Agama itu Nasehat

(PKPH, Cilegon)- Kata an-nashihah berasal dari kata an nush-hu, kata ini secara etimologi mengandung dua makna, yakni: 1) Bersih dari kotoran-kotoran dan bebas dari para sekutu;  2) Merapatnya dua sesuatu sehingga tidak saling berjauhan.

Begitu pentingnya nasihat dalam agama, hingga disebut dalam hadis, dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Definisi an-nashihah secara terminologi dalam hadits ini adalah: Mengharapkan kebaikan orang yang dinasihati, definisi ini berkaitan dengan nasihat yang ditujukan kepada pemimpin umat Islam dan rakyatnya. Adapun jika nasihat itu diarahkan kepada Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya, maka yang dimaksud adalah merapatnya hubungan seorang hamba dengan tiga hal tersebut di atas, di mana dia menunaikan hak-hak mereka dengan baik.

Memberi dan menerima nasihat,  berlaku untuk segenap manusia, siapapun orangnya,  apapun jabatannya, tanpa terkecuali. Nasihat yang berdasarkan Allah SWT dan Rasul-Nya, berlaku untuk para pemimpin umat Islam dan masyarakat pada umumnya. Ini mengingat manusia tidak lepas dari lupa dan salah.

Memberi nasihat kepada orang lain berupa teguran positif dan saran konstruktif  berarti menepati sunah Rasulullah SAW.  Nabi Muhammad SAW sendiri memberikan teladan bagaimana beliau bersikap terbuka menerima input (saran masukan) dari kalangan sahabat-sahabatnya yang memberikan pandangan, terutama dalam persoalan yang bukan wahyu. Sebaliknya, orang yang tidak mau menerima nasihat menunjukkan bahwa dirinya merasa telah sempurna, merasa tidak ada lubang-lubang kesalahan sedikit pun, serta merasa tidak punya celah kekurangan.

Sebagai contoh, betapa keterbukaan baginda Nabi Muhammad SAW ketika bersedia menerima pandangan seorang sahabat biasa yang memberikan saran agar Nabi SAW mengubah lokasi pasukan ke tempat yang lebih strategis di dekat mata air. Saran ini diterima oleh Nabi Muhammad  SAW demi kemaslahatan perjuangan. Berkenaan dengan itu, Imam Malik menegaskan bahwa salah satu persyaratan untuk menjadi pemimpin umat adalah adanya kesediaan dan keterbukaan menerima teguran umat dengan ikhlas karena Allah SWT. Memang, menerima nasihat, saran, dan teguran tidaklah mudah, karena disamping rasa malu, kekurangannya terlihat orang banyak, juga perasaan gengsi atau menjaga wibawa. Padahal, dengan tidak mau disempurnakan itulah, bisa jadi sobekan kekurangannya akan bertambah lebar.

Bersyukurlah kita sebagai umat beragama yang masih mau menerima nasihat kebaikan dari orang lain. Hal itu adalah bagian dari penyempurnaan keagamaan kita sebagai makhluk Allah SWT. Dengan saling menasihati di antara sesama, maka kita akan banyak memperoleh mutiara-mutiara  hikmah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

 

Read 79 times Last modified on Minggu, 09 Februari 2020 14:28
Rate this item
(3 votes)

Flag Counter

000766511
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
814
810
10102
18569
30998
766511
IP Anda: 35.175.113.29
16-02-2020 21:07

Kontak :

Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI:

Harga Emas :

Harga Emas