Halal

Halal (76)

(PKPH, Jakarta)-Ada banyak ragam buah dengan bentuk, rasa dan warna serta nama yang berbeda yang pernah kita jumpai di dunia. Buah juga merupakan salah satu makanan yang menyehatkan bagi tubuh manusia. Begitu banyak jenis nama-nama dan bentuk buah, namun di sini penulis hanya akan membahas enam jenis buah seperti yang disebutkan dalam Al-Quran dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh manusia.

Berikut enam buah yang disebut dalam Al-Quran dan manfaat bagi kesehatan:

  1. Buah Kurma

Buah kurma merupakan salah satu buah khas Timur Tengah. Biasanya kurma di Indonesia banyak dijumpai hanya selama bulan Ramadhan. Dengan tekstur buah kurma yang legit dan manis membuat banyak orang menyukainya. Buah kurma mengandung fruktosa dan glukosa yang keduanya berkalori tinggi, dan mudah serta cepat dicerna. Makanan ini juga sangat cocok untuk dikonsumsi saat berbuka puasa karena dapat menggantikan energi yang hilang.

Kurma juga dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir seperti yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Quran surat Ar-Ra’d ayat 4 yang berbunyi;

 وَفِى ٱلۡأَرۡضِ قِطَعٌ۬ مُّتَجَـٰوِرَٲتٌ۬ وَجَنَّـٰتٌ۬ مِّنۡ أَعۡنَـٰبٍ۬ وَزَرۡعٌ۬ وَنَخِيلٌ۬ صِنۡوَانٌ۬ وَغَيۡرُ صِنۡوَانٍ۬ يُسۡقَىٰ بِمَآءٍ۬ وَٲحِدٍ۬ وَنُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ فِى ٱلۡأُڪُلِ‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَعۡقِلُونَ (٤)

“Dan di Bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S Ar-Ra’d: 4)

Selain itu, kurma merupakan buah yang sering Allah SWT menyebutnya sebanyak 20 kali di 16 surah yang berbeda dalam Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah Shallallahu Allaihi Wasalam (SAW) menjadikan kurma sebagai makanan wajib sehari-hari dalam keluarga. Kurma juga dapat dikonsumsi tanpa mengenal batas usia. Dari ujung akar sampai daun memiliki manfaat, dapat bertahan dalam suhu tinggi hingga 50º C dan dalam kadar garam yang ekstrim, bisa memiliki jangka waktu kadaluwarsa hingga 1,5 tahun.

Selain itu, kurma menurut ilmu kesehatan, juga sangat bermanfaat bagi wanita hamil dan ibu-ibu yang menyusui anak untuk meningkatkan kesehatan janin di dalam perut ibu, mencegah ibu dari rasa lemah, dan memperbanyak air susu.

“Berilah makan buah kurma kepada istri-istrimu yang sedang hamil, karena sekiranya wanita hamil itu makan buah kurma, niscaya anak yang lahir kelak akan menjadi anak yang penyabar, bersopan santun, serta cerdas. Sesungguhnya makanan Maryam tatkala melahirkan Nabi Isa adalah buah kurma. Sekiranya Allah menjadikan suatu buah yang lebih baik daripada kurma, maka Allah akan memberikan buah itu kepada Maryam.” (H.R Bukhari)

Senada hadits tersebut, Dokter Muhammad an-Nasimi dalam kitabnya, ath-Thib an-Nabawy wal ‘Ilmil Hadis (Pengobatan Ala Nabi dan Ilmu Modern) juga mengatakan bahwa perempuan hamil yang akan melahirkan sangat membutuhkan makanan dan minuman yang kaya akan unsur gula. Hal ini dikarenakan banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan jabang bayi, terlebih lagi jika hal itu membutuhkan waktu yang lama. Sehingga kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolennya, yaitu kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi. Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam Kurma basah (ruthab). Kandungan gula dalam ruthab sangat mudah dan cepat dicerna oleh tubuh.

Kurma segar memberikan manfaat besar kepada otak, dengan kandungan 2,2% protein, juga berisi banyak jenis vitamin A, B1, dan B2. Kurma sangat bergizi serta memberi energi meskipun dalam jangka waktu yang panjang kita tidak mengonsumsi makanan, itu sebabnya kurma sangat baik dikonsumsi.

  1. Buah Zaitun

Zaitun merupakan salah satu tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Bahkan Allah sering menyebutnya dalam Al-Quran, salah satunya dalam Surat An-Nahl ayat 11.

 يُنۢبِتُ لَكُم بِهِ ٱلزَّرۡعَ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلنَّخِيلَ وَٱلۡأَعۡنَـٰبَ وَمِن ڪُلِّ ٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَةً۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَڪَّرُونَ (١١)

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang memikirkan. (An-Nahl:11) 

Selain buahnya yang dapat menyehatkan fungsi hati karena klorin yang terkandung di dalamnya, zaitun juga dapat melancarkan saluran pencernaan. Buah zaitun juga dapat diolah menjadi minyak zaitun yang bisa digunakan sebagai minyak untuk memasak, kecantikan wajah, menutrisi rambut  dan masih banyak lagi.

Manfaat buah zaitun berasal dari nutrisi, vitamin, mineral, dan senyawa organiknya, termasuk zat besi, serat, tembaga, vitamin E, senyawa fenolik, asam oleat (asam lemak tak jenuh) dan berbagai antioksidan.

  1. Buah Anggur

Buah anggur sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Selain itu, buah anggur juga di Indonesia sangat mudah didapatkan karena banyak terjual ditempat perbelanjaan seperti pasar atau toko buah. Anggur juga sering disebut dalam Al-Quran. Beberapa ulama berpendapat anggur disebut dalam Al-Quran sebanyak enam kali. Bahkan dalam Al-Quran melambangkan kenikmatan dan kurnia Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana firman Allah.

,,,أَيَوَدُّ أَحَدُڪُمۡ أَن تَكُونَ لَهُ ۥ جَنَّةٌ۬ مِّن نَّخِيلٍ۬ وَأَعۡنَابٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ لَهُ ۥ فِيهَا مِن ڪُلِّ ٱلثَّمَرَ

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan,,,” (Al-Baqarah: 266)

Adapun manfaat dalam buah ini yaitu mengandung vitamin yang terdapat di dalam buah ini, antara lain mineral (fosfor), kalsium, vitamin A dan B serta gula (glukosa  dan fruktosa). Hal-hal itu sangat diperlukan oleh limpa dan dikeluarkan ketika diperlukan seperti ketika berpuasa.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Anggur termasuk buah-buahan yang terbaik dan paling banyak kegunaannya, bisa dimakan dalam keadaan basah maupun kering, yang hijau dan masak maupun yang masih mengkal. Anggur menjadi buah sesungguhnya bila dikombinasikan dengan buah-buahan, menjadi makanan pokok bila digabungkan dengan makanan lain, menjadi lauk bila dikombinasikan dengan lauk lain, menjadi obat bila dicampur dengan obat lain dan menjadi minuman bila dicampur dengan minuman lain.”

Manfaat anggur juga bisa membantu tajamkan daya ingat, termasuk mengurangi risiko Alzheimer. Para ilmuwan percaya, bahwa nutrisi dalam buah anggur mampu melindungi bagian otak yang berkaitan dengan memori terhadap kerusakan. Penelitian yang dilakukan oleh University of California yang dipimpin Dr. Daniel Silverman menemukan ada perubahan yang signifikan pada peserta yang mengonsumsi buah anggur dalam bentuk bubuk dua kali sehari selama 6 bulan.  Setengah peserta diminta mengonsumsi bubuk anggur setara dengan 72 gram anggur sehari dalam 6 bulan, hasil menunjukkan, bahwa makan buah anggur mempromosikan aktivitas metabolisme yang sehat di daerah otak yang berkaitan dengan memori.

“Hasil penelitian menunjukkan asupan rutin anggur dapat memberikan efek baik bagi daya ingat, termasuk perlindungan terhadap penurunan memori awal yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer,” kata Dr. Daniel. Ia menambahkan, hal itu berlaku untuk semua jenis anggur, baik anggur hitam atau putih. (A/R10/P1)

 

Oleh: Hasanatun Aliyah Wartawan Kantor Berita MINA

Sumber: MINANEWS

Bersambung….

(PKPH, Pandeglang)-Pernahkah  anda makan daging kelinci ? Banyak yang bilang daging kelinci sangat lezat. Bolehkan kita memakan dagingnya? Kelinci adalah hewan kelompok mamalia, karena kelinci mempunyai kelenjar mammae, Kelinci mempunyai daun telinga, kelinci masuk dalam famili Leporidae, kelinci sangat mudah ditemukan dibanyak negara, kelinci berkembang biak dengan beranak atau vivivar. Sebelumnya kelinci ini disebut sebagai hewan liar yang hidup di Eropa hingga Afrika.

Klasifikasi Kelinci

Kingdom          : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Mammalia

Order               : Lagomorpha

Family              : Leporidae

Genus              : Oryctolagus

Species            : Orictolagus cuniculus

 

Deskripsi Kelinci

Bagian tubuh kekinci di selimuti dengan bulu halus tetapi lebat, memiliki warna yang sangat bervariasi mulai dari warna hitam, kecokelatan, abu-abu, hitam putih, dan lain-lain. Bagian mata pada kelinci berwarna kemerahan, berbentuk bulat kelonjongan. Bagian hidung pada kelinci berbentuk silindris, mempunyai gigi seri di bagian depan berguna untuk memotong atau mengunyah rumput. Telinga pada kelinci panjang, tegak dan menghadap kedepan. Telinga ini memiliki warna yang sama dengan bentuk tubuhnya. Sedangkan kaki pada kelinci memiliki dua pasang, satu pasang di bagian depan sangat panjang dan satu pasang di bagian belakang sangat pendek.

Panjang rata-rata pada kelinci ini mencapai 50-60 cm bahkan lebih, kelinci mampu memproduksi 6-10 ekor perindukan. Usia memproduksi indukan jantan dan betina minimal 5-6 bulan, tergantung pada varietas kelinci. Kumis pada kelinci hampir menyerupai kucing, sangat halus dan juga pertumbuhan jarang. Kumis ini terdapat di sekitar bagian hidung kelinci tepatnya di bagian samping kiri dan kanan hidungnya. Kelinci memiliki ekor yang sangat pendek 2-4 cm, terkadang tampak dan tidak.

Mengonsumsi daging kelinci merupakan pemandangan yang tak sulit dijumpai di masyarakat. Banyak dari mereka yang menyukai karakter khas daging ini. Bahkan, ada sebagian rumah makan yang khusus menyediakan masakan dari daging ini. Diantaranya masakan daging kelinci yang kita temui misalnya sate kelinci, kelinci gulai, tongseng kelinci dan beberapa masakan-masakan lain yang berasal dari daging kelinci.

Bagaimana hukumnya memakan daging kelinci?

 Dari Anas bin Malik radiyallahu’anhu, beliau menceritakan,“Kami pernah berusaha menangkap kelinci di lembah Marru Zhohran. Orang-orang berusaha menangkapnya hingga mereka kelelahan. Kemudian aku berhasil menangkapnya lalu aku berikan kepada Abu Tholhah. Diapun menyembelihnya kemudian daging paha diberikan kepada Nabi sahallallahu ‘alaihi wasallam.Dan beliau menerimanya.”(HR. Bukhari 5535, Muslim 1953, dan Turmudzi 1789).

Kemudian dalam hadist lain dari Muhammad bin Shafwan rdiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, Saya menangkap 2 kelinci, namun saya tidak mendapat alat untuk menyembelihnya, hanya saya bisa menyembelihnya di Marwah. Kemudian aku tanyakan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menyuruhku untuk memakannya. (HR. Nasal 4313, Abu Daud 2822, Ibnu Majah 3175) dan dishahihkan al-Albani).

Dua hadist di atas memberikan kesimpulan bahwa kelinci hukumnya halal. Dan ini merupakan pendapat Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Said, Atha, Ibnul Musayyab, Al-Laits, Malik, Asy-Syafi’I, Abu Tsaur dan IBnul Mudzir. Bahkan Ibnu Qudamah mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada seorangpun ulama yang berpendapat haramnya kelinci kecuali satu riwayat dari Amr bin Al-Ash.” (Al-Mughni, 9/412)

Fatwa MUI: Memperbolehkan konsumsi Kelinci

Sidang MUI  di Jakarta pada 12 Maret 1983, Komisi Fatwa MUI menetapkan bahwa hukum memakan daging kelinci adalah halal. Keputusan ini didasari hadis yang diriwayatkan Jamaah – Nail al-Autarjus 7 hal.137.”Dari Anas, ia berkata: Melintas di depan kami seekor kelinci di Marri Zahran, maka orang-orang mengejar dan menangkapnya, dan aku mendapatinya. Maka aku memberikan kepada Abu Talhah lalu di sembelihnya. Dan ia mengirim kepada Rasulullah kedua pahanya dan beliau menerimanya.”

MUI juga mempertimbangkan surat permintaan Direktur Urusan Agama Islam Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Departemen Agama RI di Jakarta No:D11/5/HK.03.1/3647/1982 tanggal 27 November 1982 tentang daging kelinci. Termasuk pula surat Sekretaris Direktur Jendral Peternakan Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian RI di Jakarta No: 512NI1b/E tanggal 8 juli 1982.

Dari referensi tersebut, maka mengonsumsi kelinci adalah dihalalkan, sebab menurut hadist dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia menetapkan bahwa hukum memakan daging kelinci adalah halal, sesuai ajaran islam.

 

Iin Yuwinani

Mahasiswa Prodi Biologi, Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

 

 
 
 
 
 

 

Katak adalah binatang amphibi pemakan serangga yang hidup di air tawar atau daratan, berkulit licin, berwarna hijau atau merah kecokelat-cokelatan, kaki belakang lebih panjang, pandai melompat dan berenang.

Klasifikasi  Katak

Berdasarkan tingkat taksonomi umumnya, katak di klasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom           : Animalia

Phylum             : Chordata

Class                 : Amphibia

Order               : Anura

Familia              : Ranidae

Genus              : Fejervarya

Species            : F. cancrivora

 

Deskripsi Katak

Fejervarya cancrivora merupakan katak besar, tekstur kulit memiliki lipatan-lipatan dan bintil-bintil memanjang searah dengan sumbu tubuh. Warna kulit bervariasi, coklat lumpur kotor dengan bercak gelap. Jari-jari kaki meruncing, selaput renang mencapai ujung,  kecuali 1 atau 2 ruas jari kaki keempat (yang terpanjang).

 

Habitat

Katak ini sangat banyak dijumpai di sawah-sawah. terdapat dalam jumlah banyak di sekitar rawa dan bahkan di daerah berair asin, seperti tambak atau hutan bakau.

 

Penyebaran

Indo-Cina,Hainan sampai sampai ke Filipina, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya (Introduksi).

 

Bagaimana hukumnya memakan katak?

Dari segi dalil, kita menemukan sebuah hadits yang menyebutkan tentang memakan hewan katak “Dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy bahwasanya seorang tabib (dokter) bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka Rasulullah SAW melarang membunuhnya.” (Ditakharijkan oleh Ahmad dan di Shahihkan Hakim, ditakhrijkannya pula Abu Daud dan Nasa’I).

Hadist dari  para ulama umumnya mengatakan bahwa memakan daging katak itu tidak halal. Sebab Rasulullah SAW melarang untuk membunuhnya. Seandainya boleh dimakan, maka tidak akan dilarang untuk membunuhnya. Hukumnya pun haram dimakan, meski tidak ada keterangan bahwa dagingnya najis atau haram dimakan.

Seandainya boleh dimakan, maka tidak akan dilarang untuk membunuhnya, Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Ahmad Ishaq, Alhakim dari Abdurrahman bin Utsman at-Tamimi. Silahkan periksa kitab Al Lubab Syahril Kitab jilid 3 halaman 230, juga kitab Takmilatul Fathi jilid 8 halaman 62, kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 4 halaman 298 dan kita Al-Muhazzab jilid 1 halaman 250.

Mereka yang mengharamkan kodok juga mendasarkan larangan ini dengan dalil bahwa katak itu termasuk hewan yang menjijikan secara umum. Walhasil, kecenderungan jumhur ulama berpendapat bahwa katak itu tidak halal dimakan berdasarkan dalil dan kaidah diatas.

 

Fatwa MUI: Katak atau Kodok sebaiknya Dihindari

“Terkait katak atau kodok dan ada beberapa jenis lain,  MUI secara khusus pernah melakukan pengkajian”. Sekretaris Komisis Fatwa MUI Asrorun Ni’am. mengatakan binatang yang hidup di dua alam haram dikonsumsi, sekalipun binatang itu suci dan bisa dikembangbiakkan. “Para ulama beda pendapat, namun  jumhur (mayoritas ulama) menyatakan itu terlarang. Tapi MUI juga mengakui ada mazhab yang menyatakan daging katak atau kodok bisa dikonsumsi. Lalu apa kesimpulan dari kajian MUI tersebut? Ni’am menyata MUI menghimbau agar daging katak sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi mengingat adanya perbedaan pandangan para ulama.

“Fatwanya sudah ada. Mengimbau untuk memilih makanan konsumsi yang aman secara kesehatan dan keluar dari perbedaan pandangan fuqoha (ahli fikih). Kalau bisa dihindari, ya dihindari. Begitu, ya. Karena terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama,” kata Ni’am.

Kajian MUI ini,  menyimpulkan hal lain di samping soal konsumsi, yakni pengembangbiakan katak. Untuk poin kedua ini, MUI memberikan lampu hijau sepenuhnya. “Membudidayakan untuk kepentingan nonkonsumsi, seperti untuk menggemburkan tanah dan lain-lain, itu diperkenankan”, ujarnya.

Berdasarkan referensi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa katak hukumnya haram untuk dimakan, namun diperbolehkan membudidayakannya untuk kepentingan nonkonsumsi seperti untuk menggemburkan tanah dan lain-lain.

 

Iin Yuwinani

Mahasiswa Prodi Biologi

Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Jangkrik merupakan salah satu jenis serangga, hewan ini biasanya hidup di berbagai tempat yang basah dan dingin. Jangkrik dapat kita temukan lewat suara khas yang keluar dari hewan tersebut, terutama pada saat malam hari.

Klasifikasi dan morfologi jangkrik berdasarkan tingkat taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Klasifikasi Jangkrik

Kingdom          : Animalia

Phylum            :  Arthropoda

Class                : Insecta

Order              : Ortoptera

Family              : Gryllidae

Genus             : Gyllids

Species           : Gryllus mitratus

Deskripsi Jangkrik

Morfologi

Jangkrik yang hidup dan berkembang biak yang ada di Indonesia terdapat 123 jenis dan belum dapat diketahui asal usulnya serta bangsanya. Berdasarkan beberapa pengamat jangkrik memiliki panjang berkisar 2-3 cm, warna tubuh bervariasi, tetapi pada umumnya memiliki warna cokelat, kehitaman dan hitam (Paiman et al. (1999).

Untuk ras/bangsa yang memiliki sayap dan tubuh yang berwarna kuning kemerahan, hitam legam memiliki ukuran mencapai 5 cm bahkan lebih, untuk jenis ini biasanya digunakan untuk pakan burung, ikan, dan digunakan untuk aduan suara yang sangat nyaring (Susena, 1999).

Alat Pencernaan Jangkrik

Alat pencernaan Jangkrik terdiri atas usus depan untuk penghancuran makanan, usus tengah untuk penyerapan sari makanan, dan usus belakang untuk pengeluaran sisa-sisa makanan.

Alat Reproduksi Jangkrik

Alat reproduksi pada jangkrik jantan adalah aedeagus dan pada jangkrik betina adalah ovipositor. Aedeagus pada jangkrik jantan tidak terlihat karena berada di dalam tubuh, sedangkan ovipositor pada jangkrik betina terlihat jelas seperti bentuk jarum yang ujungnya seperti tombak dan berfungsi untuk meletakkan telur.

 

Bolehkah kita mengkonsumsi jangkrik?

Berdasarkan pengamatan kaidah fiqih dan pertimbangan ushul fiqih sebelum mencari dalil-dalil (nash) tentang halal haramnya jangkrik maka kita perlu menegaskan sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram fil Islam (hal.22) bahwa hukum asal segala sesuatu adalah boleh (al-Ashlu fil asya’al-ibadah) menurut beliau, bahwa hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan dan manfaatnya adalah halal dan boleh, kecuali yang ditentukan hukum keharamannya secara pasti oleh nash-nash yang shahih dan sharih (accurate texts and clear statements). Maka jika tidak ada nash seperti itu maka hukumnya kembali kepada asalnya yakni boleh. (istishab hukmil ashl). Prinsip inilah yang dipakai Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menentukan hukum segala sesuatu selain ibadah dan aqidah. (Qawa’id Nuraniyah Fiqhiyah, hal. 112-113).  

Kaidah hukum itu berdasarkan ayat-ayat yang jelas (sharih), firman Allah: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah:29) Demikian pula dalam surat Al-Jatsiyah:13 dan Luqman:20. Inilah  bentuk rahmat Allah kepada umat manusia dengan berlakumnya syariah yang memperluas wilayah halal dan memperluah wilayah halal dan mempersempit wilayah haram, seperti ditegaskan oleh Nabi saw: “Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka ia adalah halal (hukumnya) dan apa yang Dia haramkan maka (hukumnya) haram. Sedang apa yang Dia diamkan maka ia adalah suatu yang dimaafkan. Maka terimalah pemaafan-Nya, karena Allah tidak mungkin melupakan sesuatu.” (HR. Hakim dan Bazaar).

Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-139/MUI/IV/2000 Tentang Makan Dan Budidaya Cacing dan Jangkrik Majelis Ulama Indonesia setelah:

Menimbang:

  • Bahwa budidaya cacing dan jangkrik kini banyak dilakukan orang, baik untuk makan (pakan) hewan tertentu, obat-obatan, jamu dan kosmetik, maupun untuk dikonsumsi (dimakan orang)
  • Bahwa masyarakat memerlukan penjelasan tentang hukum membudidayakan, makan, dan memanfaatkan kedua jenis binatang tersebut
  • Bahawa oleh karena itu,Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang membudidayakan, makan, dan memanfaatkan kedua jenis binatang tersebut untuk dijadikan pedoman oleh masyarakat.

Memperhatikan:

  1. Makalah Budidaya Cacing dan Jangkrik dalam Kajian Fiqh yang dipresentasikan oleh Dr. KH. Ahmad Munif, pada siding Komisi Fatwa MUI.
  2. Pandangan ahli budidaya cacing dan jangkrik yang disampaikan pada sidang Komisi Fatwa MUI.
  3. Pandangan peserta sidang Komisi Fatwa MUI.

 Mengingat :

1. Firman Allah SWT: “Allah-lah yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu sekalian” (QS. Al-Baqarah[2]:29). “Allah menundukkan untukmu semua yang ada di langit dan di bumi (segala rahmat)  dari-Nya” (QS. Al-Jasiyah: 13). “Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentingan) mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin” (QS.Luqman: 20)

2.Hadist Nabi SAW: Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitabNya (al-Qur’an) adalah halal, apa-apa yang diharamkan-Nya , hukumnya haram, dan apa-apa yang Allah diamkan/tidak dijelaskan hukumnya, dimaafkan. Untuk itu terimalah pemaafan- Nya, sebab Allah tidak pernah lupa tentang sesuatu apa pun” (HR. Al-Hakim). “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia- siakan, menentukan beberapa ketentuan, janganlah kamu langgar, mengharamkan   beberapa hal, janganlah kamu rusak, dan Allah tidak menjelaskan hukum beberapa hal karena kasih sayang padamu, bukan karena lupa, janganlah kamu cari-cari hukumnya.” ( HR. Turmuzi dan Ibnu Majah)

3. Kaidah fiqh : “Pada dasarnya segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah/boleh.

Memutuskan

Menetapkan : Fatwa Tentang Makan dan Budidaya Jangkrik

Hukum yang berkaitan dengan jangkrik

  1. Jangkrik adalah binatang serangga yang sejenis dengan belalang
  2. Membudidayakan jangkrik untuk diambil manfaatnya, untuk obat/kosmetik misalnya, untuk dimakan atau dijual, hukumnya adalah boleh (mubah, halal), sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat).

Berdasarkan referensi tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi dan membudidayakan jangkrik untuk di ambil manfaatnya hukumnya adalah mubah/boleh, sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat).

 

 

Iin Yuwinani

Mahasiswi Prodi Biologi, Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

(PKPH, Serang)-Status halal suatu bahan pangan bukan hanya sebagai kewajiban yang diperintahkan Allah SWT bagi kaum muslim atas makanan yang  dikonsusi tetapi kini sudah menjadi lifestyle yang menjadi syarat mutlak atas segala sesuatu yang dipakai dan dikonsumsi di kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan bahan pangan daging baik itu daging sapi, kerbau, dan ayam yang diperoleh dari rumah penyembelihan hewan (RPH) dimana syarat halalnya suatu bahan pangan hewani selain dari jenis hewan  yang diharamkan untuk dikonsumsi seperti: daging babi, anjing, hewan yang bertaring tajam dan hewan yang hidup di dua alam,  juga proses penyembelihan merupakan titik kritis yang menentukan status kehalalan daging.

Dalam rangka menjaga kehalalan atas komoditas daging yang beredar di pasaran, Pemerintah Provinsi Banten pada Rabu, 19 juni 2019 telah mengadakan Pendidikan dan Pelatihan terhadap para juru sembelih halal (JULEHA) yang diadakan di Auditorium Balai Pengembangan Peternakan, Kawasan Pusat Pertanian Terpadu Dinas Pertanian Provinsi Banten. Dalam kegiatan tersebut PKPH UNMA Banten berkesempatan hadir untuk terlibat sebagai peserta sekaligus sebagai tamu undangan dari pihak akademisi.

Pemateri yang diundang dalam kegiatan tersebut berasal dari Fakultas Kedokteran IPB yang merupakan dosen dan juga seorang auditor halal BPJPH yang ahli di bidang penyembelihan halal,  Drh. Supratikno, M.Si PA Vet dan juga dari MUI Provinsi Banten KH. Endang Saepul Anwar. Peserta selain mendapatkan ilmu mengenai teknik penyembelihan halal, dalam kegiatan tersebut diingatkan kembali atas kewajiban seorang juru sembelih dalam menjaga kehalalan ternak yang disembelihnya dari segi agama, dampak terhadap kualitas daging yang penyembelihannya tidak sempurna dan juga akan pentingnya sertifikasi dan keahlian berbahasa inggris bagi juru sembelih karena kesempatan bagi mereka untuk bisa berkarir diluar negri karena kebutuhan akan juru sembelih halal disana semakin tinggi.

Sesi kedua dilaksanakan praktik begaimana proses penyembelihan hewan yang benar juga mengevaluasi bagi juru sembelih disetiap wilayah banten bagaimana mereka biasa melakukan penyembelihan dan menkoreksi apabila terjadi kesalahan atas kebiasaan yang mereka lakukan. Diakhir acara dilakukan pembagian sertifikat bagi peserta pelatihan bahwa mereka sudah tersertifikasi sebagai juru sembelih halal yang sudah terdidik dan juga akan selalu dievaluasi dalam jangka waktu tertentu oleh Dinas Pertanian Pemerintahan Provinsi Banten.

Dengan terlaksananya kegiatan tersebut diharapkan terjaminmya status halal terhadap komoditas daging (sapi, kerbau dan ayam) diseluruh wilayah Provinsi Banten dan juga bagi para juru sembelih halal yang tersertifikasi dapat meningkatkan jenjang karirnya dengan tetap kritis untuk mau mengikut setiap kegiatan pelatihan dan meningkatkan kemampuan mereka. (Marlinda)

 

(PKPH, Pandeglang)- Bekicot  merupakan salah satu hewan yang biasa ditemukan di tempat-tempat lembab, dengan ciri khas memiliki tempurung yang berfungsi untuk melindungi dirinya. Tempurung bekicot ini selalu menyertainya dimana pun hewan ini berjalan, seperti halnya terjadi pada siput dan kura-kura.

Klasifikasi Bekicot

Berdasarkan tingkat taksonomi,  umumnya bekicot diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom          : Animalia

Phylum            : Mollusca

Class               : Gastropoda

Order              : Stylommatophora

Family             : Achatinidae

Genus             : Achatina

Species           : Achatina fulica

 

Deskripsi Bekicot

Morfologi

Bekicot memiliki tubuh lunak (Moluska) dan tidak memiliki tulang belakang. Tubuhnya dilindungi oleh cangkang dari bahan kapur yang kuat dan di dalamnya mengandung lapisan mutiara. Cangkang bekicot terpilin spiral dengan jumlah putaran tujuh, bentuk cangkang fusiform, tidak memiliki tutup cangkang dan warna cangkang coklat dengan pola-pola garis gelap dipermukaannya. Alat indra bekicot meliputi mata, ospharaduia dan statocyt. Berkaki lebar dan pipih pada bagian ventral tubuh.

Anatomi

Situs Viscerum atau anatomi bekicot terdiri dari System Respiratorium (Sistem Pernafasan) yaitu: Pallium (atap dinding rongga dalam perut), berfungsi sebagai paru-paru, pertukaran udara berlangsung pada bagian vassa-vassa. System Cardiovasculare (Sistem Peredaran Darah)  yaitu cor (jantung) terdiri dari 2 ruangan yaitu: atrium (warna kuning kemerahan) dan Ventrikel (warna putih). System Digestorium (Sistem pencernaa makanan) meliputi: Cavum oris (rongga mulut), Esophagus (kerongkongan), Ventriculus (Lambung),  Intestinum  (Usus), Anus (Muara keluar saluran). System Urogenitalis (Sistem kencing dan kelamin) meliputi : organa ropetica, dan Organa genitalia.

Akhir-akhir ini ramai terjadi di masyarakat penjualan daging bekicot. Umumnya hewan ini dimasak dalam bentuk sate, sehingga lebih dikenal dengan "sate bekicot". Masyarakat awam merespon fenomena tersebut dengan sikap yang berbeda-beda. Ada yang membeli dan mengonsumsinya, tanpa peduli apakah halal atau tidak, bahkan ada pula yang menganggap bahwa "sate bekicot" merupakan salah satu objek mata pencaharian.

Halal atau haramkah mengonsumsi  bekicot ?

Hukum mengonsumsi hewan ini adalah haram, karena hewan ini dianggap hewan yang menjijikan (menurut orang arab).”(Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz 1, hal.234)

Bekicot darat termasuk hasyarat, dan hasyarat hukumnya haram. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya: Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Daud Ad–Dhahiri, dan Syafiiyah. An-nawawi mengatakan,“Madzhab-madzhab para ulama tentang hewan melata bumi…, madzhab kami (syafiiyah hukumnya haram. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Daud. Sementara Malik mengatakan, boleh.” (Al-majmu’, 9/16).

Ibnu Hazm mengatakan,“Tidak halal makan bekicot darat, tidak pula binatang melata semuanya, seperti: cicak, kumbang, semut, lebah, lalat, cacing dan yang lainnya, baik yang bisa terbang, kutu kain atau rambut, nyamuk, dan semua binatang yang semisal. Berdasarkan firman Allah, yang artinya: “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah….” Kemudian Allah tegaskan yang halal, dengan menyatakan,”Kecuali binatang yang kalian sembelih.”

Kemudian Ibn Hazm menegaskan,“Sementara dalil yang shahih telah menegaskan bahwa cara penyembelihan yang hanya bisa dilakukan pada leher atau dada. Untuk itu, hewan yang tidak mungkin disembelih, tidak ada jalan keluar untuk bisa memakannya, sehingga hukumnya haram. Karena tidak memungkinkan dimakan, kecuali dalam keadaan bangkai, yang tidak disembelih. (Al-Muhalla, 6/76).

Fatwa MUI: Bekicot Haram Dimakan

“Hukum memakan bekicot adalah haram” Kata sekretaris komisi Fatwa MUI Asrorun Niam. Menurut doktor hukum islam ini, selain memakan, mengelola dan membudidayakan untuk konsumsi juga tidak boleh. “Demikian juga haram membudidayakan dan memanfaatkannya untuk kepentingan konsumsi” tambah Niam. Niam menjelaskan bahwa bekicot merupakan salah satu jenis hewan hasyarat. Sesuai ajaran islam, hukum memakan hasyarat adalah haram. “Sesuai jumhur Ulama, Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyyah, sedangkan Imam Malik menyatakan kehalalan jika ada manfaat dan tidak membahayakan” tuntasnya.

Fatwa MUI ini disahkan pada tahun2012. Fatwa ditandatangani Prof DR Hasanuddin AF selaku Ketua Komisi Fatwa. Berdasarkan referensi di atas, maka mengonsumsi hewan bekicot adalah hal yang di haramkan, sebab bekicot termasuk salah satu jenis hewan hasyarat. Sesuai ajaran islam, hukum memakan hasyarat adalah haram.  Sehingga meskipun sebagian orang ada yang menganggap bekicot sebagai hewan yang normal untuk dikonsumsi dan di anggap tidak menjijikan, maka penilaian sama sekali tidak mempengaruhi terhadap keharaman mengonsumsi hewan bekicot.

 

Iin Yuwinani

Mahasiswi Prodi Biologi Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

 

(PKPH, Pandeglang)- Revolusi Industri 4.0 berdampak dengan membanjirnya serbuan berbagai produk makanan, kosmetika dan obat-obat yang diragukan bahkan tidak memiliki jaminan kehalalan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Dalam Undang Undang No 33 Tahun 2014, Tentang Jaminan Produk Halal, pasal 4 menyebutkan bahwa semua produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Kesadaran umat islam khususnya, tentang produk makanan dan minuman halal masih rendah. Berdasarkan hasil jajak pendapat Rumah Kreatif Halal baru-baru ini, menunjukkan masyarakat masih mengabaikan labelisasi halal. Saat memilih restoran atau makanan, faktor halal belum jadi pertimbangan utama.

Disinilah peran mahasiswa dibutuhkan untuk membangun kesadaran masyarakat, khususnya umat muslim. Mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) ikut berperan aktif dan bertanggungjawab terhadap kondisi ini. Guna mendorong sosialiasasi pola hidup halal di tengah masyarakat, mahasiswa Universitas Mathla’ul Anwar dibawah binaan Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) Universitas Mathla’ul Anwar Banten melakukan berbagai macam kegiatan, antara lain pernah menggelar seminar nasional dan workshop yang bertema “Tantangan dan Peluang dalam Menghadapi Implementasi UU Jaminan Produk Halal” pada tanggal 10 April 2019 di Serang Banten. Diharapkan dengan kegiatan seminar tersebut mahasiswa, masyarakat, pelaku usaha UMKM dan Industri, Pemerintah Daerah  akan lebih sadar pentingnya jaminan produk halal.

Mahasiswa harus memiliki kesadaran mengenai pentingnya produk-produk halal, bukan hanya produk-produk bermutu tinggi, namun tidak memenuhi prinsip kehalalan, tetapi bagaimana sebuah produk bisa dinilai bermutu tinggi dan sesuai dengan prinsip kehalalan. Mahasiswa harus menjadi teladan dalam penggunaan produk-produk halal dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa harus lebih peduli dengan produk yang dibeli dan dikonsumsi dengan memastikan bahwa produk tersebut halal.

Di era sekarang dengan begitu banyak jenis produk yang beredar di masyarakat menuntut setiap muslim untuk teliti dalam memilih produk yang akan dikonsumsinya. Untuk itulah perlunya mahasiswa berperan aktif dalam menyampaikan, mensosialisasikaan, melatih, dan mendampingi massyarakat dalam penggunaan produk halal.

Dalam UU JPH, Masyarakat, termasuk  mahasiswa juga dapat  mengawasi peredaran produk-produk halal atau yang diragukan bahkan tidak memiliki jaminan kehalalan. Sebagai contoh, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung Aksi Keluarga Muslim Nusantara (AKMN) pada Oktober 2018 yang mendemo salah satu restoran cepat saji karena beberapa produk yang dijual di restoran tersebut telah habis masa berlaku sertifikat halalnya dari MUI. Sehingga mereka menilai makanan di tempat itu diragukan kehalalannya untuk dikonsumsi warga muslim. Namun kegiatan pengawasan kehalalan produk-produk oleh mahasiswa dinilai masih minim dan sangat kurang sekali, sehingga perlu ditingkatkan lagi. Padahal ribuan industri makanan, restoran, dan warung makan yang bertebaran di Banten khususnya dan Indonesia pada umumnya hanya beberapa yang memiliki sertifikat halal dan bahkan ada yang sudah kadaluarsa. Demikiana juga dengan hotel, tidak banyak yang dapurnya sudah bersertifikat halal. Kondisi tersebut menjadi tugas bagi mahasiswa untuk berperan aktif dan mendorong penyelenggaraan jaminan produk halal di industri makanan, restoran, warung makan, dan hotel dengan memberikan penyadaran dan pressure tentang pentingnya produk bersertifikat halal.

Menyongsong implementasi Undang-undang No. 33 Tahun 2014, Mahasiswa agar dapat berkontribusi lebih luas, agar pelaksanaannya betul-betul memberikan jaminan tentang kehalalan produk yang sangat penting bagi umat muslim agar tidak melanggar kaidah Islam. Yang tak kalah penting dari implementasi undang-undang No. 33 Tahun 2014 adalah bahwa produk bersertifikat halal ini gunanya memberikan rasa aman bagi para konsumen, meningkatkan kualitas dan daya saing pelaku usaha. Juga, sebagai jaminan untuk mereka kalau produk yang mereka konsumsi tersebut aman dari unsur yang tidak halal dan diproduksi dengan cara halal dan beretika.

Terlebih lagi halal itu tidak sekedar makanan, tentu juga lifestyle. Saat ini Halal lifestyle sudah menjadi trend bahkan di negara-negara yang tidak tergolong negara muslim. “Bukan berarti yang halal itu hanya khusus orang muslim. Produk halal itu untuk semua.

 

Priyono, Ketua Rumah Kreatif Halal

Mahasiswa Prodi Farmasi

Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

(PKPH, Pandeglang)- Tanggal 29 April 2019 Presiden RI Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 31 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang Undang No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. PP inilah yang telah lama ditunggu oleh masyarakat sebagai landasan operasional dalam penyelenggaraan jaminan produk halal di Indonesia. 

PP ini mengatur lebih detail tentang penyelenggaraan JPH di Indonesia seperti tata cara kerjasama, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), biaya sertifikasi halal, tata cara registrasi produk, penahapan jenis produk serta pengawasan. Undang Undang No 33 Tahun 2014 pasal 4 menyebutkan bahwa semua produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Diksi dalam Undang Undang ini menyebut kata wajib. Bukan harus atau dapat.

Wajib berarti mengandung konsekuensi hukum apabila tidak dilaksanakan. Alias akan terkena sanksi jika tidak bersertifikat halal. Menurut Undang Undang ini, kewajiban sertifikasi halal bagi produk berlaku paling lambat lima tahun sejak diundangkan. Batas terahir tersebut adalah tanggal 17 Oktober 2019. Tanggal ini mengacu pada tanggal diundangkannya Undang Undang diatas yaitu 17 Oktober 2014 yang tercatat dalam Lembaran Negara Tahun 2014 nomor 295. Batas akhir ini sesungguhnya meniscayakan agar semua perangkat regulasi turunan dari UU tersebut rampung seutuhnya sebelum 17 Oktober 2019.

Namun, lahirnya PP No 31 diatas masih memerlukan regulasi yang lebih detail lagi berupa Peraturan Menteri Agama (PMA). Rancangan PMA saat ini sudah tersedia dan masih dalam tahap uji sahih sebelum diundangkan.

Silaturahmi PKPH Unma Banten dengan Kanwil Depag Banten

 

Tantangan

Indonesia menjadi negara penting dan strategies dalam perbincangan industry halal dunia. Salah satunya karena merupakan negara berpenduduk muslim terbesar sedunia. Sebagai negeri mayoritas muslim, Indonesia sudah sepantasnya menganggap penting produk halal. Hal tersebut terbukti dengan dialihkannya kebijakan halal dari yang bersifat sukarela (voluntary) menjadi kewajiban (mandatory).  

Untuk penyelenggaraan halal mandatory ini dibentuklah Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di bawah Kementerian Agama. Badan ini meskipun berstatus setingkat eselon I, namun dikelola secara Badan Layanan Umum (BLU). Perhatian luar negeri terhadap industri halal Indonesia cukup besar. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lembaga halal luar negeri (LHLN) yang sudah bekerjasama. Menurut data LPPOM MUI, hingga Juni 2019 ini sudah ada 45 lembaga sertifikasi halal luar negeri yang bekerjasama dengan Indonesia. LHLN tersebut berasal dari 26 negara. Selain itu, saat ini sudah ada lebih dari 22 negara mengajukan permohonan kerjasama kepada BPJPH.

Ramainya keinginan luar negeri bekerjasama tersebut karena berbagai negara melihat peluang pasar domestik Indonesia yang sangat besar. Mereka berharap bisa menyuplai kebutuhan produk halal domestik Indonesia. Indonesia memang menempati peringkat pertama dalam top muslim food expenditure, peringkat kelima pada kategori top muslim travel expenditure, peringkat ketiga pada top muslim apparel expenditure, peringkat kelima pada top muslim media expenditure dan peringkat keenam pada top muslim pharmaceuticals expenditure. Ini artinya, antusiasme luar negeri lebih pada keinginan untuk membanjiri pasar domestik Indonesia dengan produk halal mereka.

Apakah saat bersamaan Indonesia sudah dapat mensuplai kebutuhan produk halal dunia? Tampaknya belum. Banyak produk halal di berbagai negara seperti timur tengah misalnya, kebanyakan bukan dipasok dari Indonesia. Umumnya dari Malaysia atau Thailand. Malaysia bisa memasok produk halal ke timteng karena standar halalnya sudah diterima oleh OKI. Malaysia tergabung sebagai anggota The Standards and Metrology Institute for the Islamic Countries (SMIIC). Sementara Indonesia sampai saat ini masih proses menjadi anggota SMIIC sehingga produk halalnya belum bisa menembus pasar OKI. Thailand, meskipun mereka bukan negara OKI, melakukan sertifikasi halalnya melalui JAKIM, Malaysia. Sehingga banyak produk halal dari Thailand ditemukan di negara OKI.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia seharusnya menjadi ‘pengendali’ pasar industry halal dunia. Tantangan ini semakin menguat ketika kebijakan halal sudah menjadi otoritas negara dan bersifat mandatory.

 

Peluang

Dari sisi peluang, pada pasar domestik saja terbentang peluang lebar untuk mengembangkan industri halal di nusantara. Data Kemenkop UKM Tahun 2017 menyebut terdapat 62.928.077 unit UMKM di Indonesia. Jika setiap unit memiliki sebuah produk, maka ada lebih dari 62 juta produk yang harus disertifikasi halal. Untuk mensertifikasi lebih dari 62 juta tentu diperlukan perangkat yang tidak sedikit. Diperlukan puluhan ribu auditor halal dan penyelia halal. Juga diperlukan sekian banyak laboratorium untuk pengujian halal. Dan pasti diperlukan ratusan bahkan mungkin ribuan LPH.

Menurut data LPPOM MUI, sampai tahun 2018 baru ada 727.617 produk yang tersertifikasi halal. Dibandingkan dengan jumlah produk UMKM jumlah tersebut masih sangat kecil atau bahkan belum berarti apa-apa.

Lalu, siapa yang akan mengerjakan ‘proyek’ jutaan sertifikasi halal tersebut? Darimana sumber dananya? Bagaimana system operasionalnya? Inilah pekerjaan kita semua….

 

Mohammad Zen

Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)-Rasulullah SAW bersabda, :”Akan datang pada manusia  suatu masa, dimana motivasi (hidup) mereka adalah nafsu perut-perut mereka, kemuliaan mereka (diukur) dengan kesenangan (syahwat) mereka, orientasi mereka pada wanita-wanita mereka. Dan agama mereka adalah Dinar dan Dirham, mereka sejelek-jelek makhluk, dan bagi mereka tidak ada kesenangan (kebahagian) di sisi Allah,”(HR Ad-Dailami).

Setelah Libur Idhul Fitri usai, aktivitas kita mulai normal kembali. Kantor Pemerintah, Swasta, Lembaga Formal non Formal kembali melaksanakan rutinitasnya, menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Pejabat, Pegawai, Karyawan, Buruh, Petani, Pedagang, dan Nelayan mulai bekerja kembali, mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya, membiayai pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraanya.

Rezeki berasal dari kata razaqa, yang berarti memberi. Rezeki diterjemahkan sebagai pemberian, yaitu pemberian dari Allah swt kepada hambanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan halal, berarti boleh atau mubah. Jadi, rezeki yang halal adalah bagaimana kita mendapat apa yang kita makan, minum, pakai, dan semua kebutuhan kita melalui jalan atau cara yang diperbolehkan oleh Allah.  Mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan kita dilarang untuk memakan harta sesama dengan cara yang batil, Allah berfirman:

Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta sebagaian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil. (QS Al Baqarah[2]:188), Rasulullah saw juga bersabda,”Mencari rezeki dengan jalan halal adalah kewajiban diantara kewajiban yang ada (HR Ath Thabrani).

 Rasulullah saw menyebutkan, ada  satu dosa yang tidak dapat ditebus dengan shalat, istighfar, haji, dan amalan-amalan lainnya. Dosa itu hanya bisa ditebus dengan mencari harta yang halal. Rasulullah saw bersabda,”

Sesungguhnya diantara dosa-dosa, ada satu dosa yang tidak dapat dihapus oleh sholat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh haji dan tidak pula oleh umrah.” Para sahabat kemudian bertanya, “lantas apa yang bisa menghapuskannya, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “keprihatinan dalam mencari rezeki.

Mata pencaharian atau pekerjaan yang halal merupakan sumber rezeki yang harus diusahakan, ini adalah sumber keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Jadikanlah rezeki yang halal dan berkah menjadi target usaha kita, dan jangan mudah tergiur dengan jumlah yang banyak namun tidak mendapat ridha dan barokah dari Allah swt.

Bagaimana kalau susah mendapatkan yang Halal ?

            Seringkali, kita sudah berusaha dengan keras, banting tulang mencari yang halal, namun ternyata hasil yang didapat masih belum mencukupi kebutuhannya, dan tak jarang juga dalam kondisi “kepepet”, seperti ini dan seiring lemahnya iman, akhirnya mengikuti langkah langkah syaitan, yang diharamkan oleh Allah dan Rasulullah, seraya berkata,” mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Inilah ujian!, ketidaksabaran seseorang atas ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskan manusia ke dalam murka Allah. Hari ini semakin nyata sinyalemen yang disampaikan Rasulullah SAW, setiap hari kita jumpai sepak terjang dan hiruk pikuk manusia pemuja perut, budak nafsu syahwat, korupsi menyebar dimana-mana dan tanpa malu-malu. Mereka hanya mengejar kesenangan dan kepuasan, walaupun semuanya itu tidak pernah akan tercapai, kecuali dengan sabar dan bersyukur kepada Allah SWT.

            Allah selalu menyayangi dan mengasihi umatnya, serta mengingatkan, Allah berfirman,” Hai sekalain manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan, karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. (QS Al Baqarah[2]: 168).

 Setan memang selalu menakut-nakuti manusia dengan kefakiran dan membisikkan agar manusia berbuat dosa. Allah berfirman,:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti)  kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS AlBaqarah [2]: 268).

 Janganlah merasa disempitkan rezekinya dan jangan berprasangka buruk kepada Allah, atau merasa terlambat datangnya rezeki, ketika rezeki yang didapatkan sedikit. Rasulullah saw bersabda,” Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu terlambat datangnya. Sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati hingga telah datang kepada rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram (HR Abdurrazaq, Ibn Hibban, dan Al Hakim, di shahihkan oleh Al-Albani).

            Dengan memahami dan melaksanakan apa yang diteladankan Raulullah SAW, niscaya kita tidak pernah risau, gundah, atau tekanan batin karena memikirkan rezeki atau penghasilan. Allah Maha Pengatur, selalu Maha Pengasih dan Penyayang.

 

Halal itu nikmat

Halal itu berkah

Halal untuk kita semua

 

Hadi Susilo

Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

(PKPH, Cilegon)-Allah SWT selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya, meskipun kadangkala sang hamba mengeluh dan tidak mau menerima pemberianNya, karena tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Orang beriman tentunya harus memiliki sifat qanaah, yakni perasaan cukup dengan pemberian Allah, meskipun kadang hanya menerima sedikit atau kurang.

Qanaah akan menjadikan seorang hamba senantiasa merasa kaya, walaupun berpenghasilan sedikit ataupun banyak. Hatinya selalu ridha dengan pemberian dari  Allah SWT, sehingga melahirkan perasaan senang, tenang, dan mulia, Allah berfirman,:

 “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS: Al Mukminun [23]:51).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,” Wahai manusia, sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik,dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul.

Musthafa Al-Maraghi menjelaskan, Allah SWT memerintahkan bukan hanya kepada para RasulNya, namun juga untuk seluruh umat Islam, untuk makan makanan halal dan beramal shalih; dua perintah yang disandingkan ini mengisyaratkan bahwa, makanan halal adalah sebagai sumber energi untuk ibadah, kebaikan dan amal shalih, amal kebaikan yang diteladankan  oleh Rasulullah SAW. Makanan halal melahirkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Salah satu kebahagian di dunia, adalah sebagai sumber energi atau tenaga untuk berbuat baik dan  amal shalih.

Silaturahmi HA IPB-Gubernur Banten

 

Kenapa kita malas dan berat untuk berbuat baik ?

Makanan berfungsi sebagai: sumber energi, perbaikan sel yang rusak, dan pertumbuhan sel tubuh. Energi digunakan untuk melakukan metabolisme tubuh, sehingga tubuh dapat melakukan aktivitas dan rutinitas sehari hari, seperti: bekerja, belanja, jalan-jalan, pengajian, dan lain sebagainya.

 Ibnu Katsir menjelakaskan, makanan yang halal adalah makanan yang baik yang dihalalkan oleh Allah, sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang tidak membahayakan tubuh dan akal. Dekan makanan halal, hati akan menjadi bersih, dengan hati bersih inilah akan tercermin sikap, ucapan, dan tindakan yang baik. Sebagai Muslim,  tugas kita adalah beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintahNya, dan menjauhi segala laranganNya.

 Mengapa kita malas dan merasa berat untuk berbuat baik?.  Saatnya Muhasabah atau introspeksi diri. Muhasabah adalah solusi tepat untuk menyadari dan merenugi segala perbuatan yang telah dilakukan sehingga kita dapat mengukur keberhasilan dan kekurangannya. Mari kita kembali koreksi dari hal yang mudah, makanakan. Makanan yang kita konsumsi setiap hari, jangan-jangan ada yang perlu kita review atau kaji ulang, apa yang telah masuk ke dalam mulut dan perut kita.

 Abu Said Al-Khudri, menyampaikan kisah, bahwa suatu hari Rasulullah SAW naik ke mimbar, lalu berkhotbah,:

 “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian ialah keberkahan bumi yang Allah keluarkan untuk kalian.” Sebagaian sahabat kemudian bertanya,”Apakah keberkahan bumi itu?” Rasulullah menjawab,”Perhiasan kehidupan dunia.”

Selanjutnya, seorang sahabat bertanya lagi,”Apakah kebaikan (perhiasan dunia) itu dapat mendatangkan kejelekan?”

Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah saw menjadi terdiam, sampai-sampai kami mengira bahwa beliau sedang menerima wahyu. Selanjutnya beliau menyeka peluh dari dahinya, lalu bersabda, “manakah yang tanya tadi?” sahabat yang tanya menyahut, “Inilah saya”.

Kemudian Rasulullah saw bersabda kepadanya,”

Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda itu tampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musim semi menyebabkan binatang kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda itu terasa manis, barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barangsiapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikaan binatang yang makan rerumputan akan tetapi tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya iapun celaka karenanya). (HR muttafaq Alaih)

Demikianlah pentingnya makanan halal yang kita konsumsi, makanan halal akan membersihkan dan melembutkan hati, membentuk tubuh menjadi sehat dan kuat. Makanan halal dapat menjadi sumber energi untuk kebaikan, mengerjakan amal sholih, amal yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

 #Halal itu sehat

#Halal energi untuk kebaikan

#Halal untuk semua

 

 

Hadi Suslo,

Direktur Pusat Kajian Produk Halal (PKPH)

Universitas Mathla’ul Anwar Banten

000508251
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
48
529
3203
8452
22023
508251
IP Anda: 54.92.148.165
21-07-2019 00:41

Flag Counter

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: