, saat ini masih dilaksanakan oleh LPOM MUI. Produk Halal adalah untuk umat, dan milik umat. Dukungan dan peran umat sangat penting dalam penyelenggaraan jaminan produk halal ini, ungkapnya.

Ketua PB Mathla’ul Anwar, KH. Ahmad Sadeli Karim, Lc menyambut baik kerjasama ini, dengan kerjasama ini peran aktif Mathla’ul Anwar akan semakin meningkat. Seluruh peserta Rakernas dari semua wilayah  mendukung pelaksanaan UU No 33 tahun 2014, tentang Jaminan Produk Halal. PB Mathla’ul Anwar telah membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Mathla’ul Anwar pada tahun 2018.

Mathla’ul Anwar adalah organisasi  massa Islam, yang berdiri pada tahun  1916, di Menes, Pandeglang, Banten, kini telah memiliki Pengurus wilayah di 30 Propinsi di Indonesia, bergerak di bidang: dakwah, Pendidikan, dan sosial. Mathlau’l Anwar Memiliki Ribuan Sekolah dan Pesantren, mulai dari tingkat: PAUD, TK, MI, MTs, SMA, dan Perguruan Tinggi. (HS/02)

(PKPH, Jakarta)- Puncak rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-52 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), LIPI memberikan kehormatan kepada Prof. Dr. Irwandi Jaswir untuk memberikan orasi ilmiah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture XIX. “LIPI memilih sosok Prof. Dr. Irwandi Jaswir sebagai penghargaan atas dedikasi beliau sebagai salah satu pionir dalam bidang Halal Science”, ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),Laksana Tri Handoko di Jakarta pada Kamis (22/8).

Dalam orasi berjudul ”Menjadi Periset Berkelas Dunia di Era Industri 4.0”. Prof. Irwandi menyatakan dengan 220 juta populasi Muslim di Indonesia seharusnya dapat menjadi pemain utama dalam industri halal dunia. “Sertifikasi halal, sungguh pun sangat penting, hendaknya tidak dijadikan fokus utama, namun membangun industri halal itu sendiri yang patut diutamakan untuk membuat Indonesia menjadi pemain utama industri halal dunia”, ujarnya.

Menurutnya, menjadi pemain utama dalam industri halal dunia dapat menjadi harapan besar untuk Indonesia. “Pengembangan sians halal  merupakan kata kunci untuk negara merebut peluang ekonomi yang luar biasa besar, 3,1 triliun dolar AS”, jelasnya. Ia menjelaskan seharusnya Indonesia tidak hanya terfokus pada sertifikasi semata dengan melupakan aspek-aspek lain, seperti pembinaan dan litbang. “Sertifikasi seharusnya berjalan seiring dengan misi utama, yakni membangun industri halal yang sesungguhnya yang antara lain melakukan pembinaan kepada industri, mendidik masyarakat melalui kesadaran hala dan tidak ketinggalan melakukan penelitian dan pengembangan”, imbuhnya.

Ada beberapa prioritas yang perlu diperhatikan dalam pengembangan riset sains halal. “Pertama  adalah pengembangan metode autentikasi kehalalan makanan yang cepat dan ampuh, termasuk pengembangan metode-metode baru yang lebih sensitif dan bisa dihandalkan untuk menganalisa komponen tidak halal. Kedua, pengembangan bahan-bahan mentah serta bahan tambahan makanan  yang terjamin kehalalannya dari sumber lokal,” ujarnya. Irwandi yang juga sering dipanggil dengan sebutan ”Professor Halal” ini telah mendedikasikan dirinya untuk riset Halal Science selama dua dekade secara berkelanjutan. “Komitmen inilah yang membuat kami dan rekan-rekan satu tim mampu menyelesaikan lebih dari 30 proyek berkaitan halal dalam 20 tahun terakhir”,jelasnya.

Risetnya adalah untuk mendeteksi zat-zat haram dan mengembangkan bahan alternatif untuk pengganti bahan yang tidak halal dalam makanan, obat-obatan, kosmetik, hingga produk jasa.  “Pengembangan bahan alternatif, diantaranya pengembangan produk gelatin halal dari berbagai sumber seperti ikan, kambing, dan sapi, kemudian penentuan komponen tidak halal menggunakan Fourier Transfor Infrared Spectroscopy, Gas Chromatography, Differential scanning calorimetry, Matrix Assisted Laser Desorption Ionisation-Time of Fligh, Enzyme-Linked Immunosorbent Assay serta pengembangan material nano-gelatin dari limbah unta, dan lain-lain”, jelasnya.

Kontribusi  Irwandi di Halal Science telah diakui dunia internasional. Ia berhasil meraih 62 penghargaan ilmiah internasional, termasuk Asia Pacific Young Scientist Award 2010 by SCOPUS, Habibie Award bidang Kedokteran dan Bioteknologi 2013, dan tahun kemarin adalah King Faisal International Prize kategori Service to Islam. Ia merupakan orang Indonesia kedua yang menerima King Faisal Prize, setelah mantan Perdana Menteri Dr Mohammad Natsir, 40 tahun lalu. Dan pertama kali dalam sejarah, kategori ini dimenangkan oleh ilmuwan dari Indonesia. (sep/ed: fz)

Sumber: lipi.go.id

(PKPH, Pandeglang)- Kajian kali ini akan membahas tentang pendidikan keluarga dalam perspektif pendidikan seperti yang diteladankan oleh Bapaknya para Nabi, Nabi Ibrahim AS. Telaah Tafsir Surat Ibrahim ayat 35-41.

1. Do’a Nabi Ibrahim agar Mekkah dijadikan Negeri yang Aman

Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 35-36

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (36)

Menurut Hamka, ayat ini menyuruh Nabi Muhammad Saw. memperingatkan kembali kepada kaum Quraisy bahwasanya yang memulai memancang negeri Mekkah tempat mereka berdiam itu ialah nenek-moyang mereka Nabi Ibrahim. Dari sebuah lembah yang belum ada penghuninya, sampai menjadi sebuah negeri besar. Adapun maksud Ibrahim mendirikan negeri Mekkah itu ialah karena hendak mendirikan sebuah rumah persembahan kepada Allah, dan sunyi dari berhala. Oleh karena itu beliau memohonkan kepada Allah supaya anak cucunya jangan sampai menyembah berhala-berhala itu. Dan dido’akannya kepada Tuhan supaya negeri yang telah dibukanya itu aman sentosa. Merasa tentram kiranya orang yang ada di sana. Jangan ada huru-hara, dan siapa yang masuk ke sana terjamin keselamatannya.[1]

Menurut Quraish Shihab, do’a nabi Ibrahim As. untuk menjadikan kota Mekkah dan sekitarnya sebagai kota yang aman adalah do’a untuk menjadikan keamanan yang ada di sana berkesinambungan hingga akhir masa. Atau, menganugerahkan kepada penduduk dan pengunjungnya kemampuan untuk menjadikannya aman dan tenteram. Permohonan ini, menurut banyak ulama antara lain Thabathaba’i dan Asy-Sya’rawi, bukan berarti menjadikannya aman secara terus-menerus tanpa peranan manusia atau dalam istilah kedua ulama ini  amn takwiniy/ keamanan yang tercipta atas dasar penciptaan keamanan. Yang beliau mohonkan itu adalah amn tasyri’iy, yakni permohonan kiranya Allah menetapkan hukum keagamaan yang mewajibkan orang mewujudkan, memelihara, dan menjaga keamanannya.[2]

Manusia pada umumnya sejak  dahulu hingga kini memang menghormati kota Mekkah baik secara tulus dan didorong ketaatan beragama maupun melalui adat kebiasaan yang berlaku pada penduduknya atau peraturan yang ditetapkan oleh penguasanya yang melarang non-muslim memasukinya.[3] Do’a nabi Ibrahim pada ayat 35 ini dikabulkan Tuhan, dan Dia telah menjadikan negeri Mekkah dan sekitarnya, menjadi tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada di sana. Di negeri itu dilarang menumpahkan darah, menganiaya orang, membunuh binatang, dan menebang tumbuh-tumbuhan yang berada di sana.[4] Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ankabut ayat 67.                                                                                

Kata () jauhkanlah diriku dan keturunanku dari penyembah berhala. Menurut Ahmad Mustafa Al-Maragi yaitu tetapkanlah kami pada tauhid dan Islam yang telah kami pegang ini, serta jauhkanlah dari penyembahan berhala.[5]

Menurut Al-Qurthubi, kata baniy adalah anak cucunya dari tulang rusuknya sendiri, yang mana jumlah mereka ada delapan, dan tidak seorang pun dari mereka yang menyembah berhala.[6] Kata shanam menurut pendapat Ath-Thabari, Al-Biqa’i, dan Asy-Sya’rawi sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab adalah berhala yang berbentuk manusia, sedang kata watsan adalah batu atau apa saja yang dikultuskan. Sedangkan Ibn Asyur memahami kata shanam dalam arti patung, atau batu, atau bangunan yang dijadikan sesembahan dan diakui sebagai Tuhan. Nabi Ibrahim memanjatkan do’a ini setelah melihat di daerah sekitarnya terjadi penyembahan berhala-berhala.  Beliau berhijrah meninggalkan tempat tinggalnya di Ur negeri orang-orang Keldania karena penduduknya menyembah berhala. Di mesirpun beliau menemukan hal serupa demikian juga di Palestina. Lalu, beliau membawa istri dan anaknya berhijrah ke jazirah Arab tepatnya Mekkah sekarang dan di sanalah beliau menempatkan istri dan anaknya serta mengajarkan Tauhid.[7]

Permohonan Nabi Ibrahim As. agar menghindarkan anak cucu beliau dari penyembahan berhala, bukan dalam arti memaksa mereka mengakui keesaan Allah, tetapi bermohon kiranya fitrah kesucian yang dianugerahkan Allah dalam jiwa setiap manusia dan yang intinya adalah Tauhid, bermohon kiranya fitrah tersebut terus terpelihara.[8] 

“Ya Tuhanku! Sesungguhnya dia itu yaitu berhala-berhala telah menyesatkan kebanyakan manusia”. (pangkal ayat 36). Menurut Hamka, Nabi Ibrahim yang telah banyak mengembara, sejak dari tanah kelahirannya Babil (negeri Irak sekarang), sampai ke Palestina, tanah yang dijanjikan Tuhan pula buat anak keturunannya, hingga mesir tempat dia menikahi Hajar, dilihatnya diseluruh negeri itu betapa sesatnya manusia karena menyembah berhala, bahkan sampai beliau bertentangan dengan ayahnya sendiri dan rajanya. Sekarang dibukanya negeri baru, lembah yang tidak ada tanam-tanaman itu, ialah karena ingin mendirikan sebuah daerah bersih daripada berhala dan bersih dari yang menyesatkan manusia.[9]

 “Lantaran itu maka barangsiapa  yang mengikut aku, sesungguhnya dia adalah golonganku.” Dan yang masuk golonganku itulah hanya yang dapat aku pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan, dan pendirian bertuhan Esa itulah yang dinamai Agama Nabi Ibrahim yang HANIF, yaitu Agama Tauhid. “Dan barangsiapa yang mendurhakai aku.” Yakni yang mengubah pelajaran Tauhid yang aku pusakakan itu, “Maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (ujung ayat 36).

Sebagai seorang di antara Rasul yang besar, Nabi Ibrahim pun rupanya telah mendapat ilham dari Tuhan bahwa sepeninggalnya kelak akan ada penyelewengan dari anak cucunya. Dan kemudian setelah Nabi Muhammad Saw. diutus Tuhan, beliau dapati agama HANIF Nabi Ibrahim telah dikotori dan dicampur-aduk dengan menyembah berhala. Nabi Ibrahim yang terkenal pengasih, penghiba (Awwahun, Halimun) tidaklah mengutuk anak-cucunya yang mendurhakai jalan yang ditinggalkannya yang diselewengkan itu. Melainkan menyerahkannya kepada Tuhan, moga-moga Tuhan mengampuni, sebab Tuhan itu pun Maha Penyayang.[10]

Penafsiran Hamka di atas senada dengan penafsiran Quraish Shihab bahwa pada penutup do’a Nabi Ibrahim as, Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, bukan berarti memohon pengampunan bagi para penyembah berhala, tetapi menyerahkan kepada Allah Swt. putusan terakhir karena hanya Allah yang memiliki  hak prerogatif menyangkut pengampunan atau penyiksaan. Do’a Nabi Ibrahim As. ini menunjukkan betapa halus budi beliau dan betapa iba dan kasihnya terhadap umat manusia.[11]

Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa setiap muslim hendaknya senantiasa berdo’a untuk keselamatan dan keamanan tempat tinggalnya dan agar penduduknya diberikan rizki yang berlimpah. Selain itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu menyiapkan lingkungan yang aman dan jauh dari berbagai kesyirikan dan kemaksiatan demi terjaganya fitrah dalam jiwa setiap anak yaitu tauhid. Karena lingkungan yang penuh dengan kesyirikan dan kemaksiatan tentunya akan memberikan dampak negatif sebagaimana yang di jelaskan dalam ayat ini bahwa bahwa berhala-berhala telah menyesatkan banyak manusia.

b. Nabi Ibrahim Menempatkan Isma’il di Dekat Baitullah dan Anjuran Bersyukur

 Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 37:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْ

دَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (37)

 

Menurut lembaga penafsiran Al-Qur’an Departemen Agama, Ayat ini menerangkan saat Ibrahim As. akan kembali ke palestina menemui istrinya Sarah, meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Isma’il yang masih kecil di Mekkah, di tengah-tengah padang pasir yang tandus, tanpa ditemani oleh seorang  manusia pun dan tanpa bekal untuk keluarganya yang ditinggalkan. Waktu itulah ia berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, mohon agar keluarganya itu dilindungi dan diselamatkan dari segala mara bahaya dan bencana yang mungkin akan menimpanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Ibrahim sebagai seorang nabi yang telah melangsungkan pernikahan dengan istrinya Sarah. Namun sekian lama pernikahan pasangan ini tak kunjung dikaruniai keturunan dikarenakan Sarah wanita yang mandul, sedangkan Ibrahim telah menginjak masa tua. Oleh karena itu, dinikahinya pembantu istrinya bernama Hajar setelah mendapat izin dan persetujuan dari Sarah. Dari pernikahan itu lahirlah  seorang putra yang diberi nama Isma’il.[12]

Menurut Syaik Imam Al-Qurthubi, diriwayatkan bahwa Sarah cemburu kepada Hajar setelah Ismail lahir. Sarah menyampaikan perasaan hatinya itu kepada suaminya Ibrahim, dan meminta agar Ibrahim membawa dan menjauhkan Hajar dan putranya Ismail darinya, lalu Ibrahim pergi membawa Hajar ke Mekkah. Setelah setibanya di tengah-tengah lembah Mekkah, ia meninggalkan anaknya beserta ibunya di sana dan pada hari itu juga ia kembali pergi pulang meninggalkan keduanya. Ini semua dilakukan berdasarkan wahyu dari Allah. Dan ketika dia meninggalkan keduanya, Ibrahim berdo’a dengan do’a yang terdapat dalam ayat ini.[13]

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Ibrahim berdo’a tanpa berkata “wahai” sebagaimana kebiasaan Al-Qur’an melukiskan do’a orang-orang yang dekat kepada Allah. Do’anya: “Tuhan kami dan Tuhan makhluk seluruhnya! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di satu lembah yaitu Mekkah yang kini belum dihuni dan yang tidak dapat mempunyai tanaman karena gersang tanahnya. Namun demikian, aku tempatkan mereka di sana karena lokasinya di dekat rumah-Mu (Baitullah) Ka’bah yang agung lagi yang dihormati,Tuhan kami! Yang demikian itu, yakni penempatan mereka di sana, adalah agar mereka melaksanakan shalat secara berkesinambung lagi baik dan sempurna, maka karena tempat itu seperti yang aku lukiskan dan Engkau ketahui dan tujuanku tidak luput dari pengetahuan-Mu, maka aku bermohon: Jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, baik yang engkau tumbuhkan di sana maupun yang dibawa oleh manusia ke sana, mudah-mudahan dengan aneka anugerah-Mu mereka terusmenerus bersyukur.[14]

Firman-Nya: ghairi  dzi zar’in/tidak dapat mempunyai tanaman menunjukkan bahwa tanah di daerah itu bukanlah lahan pertanian. Redaksi yang digunakan ini bukan sekadar berarti tidak ditumbuhi tumbuhan, tetapi lebih dari itu, yakni tidak memiliki atau tidak berpotensi untuk ditumbuhi tumbuhan. Memang kenyataan menunjukkan bahwa Mekkah dan sekitarnya bukan saja gersang, tetapi juga dikelilingi oleh batu-batu sehingga tidak memungkinkan adanya tumbuh-tumbuhan.[15]

Tim penafsir Al-Qur’an Departemen Agama menjelaskan, ketika Hajar dan putranya sampai di suatu tempat, yang waktu itu semua perbekalan dan air minum telah habis, putranya Ismail menangis kehausan, sedang air susunya tidak mengalir lagi. Ia bermaksud mencari air, dan ditidurkannya putranya di bawah pohon tempat ia berteduh. Ia pun pergi ke mana saja yang dianggapnya ada air, namun ia tidak menemukannya setetes pun. Ia pun kembali ke tempat putranya yang ditinggalkan. Waktu itu Ismail sedang menangis kehausan sambil memukulmukulkan kakinya ke tanah. Hajar pun berdo’a menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.[16]

Do’a Ibrahim dan Istrinya hajar dikabulkan Tuhan. Waktu itu juga, terpancarlah air dari tanah bekas pukulan kaki anaknya Ismail yang sedang menangis. Di saat itu pula, timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga, dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya  dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail. Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya, seraya berkata, “Zam! Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)” Dan terkumpullah air itu, tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama Telaga Zamzam.[17] Hamka menjelaskan bahwa do’a nabi Ibrahim Makbul, sehingga negeri Mekkah tidak pernah kekurangan buah-buahan meskipun negeri Mekkah itu sendiri kering, lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, dan sumur Zamzam tidak cukup airnya untuk mengaliri tanah tandus itu, dan sekelilingnya adalah gunung-gunung batu semuanya. Sampai kepada zaman kita sekarang ini pun do’a nabi Ibrahim masih tetap dirasakan di negeri Mekkah. Mekkah sendiri tidak menghasilkan tumbuhtumbuhan, tetapi di desa-desa Badwi luar Mekkah, sebagai di Wadi Fathimah, Wadi Usfan, Thaif dan lain-lain, terdapat Wadi atau Oase yang ada telaga dan ada air, dan banyak terdapat kebun-kebun. Hasil kebun-kebun itu di angkut orang ke Mekkah.[18] 

Menurut Al-Biqa’i yang di kutip oleh Quraish Shihab, kata tahwi terambil dari kata hawa yang bermakna meluncur dari atas kebawah dengan sangat cepat. Maksudnya, menuju ke satu arah di dorong oleh keinginan dan kerinduan. Agaknya, do’a Nabi Ibrahim inilah yang menjadikan setiap muslim selalu merindukan untuk datang ke Mekkah, bahkan kembali lagi dan kembali lagi walau telah berulang-ulang mengunjunginya.[19]

Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa perlunya berhijrah ke suatu tempat yang aman bagi kelangsungan pendidikan agama untuk anak dan pemeliharaan akidahnya. Karena itu, sebagian ulama mengharamkan keluarga muslim untuk hidup menetap di tengah masyarakat non-muslim bila keberadaan mereka di sana dapat mengakibatkan kekaburan ajaran agama atau kedurhakaan kepada Allah Swt., baik untuk dirinya maupun sanak keluarganya.[20]

 c. Keikhlasan dalam Beribadah

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 38:

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ (38)

“Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau mengetahui segala yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan.” Menurut Ibnu Jarir sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir maksudnya adalah Engkau mengetahui maksud dan tujuanku dalam do’aku, dan apa yang kuinginkan dengan do’aku untuk penduduk negeri ini, yaitu semata-mata hanya mengharapkan keridhaan-Mu dan keikhlasan untuk-Mu, karena Engkau mengetahui segala sesuatu baik lahir maupunbathinnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Mu, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.[21]  Quraish Shihab menjelaskan, Engkau mengetahui bukan saja ketulusan kami bermohon dan beibadah tetapi juga mengetahui kebutuhan dan keinginan, walau tanpa kami mohonkan dan mengetahui pula apa yang terbaik bagi kami.[22]

Menurut Hamka, ayat ini melukiskan keikhlasan Ibrahim dan anakanaknya dalam berkhidmat kepada Allah. Sebab Tauhid adalah ikhlas, apa yang ada dihati itulah yang tampak keluar atau di ucapkan. Dengan Allah kita tidak dapat menyimpan rahasia apapun, karena Allah maha mengetahui baik isi bumi maupun isi langit, apalagi hanya dengan isi hati kita. Tauhid  dan ikhlas itulah yang menyebabkan tidak mungkin mempersekutukan Allah dengan yang lain. Dan apabila manusia telah mendapat pendirian hidup (akidah) tauhid dan ikhlas itu, kekayaan besarlah yang diberikan Allah kepadanya. Itulah jiwa yang telah keluar dari gelap dan menempuh terang, dan itulah hidup yang sejati.[23] Dari penafsiran Ibnu Katsir, Quraish Shihab dan Hamka di atas, dapat diambil simpulan bahwa dalam berdo’a maupun beribadah diperlukan keikhlasan semata-mata hanya karena Allah dan mengharap ridho-Nya bukan mengharapkan yang lainnya sebab di jelaskan bahwa ikhlas itu adalah tauhid. Ikhlas dan tauhid itulah yang tidak akan menyebabkan manusia mempersekutukan Allah.

Adapun nilai pendidikan yang dapat di ambil dari ayat ini yaitu dalam lingkungan keluarga, orang tua hendaknya mengajarkan keikhlasan atau nilai kejujuran kepada anak. Karena kejujuran adalah muara dari segala kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke surga-Nya.

d. Pujian Nabi Ibrahim Kepada Allah karena diberikan Keturunan

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 39-40:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40)

“segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq.” (pangkal ayat 39). Hamka menjelaskan, Ibrahim memuji Allah dengan sepenuh-penuh pujian, karena beliau selalu mengharap keturunan yang akan menyambung cita-citanya, jangan sampai ajaran yang diberikan Tuhan itu putus sampai dia saja, beliau menghendaki anak dan keturunanya yang akan menyambung perjuangannya. Permohonannya itu didengar dan dikabulkan Tuhan. Oleh sebab itu beliau melanjutkan di dalam pujiannya: “Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar do’a.” (ujung ayat 39).[24]

Lembaga penafsiran Al-Qur’an departemen agama menjelaskan sekalipun Sarah sudah sangat tua dan tidak mungkin lagi melahirkan anak, tetapi keinginan mempunyai putra selalu menjadi idamannya, lebih-lebih setelah mendengar

Isma’il telah bertambah dewasa, selalu dikunjungi oleh suaminya Ibrahim, ke tempat ia dibesarkan di Mekkah yang sangat jauh jaraknya dari Palestina. Timbul rasa iri hatinya kepada Hajar bekas pembantunya, apalagi setelah dinikahi Ibrahim  atas izinnya pula. Ditambah pemikiran Sarah, kenapa pembantunya dikaruniai seorang putra, sedangkan dia sendiri belum dianugerahi. Rasa iri itu semakin lama semakin besar. Dalam keadaan demikianlah, malaikat datang kepada dua orang suami istri yang telah lanjut usia itu, menyampaikan perintah Allah untuk memberitahukan kabar gembira bahwa mereka akan dianugerahi Allah seorang putra yang bernama Ishaq, seorang anak laki-laki yang akan diangkat menjadi nabi dan rasul dikemudian hari.[25]

Penyampaian berita oleh malaikat itu dilukiskan dalam firman Allah surah Hud ayat 71-73:

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَاوَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73)

Dan firman Allah Swt. dalam surah Al-Hijr ayat 53-56:

قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (53) قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ (54) قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ (55) قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ (56)

Hamka kembali menjelaskan bahwa negeri Mekkah sudah ramai, Ka’bah (Baitullah) sudah tegak, dan anak laki-laki pun sudah ada dua orang. Yang seorang akan mengembangkan bangsa Arabi dan yang seorang lagi akan mengembangkan bangsa Ibrani. Semuanya itu disyukuri oleh Ibrahim dengan hati yang tulus dan ikhlas. Kemudian dilanjutkan do’anya:

“Ya Tuhanku! Jadikanlah aku pendiri sembahyang, dan (demikian juga) anak cucuku. Ya Tuhan kami! Perkenankanlah kiranya do’aku.” (ayat 40).

Do’a beliau agar dia menjadi pendiri sembahyang telah terkabul, begitu juga do’a untuk anak cucunya pun juga terkabul. Dari keturunan Ishaq muncullah berpuluh-puluh nabi dan rasul, termasuk: Ya’kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusya’, Ilyasa, Ilyas, Zulkifli, Ayyub, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya dan Isa Almasih dan lain-lain dari Anbiya Bani Israil. Dan dari keturunan Ismail, datanglah penutup segala Nabi (Khatamul Anbiya’) dan yang paling istimewa dari segala Rasul (Sayyidil Mursalin), Muhammad Saw.[26]

Demikian pula Quraish Shihab menafsirkan: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat yang sangat besar kepadaku di hari tua ku yaitu Isma’il yang kutempatkan di dekat Baitullah  dan Ishaq yang kini bersama ibu kandungnya di Palestina. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar, yakni memperkenankan do’a yang dipanjatkan secara tulus kepada-Nya.Selanjutnya, Nabi Ibrahim berdo’a menggarisbawahi tujuan penempatan keluarganya di dekat Masjid al-Haram (baca ayat 37) sekaligus untuk mengisyaratkan bahwa tujuan itu baru dapat tercapai bila dia memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Allah. Nabi Ibrahim as berdo’a: “Tuhanku, yang selalu berbuat baik kepadaku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang  yang tetap melaksanakan secara benar, baik dan bersinambung shalat.”[27]

 e. Mendo’akan Kedua Orang Tua

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 41:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)

Dalam do’a Nabi Ibrahim di atas, terbaca bahwa beliau mendo’akan kedua orangtuanya.  Menurut Thabathaba’i sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab bahwa do’a Nabi Ibrahim ini merupakan do’a terakhir Nabi Ibrahim yang direkam Al-Qur’an. Jika demikian, do’a beliau kepada kedua orang tuanya menunjukkan bahwa kedua orangtuanya adalah orang-orang yang meninggal dalam dalam keadaan Muslim, bukan musyrik. Ini sekaligus membuktikan bahwa Azar bukanlah ayahnya. Demikian ulama berkesimpulan. Ulama lain berpendapat bahwa permohonan pengampunan untuk orangtuanya ini terjadi sebelum adanya larangan mendo’akan orang tua yang musyrik.[28]

Adapun Hamka menjelaskan, penutup do’a Nabi Ibrahim ini sangat mengharukan. Beliau, nenek para nabi dan rasul memohon ampun kepada Allah entah ada kelalaian dan kekurangan dalam memikul kewajiban sebab dia manusia. Ampuni juga kedua orangtuanya kalau boleh, dan terutama lagi ampunilah sekalian orang yang telah menegakkan kepercayaan kepada Engkau, Ya Allah. Siapa yang tidak terharu merenungkan ini, semakin manusia berendah hati dihadapan Allah maka semakin tinggi martabat manusia dihadapan-Nya. Patutlah bagi kita umat Islam senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Saw. pada waktu shalat dengan menyertai juga shalawat kepada Nabi Ibrahim As. dan keluarganya.[29]

 [1] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XIII-XIV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 152-153.   

[2] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 386-387. 

[3] Ibid., h. 387. 

[4] Kementrian Agama RI, loc.cit.  

[5] Ahmad Mustafa Al-Maragi, op.cit., h. 302. 

 [6] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, diterjemahkan oleh Muhyiddin Masridha, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 871.  

[7] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 387. 

[8] Ibid., h. 388.  

[9] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XIII-XIV, op.cit., h. 153. 

[10] Ibid.

 [11] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 388. 

[12] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 173. 

[13] Syeikh Imam Al-Qurthubi, op.cit., h. 875. 

[14] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 389. 

[15] Ibid., h. 389-390.  

[16] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 174. 

[17] Ibid., h. 174-175.  

[18] Hamka, op.cit., h. 154-155.

[19] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit.,h. 390. 

[20] Ibid.

[21] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir jilid 4, diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar, dkk, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2008), h. 549. 

[22] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit.,  389. 

[23] Hamka, op.cit., h. 155-156. 

[24] Ibid., h. 156. 

[25] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 177. 

[26] Hamka, op.cit., h. 156. 

[27] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 391.

[28] Ibid., 

[29] Hamka, op.cit., h. 156-157. 

(PKPH, Pandeglang)-Masalah yang sering dihadapi masyarakat desa, khususnya di wilayah Cikeusik, Banten Selatan adalah kesulitan air bersih dan sering dilanda banjir. Program Studi Biologi Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan Universitas Mathla’ul Anwar Banten melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pengabdian Masyarakat di Desa Curug Ciung Kecamatan Cikeusik Pandeglang dengan mensosialisasikan konsep ekodrainase dan akuaponik di Kantor Desa Curug Ciung, pada Jum’at (9/8).

Dihadiri puluhan warga masyarakat, perangkat desa, mahasiswa KKN Unma Banten, dan Tim Dosen Biologi,  kegiatan ini mendapat antusias dari peserta. Ketua Prodi Biologi Unma Banten,  Swastika Oktavia, menyampaikan Ekodrainase adalah  suatu usaha mengalirkan air kelebihan ke sungai dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di sungai. Ekodrainase  dikenal juga dengan drainase ramah lingkungan, adalah sebagai upaya mengelola air kelebihan dengan cara sebesar-besarnya diresapkan ke dalam tanah secara alamiah atau mengalirkan ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas sungai sebelumnya. Dalam drainase ramah lingkungan, justru air kelebihan pada musim hujan harus dikelola sedemikian sehingga tidak mengalir secepatnya ke sungai. Namun diusahakan meresap ke dalam tanah, guna meningkatkan kandungan air tanah untuk cadangan pada musim kemarau.

Dosen Biologi Unma Banten, Hadi Susilo, juga menyampaikan tentang akuaponik, salah satu teknik budidaya tanaman dengan menggunakan media tanam berupa air yang di resirkulasi. Teknik ini dapat memanfaatkan sumber bahan lokal yang ada di masyarakat antara lain: batu apung, ijuk, bambu, ember. Dalam paparannya mengajak warga masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanami sayur mayur, seperti: cabe, tomat, kangkung, terong, untuk mencukupi kebutuhan keluarga warga masyarakat desa. Dengan budidaya sendiri masyarakat akan mendapat sayuran yang segar, higienis, dan halal.

Usman Setiawan, yang sekaligus menjadi Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN Unma Banten menyampaikan keberlanjutan program ini sangat penting, untuk mewujudkan gerakan aktifitas warga masyarakat yang berwawasan lingkungan sehat, dan kemandirian pangan keluarga.

Program Studi Biologi, adalah salah satu program studi yang ada di Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan, Universitas Mathla’ul Anwar Banten, telah terakreditasi BAN PT dengan nilai B, diasuh oleh dosen-dosen dari alumni perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Dosen yang mengikuti kegiatan ini adalah: Usman Setiawan, Swastika Oktavia, Mu’jijah, Nurullah Asep Abdillah, dan Hadi Susilo. (HS/02)

 

Kajian Surat Al-Kautsar

Kajian Rutin hari ini (8/8)  akan membahas Surat Al Kautsar, Surat ke-108, terdiri dari 3 Ayat. Surat Al Kautsar diturunkan di Mekah.

Bismillahirahmannirrahiim.

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

1. Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

2. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1)

  1. Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

Kata a'thainaka terambil dari kata a'tha/memberi yang biasa digunakan untuk pemberian yang menjadi milik pribadi seseorang. la digunakan juga untuk menggambarkan pemberian yang sedikit seperti dalam QS. an-Najm (53): 34. Penggunaan kata ini yang bergandengan dengan kata al-kautsar yang berarti banyak, mengesankan bahwa anugerah Allah kepada beliau walaupun banyak namun ia masih dinilai sedikit jika dibandingkan dengan apa yang akan beliau terima di masa datang. Huruf kaf/mu pada ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. secara pribadi.

Kata al-kautsar terambil dari kata katsir/banyak. Kata ini digunakan untuk menunjuk sesuatu yang banyak bilangannya atau tinggi mutunya. Bahkan seorang manusia yang merupakan tokoh yang banyak berjasa dinamai Kautsar.

Berbeda-beda pendapat ulama tentang maksud kata tersebut. Pendapat yang amat populer adalah Sungai di surga. Makna ini dikemukakan oleh ulama-ulama berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim dari sahabat Nabi saw., Anas Ibn Malik. Pendapat ini ditolak oleh Syeikh Muhammad Abduh, sambil menulis dalam tafsirnya bahwa pendapat yang menyatakan bahwa al-kautsar yang diartikan sebagai sungai di surga, baru diterima sebagai keyakinan apabila riwayatnya mutawatir. Memang - tulis 'Abduh lebih jauh - ada ulama-ulama yang menyatakan bahwa hadits itu mutawatir dalam maknanya, sehingga kalau memang demikian halnya, kita harus percaya tentang adanya sungai tersebut tanpa terikat dengan ciri-cirinya yang disebut dalam berbagai riwayat, karena riwayat tentang ciri-ciri sungai itu sangat beragam dan berbeda-beda.

Namun demikian, 'Abduh meragukan ke-mutawztiran hadits tersebut karena - tulisnya lebih jauh: "Ke-mutawatir-an satu riwayat tidak sah kalau hanya merupakan pendapat sekelompok orang atau sebagian ulama. Kemutawatir-an riwayat adalah seperti apa yang Anda Iihat pada keadaan al-Quran. la dikenal dan diakui oleh thabaqat (kelompok atau generasi demi generasi) dan diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang dipercaya bahwa mereka mustahil bersepakat untuk berbohong. Demikian seterusnya hingga riwayat itu sampai kepada Anda, tidak ditolak oleh satu kelompok pun dari kelompok-kelompok kaum muslimin." Inilah yang dinamai mutawatir, yang dapat menghasilkan keyakinan. Hadits-hadits yang mengartikan al-kautsar dengan sungai, tidak dapat dinamai mutawatir, karena walaupun riwayatnya banyak, namun tidak mencapal tingkat meyakinkan itu, apalagi dapat diduga bahwa perawi-perawinya menerima riwayat tersebut dengan mudah (tidak ktitis) karena kandungannya bersifat ajaib dan indah, sehingga mendorong perawi untuk cenderung membenarkannya. Ini, meruntuhkan sifat ke-mutawatir-an. Demikian lebih kurang 'Abduh.

Pendapat kedua tentang al-kautsar yang banyak juga disebut oleh ulama tafsir adalah keturunan Nabi Muhammad saw. Pendapat ini, dikemukakan antara lain, oleh Abu Hayyan, al-Alusi, sambil menyatakan bahwa mereka itu "al-Hamdulillah banyak dan telah memenuhi seluruh penjuru dunia." Demikian juga Muhammad 'Abduh, al-Qasimi, yang mengutip pendapat Ibn Jinni, sambil menyatakan bahwa pendapat ini indah sejalan dengan Sabab Nuzul surah ini, dan bahwa yang dimaksud dengan keturunannya adalah anak cucu as-Sayyidah Fathimah putri Rasulullah saw. Thabathaba'i menilai pendapat ini sebagai pendapat yang cukup kuat.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan pendukungnya. Pertama adalah konteks Sabab Nuzul-nya. Kedua adalah kata abtar yang antara Iain berarti orang yang terputus keturunannya. "Kalimat ini tidak bermakna kalau al-kautsar tidak dipahami sebagai atau mencakup keturunan yang banyak." Demikian tulis Thabathaba'i. Alasan ketiga adalah kata (….) inhar yang dipahami sebagai  perintah menyembelih binatang dalam konteks kelahiran anak penyembelihan tersebut dinamai Aqiqah.

Sementara ulama menolak pendapat ini dengan alasan bahwa Nabi Muhammad saw. tidak mempunyai keturunan, karena putra-putra beliau meninggal sejak kecil, sehingga mana mungkin beliau memiliki keturunan. Keberatan ini ditangkis dengan menyatakan bahwa walau anak-anak lelaki Nabi saw. meninggal sebelum mereka dewasa, tetapi yang dimaksud dengan keturunan di sini adalah keturunan dari putrinya Fathimah. Al-Quran menamai juga anak cucu dari seorang perempuan sebagai keturunan dari ayahnya. Perhatikan firman-Nya:

( وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84) وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85)

  1. Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
  2. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. (QS. al-An'am/6:84-85)

 "Anda Iihat - tulis al-Qasimi dalam tafsirnya mengutip pendapat al-'Arudhi - al-Qur'an menamai 'isa putra Maryam sebagai anak keturunan Nabi Ibrahirn, padahal 'isa adalah anak Ibunya."

 Di sisi lain, banyak sekali hadits-hadits Nabi yang menamai cucu beliau Sayyidina al-Hasan dan Sayyidina al-Husain putra Sayyidina 'Ali Ibn Abi Thalib ra., sebagai anak-anak beliau. Misalnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Bakrah yang berkata: Aku mendengar Nabi saw. yang ketika itu berada di atas mimbar dan Hasan berada di sampingnya, sekali memandang kepada hadirin dan di kali lain memandang kepada beliau: "Anakku ini (sambil menunjuk kepada Sayyidina al-Hasan) adalah Sayyid, semoga Allah melakukan ishlah melalui (jasa)-nya antara dua kelompok kaum muslimin."

 Sayyidina al-Hasan mempunyai sebelas orang anak lelaki, yaitu: Zaid, al-Hasan, al-Qisim, Abu Bakar, Abdullah, 'Amr, Abdurrahman, al-Husain yang digelar Asyram, Muhammad, Ya'kub dan Isma'il. Demikian tertulis dalam Ensiklopedi Islam, yang diterbitkan oleh lchtiar Baru Van Hoeve.  Sayyidina al-Husain, adik Sayyidina al-Hasan, mempunyai sembilan orang anak, terdiri dari enam putra dan tiga putra, masing-masing Abdullah,'Ali al-Akbar, 'Ali al-Auwshath atau Zainal 'Abidin, 'Ali al-Asghar, Muhammad dan ja'far, sedang yang perempuan masing-masing Zainab, Sakinah, dan Fathimah.

Thabathaba'i dalam tafsirnya menilai ayat ini sebagai salah satu keistimewaan al-Qur'an, karena dia memberitakan tentang keturunan Nabi Muhammad saw. yang begitu banyak, sehingga jumlahnya tidak dapat ditandingi oleh keturunan yang lain, sedang terhadap mereka telah dilancarkan berbagai cobaan bahkan banyak di antara mereka yang gugur dalam berbagai peperangan.

Pendapat ketiga tentang maksud kata al-kautsar lebih wajar untuk diterima dari pada kedua pendapat di atas, tapi tanpa menolak keduanya. Diriwayatkan bahwa kepada Ibn `Abbis ra., disampaikan pendapat yang menyatakan bahwa al-kautsar adalah sungai di surga, beliau menjawab: "Itu sebagian dari al-kautsar, yang dijanjikan Allah kepada Nabi-Nya."

Atas dasar ini, sekian banyak ulama berpendapat bahwa semua yang disebutkan di atas, bahkan termasuk yang diuraikan oleh al-Qurthubi yang jumlahnya tidak kurang dari lima belas halaman - semuanya adalah benar, seperti syafaat, umat dan keturunan yang banyak, sungai atau telaga di surga dan sebagainya. Itu adalah sebagian yang dicakup oleh kata al-kautsar.

 Pendapat ini sejalan dengan arti harfiah al-kautsar yakni banyak. Kata banyak di sini, sewajarnya dipahami dalam arti jenis dan kuantitasnya. Kalau kita berkata bahwa keturunan atau satu sunngai yang deras airnya, maka pandangan ini membatasi anugerah Allah pada satu jenis anugerah saja. Pembatasan tersebut tidak sejalan dengan kemurahan Ilahi. Nah, atas dasar itu, pendapat ketiga di atas lebih mengena dan sesuai, sekaligus tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat lain yang dikemukakan sebelumnya.

 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2)

  1. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

 

Karena Allah telah dan pasti akan menganugerahkan sedemikian banyak anugerah kepada Nabi Muhammad saw., maka wajar sekali jika ayat-ayat di atas memerintahkan beliau bahwa: jika demikian maka shalatlah demi Tuhan Pemelihara-mu dan sembelihlah binatang untuk kamu sedekahkan kepada yang butuh dan jangan menjadi seperti yang Allah kecam pada surah al-Ma’un, yang menghardik anak yatim yang meminta sedikit daging sembelihan.

Kata shalli adalah bentuk perintah dari kata shalah yang dari segi bahasa berarti doa. Sementara ulama mengemukakan satu riwayat yang disandarkan kepada Ibn 'Abbas bahwa maksud kata tersebut adalah perintah melaksanakan shalat lima waktu. Riwayat lain dari beberapa murid Ibn 'Abbas memahaminya dalam arti perintah shalat, tetapi shalat 'idul Adha. Ayat kedua surah al-Kautsar ini, menurut riwayat tadi, turun untuk menuntun Nabi agar melakukan shalat 'idul Adha terlebih dahulu, baru menyembelih kurban. Kedua pendapat ini tidak didukung oleh kebiasaan al-Qur'an dalam perintah atau pujiannya menyangkut shalat dalam pengertian di atas, karena al-Qur'an untuk maksud tersebut selalu menggunakan kata aqimu atau yang seakar dengannya. Rujuklah ke ayat surah al-Ma’un. Dengan demikian,ini berarti bahwa perintah shalat di sini, bukan dalam arti shalat wajib ataupun sunnah. Shalat di sini adalah dalam arti beribadah. Memang dari segi bahasa la adalah doa tetapi sebagairnana sabda Nabi: "Doa adalah inti dari ibadah" (HR. at-Tirtmidzi). Sehingga wajar jika yang dimaksud dengan doa di sini adalah ibadah secara keseluruhan. Al-Qur'an pun menggunakan kata doa untuk makna ibadah demikian pula sebaliknya. Perhatikan firman-Nya:

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)

  1. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. al-Mu'min (40): 60).

 

Kita dapat berkata setelah membaca ayat di atas, bahwa perintah berdoa kepada-Nya sama, dengan beribadah, yang disebutkan oleh kalimat sesudah perintah itu, dan sekaligus kita pun dapat berkata bahwa manifestasi menyombongkan diri dan keengganan beribadah kepada-Nya adalah keengganan memenuhi perintah-Nya untuk berdoa, dan bermohon kepada-Nya.

Memang banyak bentuk yang dapat dilakukan dalam beribadah, salah satu di antatanya adalah mensyukuri nikmat anugerah Allah dan berdoa agar supaya nikmat tersebut dapat dipelihara dan difungsikan sesual dengan tujuan penganugerahannya. Salah satu doa yang di ajarkan dalam konteks ini adalah:

 

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15)

  1. "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. al-Ahqaf (46):15).

Kata inhar terambil dari kata nahr yang dari segi bahasa berarti dada, sekitar tempat meletakkan kalung. jika kita berkata nahartuhu, maka maknanya adalah saya mengenai dadanya dalam arti menyembelihnya kata intihar berarti membunuh diri.

Di atas telah disinggung bahwa ada ulama yang memahami perintah yang dimaksud di sini adalah perintah menyembelih binatang, baik dalam rangka shalat 'idul Adha maupun 'Aqiqah. Tetapi ada riwayat lain yang disandarkan kepada Sayyidina 'Ali ra. yakni bahwa yang dimaksud oleh kata ini adalah "meletakkan tangan - ketika shalat - pada an-nahr yakni dada, atau di atasnya sedikit lebih kurang pada posisi hiasan kalung yang digantung di leher." Ayat kedua bila dipahami demikian, diterjemahkan dengan: "Shalat-lah demi karena Tuhanmu, dan letakkanlah tanganmu di dada." Riwayat yang disandarkan kepada Sayyidina 'Ali ra. itu berbunyi: "Letakkanlah tanganmu di atas tangan kirimu sejajar dengan dada sewaktu melaksanakan shalat."

Tidak sependapat dengan yang menafsirkan kata inhar dalam arti meletakkan tangan kanan di atas dada saat shalat, karena Rasul saw. melakukan shalat dengan rincian peletakan tangan yang berbeda-beda, misalnya sekali meluruskan tangan (tanpa meletakkan yang kanan di atas yang kiri), di kali lain meletakkannya di bagian tengah badan (di atas perut) sambil meletakkan telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri, dan masih ada cara-cara yang lain yang kesemuanya berdasar sunnah Rasul saw. Atas dasar itu para ulama akhirnya memperkenalkan istiIah tanawwu' al-'ibidah dalam arti keragaman cara Nabi saw. beribadah, yang salah satu bentuknya adalah perbedaan tentang peletakan tangan dalam shalat. Ini, mengantar kita rnenyatakan bahwa menafsirkan inhar seperti riwayat yang disandarkan kepada 'Ali Ibn Abi Thalib di atas, tidaklah tepat, karena seandainya demikian, maka tidak mungkin Rasul saw. akan melakukan shalat tidak seperti tersebut. Namun, bukankah kenyataannya tidak demikian?

Ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa kata inhar terambil dari kata tanahur dalam arti taqabul yakni berhadapan dengan sesuatu. Pendapat ini memahami perintah ayat di atas untuk melaksanakan shalat dengan menghadapkan wajah ke arah kiblat. Pendapat ini tidak mempunyai dasar yang kuat. Secara umum kita dapat berkata bahwa kata an-nahr digunakan secara populer dalam arti menyembelih binatang sebagai syiar agama. Hari Raya 'idul Adha juga dinamai 'id an-Nahr karena ketika itu dianjurkan untuk menyembelih binatang sebagai kurban. Atas dasar itu, cendetung memahami kata tersebut dalam arti menyembelih binatang baik dalam konteks 'idul Adha, maupun Aqiqah.

Apabila ayat di atas dipahami dalam arti menyembelih binatang untuk korban pada hari raya haji, maka itu bukan berarti bahwa penyembelihan baru sah apabila shalat telah selesai dikerjakan dengan dalih inhar disebut sesudah perintah shalli. Ini bukan saja karena perintah shalat di sini dalam arti berdoa dan beribadab, tetapi juga karena kata wa/dan tidak mengharuskan apa yang disebut setelah dan itu terjadi setelah yang disebut sebelumnya.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

  1. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Nabi Muhammad saw. diejek oleh kaum musyrikin sebagai seorang yang terputus keturunannya. Allah menampik ejekan itu melalui kedua ayat yang Ialu dan menggembirakan Nabi Muhammad saw. dengan anugerah yang banyak, antara lain keturunan yang banyak serta memerintahkan beliau mensyukuri Allah dengan perintah shalat, berdoa, dan menyembelih kurban, Ayat di atas mengembalikan ejekan kepada pengucapnya dengan menyatakan: Sesungguhnya pembencimulah yang abtar yakni terputus keturunannya dan luput dari kebajikan.

 Kata syani’aka terambil dari kata syana’an yang berarti kebencian. Kata ini digunakan al-Qur'an untuk menunjukkan adanya kebencian yang bukan pada tempatnya dan yang lahir karena iri hati (baca QS. al-Maidah ([5): 2 dan 8). Apapun yang diucapkan kaum musyrikin terhadap Nabi, baik bahwa beliau terputus keturunannya maupun terputus dari segala macam kebajikan, namun yang jelas bahwa kata syini’aka menginformasikan bahwa ucapan tersebut lahir dari sikap iri hati dan kebencian kepada Nabi Muhammad saw.

Kata al-abtar terambil dari kata batara yang berarti terputus sebelum sempurna. Kalau kata ini disandarkan kepada hewan, maka ia berarti putus ekornya, dan bila kepada seorang lelaki, biasanya diartikan dengan yang terputus keturunannya. Bisa juga diartikan yang terputus dari kebajikan. Nabi saw. bersabda: "Setiap pekerjaan yang penting dan tidak di mulai dengan Bismillah, maka dia menjadi Abtar (terputus dari kebajikan dan keberkahan). "Jika kita menerima riwayat yang menyatakan bahwa Sabab Nuzulnya ayat ini adalah ejekan kaum musyrikin terhadap Nabi sebagai terputus keturunannya, maka kata abtar adalah yang terputus keturunannya. Sedang jika riwayat tersebut ditolak, maka kata abtar berarti terputus dari kebajikan. Redaksi al-abtar yang bersifat umum dapat menampung kedua pendapat itu.

Siapa yang membenci Nabi Muhammad saw. pastilah abtar, walau dia mempunyai anak keturunan yang bunyak. Al-Walid Ibn al-Mughirah, yang membenci Nabi saw. mempunyai sebelas orang anak, tetapi keturunannya tidak melanjutkan misi dan pandangan orang tuanya sehingga dengan demikian ia dapat dinamai terputus dani keturunannya dan terputus pula dari kebajikan. Khilid Ibn al-Walid ra. adalah seorang putra al-Walid Ibn al-Mughirah, yang merupakan pahlawan pembela Islam.

Kalau kita memahami al-kaulsar dalam arti sungai atau telaga di surga, maka yang membencinya pasti tidak akan meminum dari sungai atau telaga itu, sebaliknya yang mencintai beliau akan meneguk dari sungai atau telaga itu, dan selanjutnya ia tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. Al-Maraghi berpendapat bahwa kebencian yang dimaksud oleh ayat ini adalah kebencian yang tertuju kepada Nabi Muhammad saw., dalam arti kebencian kepada ajaran-ajarannya, bukan kebencian kepada pribadinya. Pribadi beliau amat mempesona, akhlaknya mengagumkan kawan dan lawan, yang mereka tentang adalah ajarannya. Nabi Muhammad saw., sebagai pribadi adalah seorang yang tenang dan tentram jiwanya, gagah berani serta mulia, sangat sederhana, tidak suka kepada kemewahan, atau berlebih-lebihan.

Apa yang dikemukakan oleh ulama Mesir di atas, tentunya - dari satu sisi - ada benamya. Namun demikian, seperti dikemukakan pada uraian ayat pertama, bahwa kata -mu pada inna ‘athainaka/sesungguhnya Kami telah menganugerahimu tertuju kepada pribadi Nabi Muhammad saw., bukan dalam kedudukan beliau sebagal Nabi atau Rasul. Sekian banyak ayat yang ditujukan kepada beliau sebagai pribadi antara lain QS. adh-Dhuha (93): 68. Beliau pun dalam sekian banyak hal bertindak sebagai pribadi, yang tidak ada kaitannya dengan kenabian atau kerasulan.

Di sini, kalau kita katakan bahwa ayat ketiga ini hanya berbicara tentang Sayyidina Muhammad saw. sebagai Nabi, maka apakah itu berarti bahwa yang tidak senang kepada beliau sebagai pribadi, tidak tercakup dalam ancaman ayat ketiga ini? Kita tidak memahaminya demikian - sebagai pemahaman al-Marighi di atas. Hemat kami, ayat ini merupakan ancaman kepada setiap orang yang membenci beliau, baik secara pribadi maupun dalam kedudukan sebagai Nabi dan Rasul.

Para sahabat Nabi dan ulama-ulama terdahulu, berusaha sekuat kemampuan untuk memelihara "Perasaan" Sayyidina Muhammad saw. secara pribadi. Dalam beberapa literatur antara lain tafsir al-Manar, dikemukakan bahwa para pakar hadits berbeda pendapat dalam meriwayatkan hadits Nabi saw. yang berbunyi: "Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, niscaya kupotong tangannya." Menurut literatur tersebut, ada ulama yang enggan menyebut nama putri Nabi itu dalam konteks sesuatu negatif walaupun hal tersebut dalam sebuah hadits yang mengandung pengandaian bahwa beliau mencuri - demi menjaga kehormatan putri tercinta Nabi ini - sehingga oleh ularna tersebut hadits tadi diubah redaksinya menjadi "Seandainya Si Anu mencuri."

Ketika sahabat Nabi saw., Hassan Ibn Tsabit ra. ingin menggubah sebuah syair yang mengecam orang-orang musyrik dari suku Quraisy, yang merupakan suku Nabi Muhammad, beliau bertanya: "Di mana engkau Menempatkan aku?" "Akan kukeluarkan engkau dari mereka, bagaikan menarik rambut dari tumpukan gandum." Demikian jawaban Hassan. Riwayat ini menunjukkan bahwa beliau sebagai manusia, anggota satu suku yang musyrik pun, merasakan ikatan darah dengan keluarganya.

'Umar Ibn al-Khaththab - seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari pernah berkata kepada al-`Abbas (paman Nabi) bahwa: "Demi Allah keislamanmu pada hari engkau memeluk Islam (wahai 'Abbas) lebih kusenangi dari keislaman (ayahku) al-Khaththab seandainya dia memeluk Islam, karena keislamanmu lebih disukai oleh Rasul saw. dari keislaman al-Khaththab." Demikian dikutip oleh Aba Turab azh-Zhahiri, salah seorang ulama kontempoter di Saudi Arabia, yang mengomentari buku karya Ibn Taimiyah yang berjudul Rislah Fada’il Ahl al-Bait Wa huquqihim (Risalah tentang keutamaan keluarga Nabi dan hak-hak mereka).

 Dari sini dapat dimengerti mengapa al-Qur'an menegur orang-orang yang mengganggu pribadi agung itu, walaupun bukan dalam konteks ajarannya. Perhatikan kecaman al-Quran terhadap mereka yang memanggil manggil beliau dengan suara keras pada saat beliau sedang beristirahat di dalam kamarnya.

 

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (4)

  1. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. al-Hujurat (49): 4).

Kalau pun analisa di atas tidak diterima, maka paling tidak dapat disimpulkan bahwa amat sukar memisahkan kedudukan pribadi agung itu sebagai Nabi dan sebagai manusia biasa. Atas dasar itu, kita dapat berkata bahwa apapun motif kebencian terhadap beliau, kesemuanya termasuk dalam ancaman ayat ini bahkan apapun gangguan kepada beliau - dapat mengakibatkan murka Tuhan (baca QS. al-Hujurat (49): 2). Atas dasar pandangan ini pula, sehingga para ulama terdahulu berupaya untuk tidak menyinggung. perasaan beliau, baik yang berkaitan dengan pribadi, keluarga, lebih-lebih yang berkaitan dengan ajaran beliau.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menuhs: "Kita tidak dapat mengingkari pesan terhadap keluarga Nabi dan perintah untuk berbuat baik terhadap mereka serta menghormati mereka, karena mereka adalah keturunan (Nabi) suci, yang merupakan keluarga termulia yang dikenal di permukaan burni ini dari segi kebanggaan, kemuliaan dan keturunan - terutama sekali bila mereka itu mengikuti sunnah Nabi saw., sebaganinana halnya leluhur mereka semacam al-Abbas dan anaknya, serta 'Ali Ibn Abi Thalib, keluarga dan keturunannya, semoga Allah melimpahkan ridha-Nya kepada mereka.

 

Disampikan oleh:

Dr. Jihaduddin, M.Pd.

Wakil Rektor I Universitas Mathla'ul Anwar

Banten

(PKPH, JAKARTA) — Pertumbuhan industri halal Rusia mencapai 15 persen setiap tahun. Hal itu terjadi di tengah lesunya perekonomian negara beribu kota Moskow tersebut. Pemerintah Rusia memprediksi, pertumbuhan ekonomi negaranya pada 2019 hanya 1,3 persen. Sebelum nya, pada 2018 sekitar 2,3 persen. Wakil Ketua Pertama Dewan Mufti Rusia Rushan Abbyasov mengatakan, Kementerian Pertanian Rusia mendukung peningkatan ekspor ke dunia Arab dan negara-negara bekas Uni Soviet. Pasalnya, warga di beberapa negara itu mayoritas Muslim. "Kami sudah melihat pengalaman internasional di dunia Arab dan di Malaysia. Kami telah mengembangkan standar (sertifikasi halal) Rusia, mengikuti model tersebut," ujar Abbyasov, seperti dilansir AFP.

Manajer Pabrik Sosis Halal Ash di Kota Moskow Arslan Gizatullin mengaku, merasakan pertumbuhan ekonomi halal di Rusia. Menurutnya, kini pesaing bisnis di industri halal bermunculan. Ia menuturkan, sudah tujuh tahun menggeluti bisnis sosis halal. "Dalam beberapa tahun terakhir, halal pun menjadi tren di Rusia," kata Gizatullin. Gizatullin melanjutkan, pabriknya membuat sosis gaya Soviet yang dibuat sesuai hukum Islam, ini berbeda dengan produk sosis lainnya. Tapi, kata dia, sekarang telah banyak produsen makanan halal sepertinya. "Saya pergi ke toko pajangan dan saya melihat sosis dari satu, dua, tiga produsen. Saya melihat persaingan semakin meningkat," ujarnya.

Selain lewat daging, ekonomi halal Rusia yang bernilai 2,1 triliun dolar AS tersebut datang pula dari beragam bisnis. Bisnis ini meliputi kosmetik halal serta layanan hotel halal. Keduanya sudah mendapat lisensi dari lembaga yang mengawasi produksi Islam di Rusia. Perusahaan kosmetik di Moskow, yaitu Alif kini sudah mulai mengekspor produk halal. Manager Alif Halima Hosman menyatakan, setahun setelah bisnis diluncurkan, produknya gencar dijual di negara mayoritas Muslim di kawasan Rusia, seperti Dagestan serta Chechnya. Produk Alif populer pula di Uzbekistan dan Kazakhstan. "Target utama ekspor kami sekarang adalah Prancis, Turki, Iran, Arab Saudi," ujar Halima.

Halima menambahkan, perusahaan mendapat dukungan nonfinansial dari pusat sertifikasi halal. Ia memastikan, kosmetik Alif bebas dari alkohol serta lemak hewani. Perlu diketahui, Pusat Standardisasi dan Sertifikasi Halal di bawah wewenang Dewan Mufti Rusia telah menyetujui 200 lebih perusahaan sejak 2007. Setiap tahunnya, jumlah perusahaan yang disetujui meningkat menjadi lima sampai hingga tujuh. Dewan Mufti Rusia pun menyatakan, pameran tahunan barang-barang dan produsen halal di Republik Tatarstan Rusia menjadi pameran terbesar tahun ini di sana. Pejabat Tatarstan menyebutkan, pasar makanan halal menyumbang sekitar 7 miliar rubel per tahun atau tiga persen lebih dari hasil pertanian bruto di kawasan Tatarstan.

 

 Sumber: Republika.co.id
 

(PKPH, Serang)- Dalam rangka persiapan implementasi Undang Undang No 33 Tahun 2014, tentang Jaminan Produk Halal, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Mathla’ul Anwar dan Dinas Pertanian Propinsi Banten menandatangani naskah kerjasama terkait Jaminan Produk Halal untuk pemeriksaan DNA babi, di Kantor Dinas Pertanian Propinsi Banten, KP3B, Serang(29/7).

Kepala Dinas Pertanian Propinsi Banten, Ir H Agus M Tauchid S, M.Si menyampaikan, wilayah Banten merupakan tempat yang sering dilewati dalam perdagangan daging celeng atau babi, yang berasal dari Sumatra. Sehingga penanganan terkait daging babi atau celeng  dan produk turanannya sangat penting untuk menjaga produk  yang dikonsumsi masyarakat  terhindar dari daging haram. Ini merupakan terobosan  besar yang dilakukan oleh Mathlaul Anwar  dalam  pengawasan  produk halal. Saya sangat mengapresiasi LPH Mathla’ul Anwar, ungkapnya. Dinas Pertanian Propinsi Banten dibawah  UPTD Pelayanan dan Pengujian Veteriner  telah memiliki Laboratorium Pengujian DNA babi dan  terakreditasi KAN ISO/SNI 17025.

Direktur LPH Mathl'aul Anwar,  Dwi Marwati Juli Siswanti, ST,M.Si  menyampaikan terima kasihnya kepada Dinas Pertanian atas kerjasama ini, dengan kerjasama ini pelayanan terkait jaminan produk halal akan dirasakan oleh masyarakat. Semoga  masyarakat lebih merasa aman dengan konsumsi produk halal, dan makin berkah.

LPH Mathla’ul Anwar telah bersiap diri dalam pelaksanaan implementasi  UU Jaminan Produk Halal, yang akan berlaku mulai Oktober 2019 nanti. (HS/02)

(PKPH, Serang)-Menjelang  Hari Raya Idhul Adha 1440 H /2019M, Dinas Pertanian Propinsi Banten menyelenggarakan “Pertemuan Teknis Persiapan Menghadapi Idul Adha” dengan dihadiri 50 peserta dari Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota se-Propinsi Banten, UPTD Pelayanan dan Pengujian Veteriner, UPTD Balai Pengujian Mutu dan Perbibitan Ternak Provinsi Banten, MUI Banten, Kanwil Kemenag Banten, dan perwakilan DKM di Propinsi Banten. Kegiatan dilaksanakan Selasa (23/7) bertempat di Auditorium Dinas Pertanian Provinsi Banten.  Pertemuan teknis dibuka dengan sambutan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten,  diwakili oleh Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat, Dr. Ir. Hj. Aan Muawanah, MM.

Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan upaya Dinas Pertanian Pemerintah Propinsi Banten dalam  rangka Sosialisasi  Pemotongan Hewan Kurban Sesuai Kesmavet dan Kesrawan sebagai  manifestasi  jaminan ketentraman batin masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha dalam rangka pemotongan hewan kurban yang memenuhi persyaratan hygienitas, sanitasi, dan kaidah  kesejahteraan  hewan  sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. 

Priyono, utusan peserta Rumah Kreatif Halal dan dua Narasumber

 

Sesi pertama dibuka dengan presentasi Dinas Pertanian Propinsi Banten yang disampaikan oleh Dr. Ir. Hj. Aan Muawanah, MM., mengenai Pengawasan Hewan Kurban di Propinsi Banten, sesi kedua presentasi mengenai Penyembelihan Hewan Kurban Sesuai Kesmavet dan Kesrawan Untuk Menghasilkan Daging yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) yang disampaikan oleh drh. Supratikno, M.Si PAVet  dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang merupakan dosen dan  juga Auditor halal, ahli di bidang penyembelihan halal.  Pada sesi ketiga PKPH diberikan kesempatan untuk menyampaikan paparan mengenai Peran PKPH dalam Penyediaan Daging ASUH yang disampaikan oleh Marlinda Indriati, S.Pt, M.Si.

Kegiatan berjalan  sukses terlihat dari antusias para peserta yang tetap semangat hingga akhir kegiatan, dan banyaknya peserta mengajukan pertanyaan kepada para narasumber. Priyono salah satu peserta kegiatan, perwakilan dari Rumah Kreatif Halal  menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini sangat penting dan bermanfaat. Rumah Kreatif Halal akan menyampaikan sosialisasi tata cara penyembelihan hewan kurban yang sesuai dengan aspek teknis dan syariat islam ke masyarakat baik secara langsung maupun membuat konten leafleat dan poster melalui media sosial, seperti: instragram, facebook,  whatshap.

Dengan dilibatkannya  PKPH  Unma Banten  dalam  kegiatan pelatihan  penyembelihan halal ini merupakan tambahan energi  baru bagi PKPH Unma Banten yang sebelumnya terlibat dalam pelatihan dan pendampingan UMKM di Banten untuk sertifikasi Halal dan juga pendampingan masyarakat membangun  kawasan desa wisata  di wilayah Banten. Diharapkan kedepannya PKPH Unma Banten dapat melaksanakan kegiatan sejenis dan juga dapat terjun ke lapangan secara langsung dalam rangka pengawasan hewan ternak dan juga pengawasan praktek penyembelihan  hewan  halal diwilayah Banten guna menjamin status kehalalannya. (MI/03)

Flag Counter

000550086
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
717
738
5398
15738
20488
550086
IP Anda: 34.204.194.190
21-09-2019 19:42

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: