Kajian Rutin Unma Banten: Pendidikan Keluarga Dalam Perspektif Nabi Ibrahim AS (Tafsir Surat Ibrahim ayat 35-41)

(PKPH, Pandeglang)- Kajian kali ini akan membahas tentang pendidikan keluarga dalam perspektif pendidikan seperti yang diteladankan oleh Bapaknya para Nabi, Nabi Ibrahim AS. Telaah Tafsir Surat Ibrahim ayat 35-41.

1. Do’a Nabi Ibrahim agar Mekkah dijadikan Negeri yang Aman

Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 35-36

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (36)

Menurut Hamka, ayat ini menyuruh Nabi Muhammad Saw. memperingatkan kembali kepada kaum Quraisy bahwasanya yang memulai memancang negeri Mekkah tempat mereka berdiam itu ialah nenek-moyang mereka Nabi Ibrahim. Dari sebuah lembah yang belum ada penghuninya, sampai menjadi sebuah negeri besar. Adapun maksud Ibrahim mendirikan negeri Mekkah itu ialah karena hendak mendirikan sebuah rumah persembahan kepada Allah, dan sunyi dari berhala. Oleh karena itu beliau memohonkan kepada Allah supaya anak cucunya jangan sampai menyembah berhala-berhala itu. Dan dido’akannya kepada Tuhan supaya negeri yang telah dibukanya itu aman sentosa. Merasa tentram kiranya orang yang ada di sana. Jangan ada huru-hara, dan siapa yang masuk ke sana terjamin keselamatannya.[1]

Menurut Quraish Shihab, do’a nabi Ibrahim As. untuk menjadikan kota Mekkah dan sekitarnya sebagai kota yang aman adalah do’a untuk menjadikan keamanan yang ada di sana berkesinambungan hingga akhir masa. Atau, menganugerahkan kepada penduduk dan pengunjungnya kemampuan untuk menjadikannya aman dan tenteram. Permohonan ini, menurut banyak ulama antara lain Thabathaba’i dan Asy-Sya’rawi, bukan berarti menjadikannya aman secara terus-menerus tanpa peranan manusia atau dalam istilah kedua ulama ini  amn takwiniy/ keamanan yang tercipta atas dasar penciptaan keamanan. Yang beliau mohonkan itu adalah amn tasyri’iy, yakni permohonan kiranya Allah menetapkan hukum keagamaan yang mewajibkan orang mewujudkan, memelihara, dan menjaga keamanannya.[2]

Manusia pada umumnya sejak  dahulu hingga kini memang menghormati kota Mekkah baik secara tulus dan didorong ketaatan beragama maupun melalui adat kebiasaan yang berlaku pada penduduknya atau peraturan yang ditetapkan oleh penguasanya yang melarang non-muslim memasukinya.[3] Do’a nabi Ibrahim pada ayat 35 ini dikabulkan Tuhan, dan Dia telah menjadikan negeri Mekkah dan sekitarnya, menjadi tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada di sana. Di negeri itu dilarang menumpahkan darah, menganiaya orang, membunuh binatang, dan menebang tumbuh-tumbuhan yang berada di sana.[4] Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ankabut ayat 67.                                                                                

Kata () jauhkanlah diriku dan keturunanku dari penyembah berhala. Menurut Ahmad Mustafa Al-Maragi yaitu tetapkanlah kami pada tauhid dan Islam yang telah kami pegang ini, serta jauhkanlah dari penyembahan berhala.[5]

Menurut Al-Qurthubi, kata baniy adalah anak cucunya dari tulang rusuknya sendiri, yang mana jumlah mereka ada delapan, dan tidak seorang pun dari mereka yang menyembah berhala.[6] Kata shanam menurut pendapat Ath-Thabari, Al-Biqa’i, dan Asy-Sya’rawi sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab adalah berhala yang berbentuk manusia, sedang kata watsan adalah batu atau apa saja yang dikultuskan. Sedangkan Ibn Asyur memahami kata shanam dalam arti patung, atau batu, atau bangunan yang dijadikan sesembahan dan diakui sebagai Tuhan. Nabi Ibrahim memanjatkan do’a ini setelah melihat di daerah sekitarnya terjadi penyembahan berhala-berhala.  Beliau berhijrah meninggalkan tempat tinggalnya di Ur negeri orang-orang Keldania karena penduduknya menyembah berhala. Di mesirpun beliau menemukan hal serupa demikian juga di Palestina. Lalu, beliau membawa istri dan anaknya berhijrah ke jazirah Arab tepatnya Mekkah sekarang dan di sanalah beliau menempatkan istri dan anaknya serta mengajarkan Tauhid.[7]

Permohonan Nabi Ibrahim As. agar menghindarkan anak cucu beliau dari penyembahan berhala, bukan dalam arti memaksa mereka mengakui keesaan Allah, tetapi bermohon kiranya fitrah kesucian yang dianugerahkan Allah dalam jiwa setiap manusia dan yang intinya adalah Tauhid, bermohon kiranya fitrah tersebut terus terpelihara.[8] 

“Ya Tuhanku! Sesungguhnya dia itu yaitu berhala-berhala telah menyesatkan kebanyakan manusia”. (pangkal ayat 36). Menurut Hamka, Nabi Ibrahim yang telah banyak mengembara, sejak dari tanah kelahirannya Babil (negeri Irak sekarang), sampai ke Palestina, tanah yang dijanjikan Tuhan pula buat anak keturunannya, hingga mesir tempat dia menikahi Hajar, dilihatnya diseluruh negeri itu betapa sesatnya manusia karena menyembah berhala, bahkan sampai beliau bertentangan dengan ayahnya sendiri dan rajanya. Sekarang dibukanya negeri baru, lembah yang tidak ada tanam-tanaman itu, ialah karena ingin mendirikan sebuah daerah bersih daripada berhala dan bersih dari yang menyesatkan manusia.[9]

 “Lantaran itu maka barangsiapa  yang mengikut aku, sesungguhnya dia adalah golonganku.” Dan yang masuk golonganku itulah hanya yang dapat aku pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan, dan pendirian bertuhan Esa itulah yang dinamai Agama Nabi Ibrahim yang HANIF, yaitu Agama Tauhid. “Dan barangsiapa yang mendurhakai aku.” Yakni yang mengubah pelajaran Tauhid yang aku pusakakan itu, “Maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (ujung ayat 36).

Sebagai seorang di antara Rasul yang besar, Nabi Ibrahim pun rupanya telah mendapat ilham dari Tuhan bahwa sepeninggalnya kelak akan ada penyelewengan dari anak cucunya. Dan kemudian setelah Nabi Muhammad Saw. diutus Tuhan, beliau dapati agama HANIF Nabi Ibrahim telah dikotori dan dicampur-aduk dengan menyembah berhala. Nabi Ibrahim yang terkenal pengasih, penghiba (Awwahun, Halimun) tidaklah mengutuk anak-cucunya yang mendurhakai jalan yang ditinggalkannya yang diselewengkan itu. Melainkan menyerahkannya kepada Tuhan, moga-moga Tuhan mengampuni, sebab Tuhan itu pun Maha Penyayang.[10]

Penafsiran Hamka di atas senada dengan penafsiran Quraish Shihab bahwa pada penutup do’a Nabi Ibrahim as, Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, bukan berarti memohon pengampunan bagi para penyembah berhala, tetapi menyerahkan kepada Allah Swt. putusan terakhir karena hanya Allah yang memiliki  hak prerogatif menyangkut pengampunan atau penyiksaan. Do’a Nabi Ibrahim As. ini menunjukkan betapa halus budi beliau dan betapa iba dan kasihnya terhadap umat manusia.[11]

Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa setiap muslim hendaknya senantiasa berdo’a untuk keselamatan dan keamanan tempat tinggalnya dan agar penduduknya diberikan rizki yang berlimpah. Selain itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu menyiapkan lingkungan yang aman dan jauh dari berbagai kesyirikan dan kemaksiatan demi terjaganya fitrah dalam jiwa setiap anak yaitu tauhid. Karena lingkungan yang penuh dengan kesyirikan dan kemaksiatan tentunya akan memberikan dampak negatif sebagaimana yang di jelaskan dalam ayat ini bahwa bahwa berhala-berhala telah menyesatkan banyak manusia.

b. Nabi Ibrahim Menempatkan Isma’il di Dekat Baitullah dan Anjuran Bersyukur

 Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 37:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْ

دَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (37)

 

Menurut lembaga penafsiran Al-Qur’an Departemen Agama, Ayat ini menerangkan saat Ibrahim As. akan kembali ke palestina menemui istrinya Sarah, meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Isma’il yang masih kecil di Mekkah, di tengah-tengah padang pasir yang tandus, tanpa ditemani oleh seorang  manusia pun dan tanpa bekal untuk keluarganya yang ditinggalkan. Waktu itulah ia berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, mohon agar keluarganya itu dilindungi dan diselamatkan dari segala mara bahaya dan bencana yang mungkin akan menimpanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Ibrahim sebagai seorang nabi yang telah melangsungkan pernikahan dengan istrinya Sarah. Namun sekian lama pernikahan pasangan ini tak kunjung dikaruniai keturunan dikarenakan Sarah wanita yang mandul, sedangkan Ibrahim telah menginjak masa tua. Oleh karena itu, dinikahinya pembantu istrinya bernama Hajar setelah mendapat izin dan persetujuan dari Sarah. Dari pernikahan itu lahirlah  seorang putra yang diberi nama Isma’il.[12]

Menurut Syaik Imam Al-Qurthubi, diriwayatkan bahwa Sarah cemburu kepada Hajar setelah Ismail lahir. Sarah menyampaikan perasaan hatinya itu kepada suaminya Ibrahim, dan meminta agar Ibrahim membawa dan menjauhkan Hajar dan putranya Ismail darinya, lalu Ibrahim pergi membawa Hajar ke Mekkah. Setelah setibanya di tengah-tengah lembah Mekkah, ia meninggalkan anaknya beserta ibunya di sana dan pada hari itu juga ia kembali pergi pulang meninggalkan keduanya. Ini semua dilakukan berdasarkan wahyu dari Allah. Dan ketika dia meninggalkan keduanya, Ibrahim berdo’a dengan do’a yang terdapat dalam ayat ini.[13]

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Ibrahim berdo’a tanpa berkata “wahai” sebagaimana kebiasaan Al-Qur’an melukiskan do’a orang-orang yang dekat kepada Allah. Do’anya: “Tuhan kami dan Tuhan makhluk seluruhnya! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di satu lembah yaitu Mekkah yang kini belum dihuni dan yang tidak dapat mempunyai tanaman karena gersang tanahnya. Namun demikian, aku tempatkan mereka di sana karena lokasinya di dekat rumah-Mu (Baitullah) Ka’bah yang agung lagi yang dihormati,Tuhan kami! Yang demikian itu, yakni penempatan mereka di sana, adalah agar mereka melaksanakan shalat secara berkesinambung lagi baik dan sempurna, maka karena tempat itu seperti yang aku lukiskan dan Engkau ketahui dan tujuanku tidak luput dari pengetahuan-Mu, maka aku bermohon: Jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, baik yang engkau tumbuhkan di sana maupun yang dibawa oleh manusia ke sana, mudah-mudahan dengan aneka anugerah-Mu mereka terusmenerus bersyukur.[14]

Firman-Nya: ghairi  dzi zar’in/tidak dapat mempunyai tanaman menunjukkan bahwa tanah di daerah itu bukanlah lahan pertanian. Redaksi yang digunakan ini bukan sekadar berarti tidak ditumbuhi tumbuhan, tetapi lebih dari itu, yakni tidak memiliki atau tidak berpotensi untuk ditumbuhi tumbuhan. Memang kenyataan menunjukkan bahwa Mekkah dan sekitarnya bukan saja gersang, tetapi juga dikelilingi oleh batu-batu sehingga tidak memungkinkan adanya tumbuh-tumbuhan.[15]

Tim penafsir Al-Qur’an Departemen Agama menjelaskan, ketika Hajar dan putranya sampai di suatu tempat, yang waktu itu semua perbekalan dan air minum telah habis, putranya Ismail menangis kehausan, sedang air susunya tidak mengalir lagi. Ia bermaksud mencari air, dan ditidurkannya putranya di bawah pohon tempat ia berteduh. Ia pun pergi ke mana saja yang dianggapnya ada air, namun ia tidak menemukannya setetes pun. Ia pun kembali ke tempat putranya yang ditinggalkan. Waktu itu Ismail sedang menangis kehausan sambil memukulmukulkan kakinya ke tanah. Hajar pun berdo’a menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.[16]

Do’a Ibrahim dan Istrinya hajar dikabulkan Tuhan. Waktu itu juga, terpancarlah air dari tanah bekas pukulan kaki anaknya Ismail yang sedang menangis. Di saat itu pula, timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga, dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya  dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail. Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya, seraya berkata, “Zam! Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)” Dan terkumpullah air itu, tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama Telaga Zamzam.[17] Hamka menjelaskan bahwa do’a nabi Ibrahim Makbul, sehingga negeri Mekkah tidak pernah kekurangan buah-buahan meskipun negeri Mekkah itu sendiri kering, lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, dan sumur Zamzam tidak cukup airnya untuk mengaliri tanah tandus itu, dan sekelilingnya adalah gunung-gunung batu semuanya. Sampai kepada zaman kita sekarang ini pun do’a nabi Ibrahim masih tetap dirasakan di negeri Mekkah. Mekkah sendiri tidak menghasilkan tumbuhtumbuhan, tetapi di desa-desa Badwi luar Mekkah, sebagai di Wadi Fathimah, Wadi Usfan, Thaif dan lain-lain, terdapat Wadi atau Oase yang ada telaga dan ada air, dan banyak terdapat kebun-kebun. Hasil kebun-kebun itu di angkut orang ke Mekkah.[18] 

Menurut Al-Biqa’i yang di kutip oleh Quraish Shihab, kata tahwi terambil dari kata hawa yang bermakna meluncur dari atas kebawah dengan sangat cepat. Maksudnya, menuju ke satu arah di dorong oleh keinginan dan kerinduan. Agaknya, do’a Nabi Ibrahim inilah yang menjadikan setiap muslim selalu merindukan untuk datang ke Mekkah, bahkan kembali lagi dan kembali lagi walau telah berulang-ulang mengunjunginya.[19]

Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa perlunya berhijrah ke suatu tempat yang aman bagi kelangsungan pendidikan agama untuk anak dan pemeliharaan akidahnya. Karena itu, sebagian ulama mengharamkan keluarga muslim untuk hidup menetap di tengah masyarakat non-muslim bila keberadaan mereka di sana dapat mengakibatkan kekaburan ajaran agama atau kedurhakaan kepada Allah Swt., baik untuk dirinya maupun sanak keluarganya.[20]

 c. Keikhlasan dalam Beribadah

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 38:

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ (38)

“Ya Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau mengetahui segala yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan.” Menurut Ibnu Jarir sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir maksudnya adalah Engkau mengetahui maksud dan tujuanku dalam do’aku, dan apa yang kuinginkan dengan do’aku untuk penduduk negeri ini, yaitu semata-mata hanya mengharapkan keridhaan-Mu dan keikhlasan untuk-Mu, karena Engkau mengetahui segala sesuatu baik lahir maupunbathinnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Mu, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.[21]  Quraish Shihab menjelaskan, Engkau mengetahui bukan saja ketulusan kami bermohon dan beibadah tetapi juga mengetahui kebutuhan dan keinginan, walau tanpa kami mohonkan dan mengetahui pula apa yang terbaik bagi kami.[22]

Menurut Hamka, ayat ini melukiskan keikhlasan Ibrahim dan anakanaknya dalam berkhidmat kepada Allah. Sebab Tauhid adalah ikhlas, apa yang ada dihati itulah yang tampak keluar atau di ucapkan. Dengan Allah kita tidak dapat menyimpan rahasia apapun, karena Allah maha mengetahui baik isi bumi maupun isi langit, apalagi hanya dengan isi hati kita. Tauhid  dan ikhlas itulah yang menyebabkan tidak mungkin mempersekutukan Allah dengan yang lain. Dan apabila manusia telah mendapat pendirian hidup (akidah) tauhid dan ikhlas itu, kekayaan besarlah yang diberikan Allah kepadanya. Itulah jiwa yang telah keluar dari gelap dan menempuh terang, dan itulah hidup yang sejati.[23] Dari penafsiran Ibnu Katsir, Quraish Shihab dan Hamka di atas, dapat diambil simpulan bahwa dalam berdo’a maupun beribadah diperlukan keikhlasan semata-mata hanya karena Allah dan mengharap ridho-Nya bukan mengharapkan yang lainnya sebab di jelaskan bahwa ikhlas itu adalah tauhid. Ikhlas dan tauhid itulah yang tidak akan menyebabkan manusia mempersekutukan Allah.

Adapun nilai pendidikan yang dapat di ambil dari ayat ini yaitu dalam lingkungan keluarga, orang tua hendaknya mengajarkan keikhlasan atau nilai kejujuran kepada anak. Karena kejujuran adalah muara dari segala kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke surga-Nya.

d. Pujian Nabi Ibrahim Kepada Allah karena diberikan Keturunan

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 39-40:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40)

“segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq.” (pangkal ayat 39). Hamka menjelaskan, Ibrahim memuji Allah dengan sepenuh-penuh pujian, karena beliau selalu mengharap keturunan yang akan menyambung cita-citanya, jangan sampai ajaran yang diberikan Tuhan itu putus sampai dia saja, beliau menghendaki anak dan keturunanya yang akan menyambung perjuangannya. Permohonannya itu didengar dan dikabulkan Tuhan. Oleh sebab itu beliau melanjutkan di dalam pujiannya: “Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar do’a.” (ujung ayat 39).[24]

Lembaga penafsiran Al-Qur’an departemen agama menjelaskan sekalipun Sarah sudah sangat tua dan tidak mungkin lagi melahirkan anak, tetapi keinginan mempunyai putra selalu menjadi idamannya, lebih-lebih setelah mendengar

Isma’il telah bertambah dewasa, selalu dikunjungi oleh suaminya Ibrahim, ke tempat ia dibesarkan di Mekkah yang sangat jauh jaraknya dari Palestina. Timbul rasa iri hatinya kepada Hajar bekas pembantunya, apalagi setelah dinikahi Ibrahim  atas izinnya pula. Ditambah pemikiran Sarah, kenapa pembantunya dikaruniai seorang putra, sedangkan dia sendiri belum dianugerahi. Rasa iri itu semakin lama semakin besar. Dalam keadaan demikianlah, malaikat datang kepada dua orang suami istri yang telah lanjut usia itu, menyampaikan perintah Allah untuk memberitahukan kabar gembira bahwa mereka akan dianugerahi Allah seorang putra yang bernama Ishaq, seorang anak laki-laki yang akan diangkat menjadi nabi dan rasul dikemudian hari.[25]

Penyampaian berita oleh malaikat itu dilukiskan dalam firman Allah surah Hud ayat 71-73:

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَاوَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72) قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (73)

Dan firman Allah Swt. dalam surah Al-Hijr ayat 53-56:

قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (53) قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ (54) قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ (55) قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ (56)

Hamka kembali menjelaskan bahwa negeri Mekkah sudah ramai, Ka’bah (Baitullah) sudah tegak, dan anak laki-laki pun sudah ada dua orang. Yang seorang akan mengembangkan bangsa Arabi dan yang seorang lagi akan mengembangkan bangsa Ibrani. Semuanya itu disyukuri oleh Ibrahim dengan hati yang tulus dan ikhlas. Kemudian dilanjutkan do’anya:

“Ya Tuhanku! Jadikanlah aku pendiri sembahyang, dan (demikian juga) anak cucuku. Ya Tuhan kami! Perkenankanlah kiranya do’aku.” (ayat 40).

Do’a beliau agar dia menjadi pendiri sembahyang telah terkabul, begitu juga do’a untuk anak cucunya pun juga terkabul. Dari keturunan Ishaq muncullah berpuluh-puluh nabi dan rasul, termasuk: Ya’kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusya’, Ilyasa, Ilyas, Zulkifli, Ayyub, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya dan Isa Almasih dan lain-lain dari Anbiya Bani Israil. Dan dari keturunan Ismail, datanglah penutup segala Nabi (Khatamul Anbiya’) dan yang paling istimewa dari segala Rasul (Sayyidil Mursalin), Muhammad Saw.[26]

Demikian pula Quraish Shihab menafsirkan: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat yang sangat besar kepadaku di hari tua ku yaitu Isma’il yang kutempatkan di dekat Baitullah  dan Ishaq yang kini bersama ibu kandungnya di Palestina. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar, yakni memperkenankan do’a yang dipanjatkan secara tulus kepada-Nya.Selanjutnya, Nabi Ibrahim berdo’a menggarisbawahi tujuan penempatan keluarganya di dekat Masjid al-Haram (baca ayat 37) sekaligus untuk mengisyaratkan bahwa tujuan itu baru dapat tercapai bila dia memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Allah. Nabi Ibrahim as berdo’a: “Tuhanku, yang selalu berbuat baik kepadaku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang  yang tetap melaksanakan secara benar, baik dan bersinambung shalat.”[27]

 e. Mendo’akan Kedua Orang Tua

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 41:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41)

Dalam do’a Nabi Ibrahim di atas, terbaca bahwa beliau mendo’akan kedua orangtuanya.  Menurut Thabathaba’i sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab bahwa do’a Nabi Ibrahim ini merupakan do’a terakhir Nabi Ibrahim yang direkam Al-Qur’an. Jika demikian, do’a beliau kepada kedua orang tuanya menunjukkan bahwa kedua orangtuanya adalah orang-orang yang meninggal dalam dalam keadaan Muslim, bukan musyrik. Ini sekaligus membuktikan bahwa Azar bukanlah ayahnya. Demikian ulama berkesimpulan. Ulama lain berpendapat bahwa permohonan pengampunan untuk orangtuanya ini terjadi sebelum adanya larangan mendo’akan orang tua yang musyrik.[28]

Adapun Hamka menjelaskan, penutup do’a Nabi Ibrahim ini sangat mengharukan. Beliau, nenek para nabi dan rasul memohon ampun kepada Allah entah ada kelalaian dan kekurangan dalam memikul kewajiban sebab dia manusia. Ampuni juga kedua orangtuanya kalau boleh, dan terutama lagi ampunilah sekalian orang yang telah menegakkan kepercayaan kepada Engkau, Ya Allah. Siapa yang tidak terharu merenungkan ini, semakin manusia berendah hati dihadapan Allah maka semakin tinggi martabat manusia dihadapan-Nya. Patutlah bagi kita umat Islam senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Saw. pada waktu shalat dengan menyertai juga shalawat kepada Nabi Ibrahim As. dan keluarganya.[29]

 [1] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XIII-XIV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 152-153.   

[2] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 386-387. 

[3] Ibid., h. 387. 

[4] Kementrian Agama RI, loc.cit.  

[5] Ahmad Mustafa Al-Maragi, op.cit., h. 302. 

 [6] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, diterjemahkan oleh Muhyiddin Masridha, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 871.  

[7] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 387. 

[8] Ibid., h. 388.  

[9] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XIII-XIV, op.cit., h. 153. 

[10] Ibid.

 [11] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 388. 

[12] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 173. 

[13] Syeikh Imam Al-Qurthubi, op.cit., h. 875. 

[14] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 389. 

[15] Ibid., h. 389-390.  

[16] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 174. 

[17] Ibid., h. 174-175.  

[18] Hamka, op.cit., h. 154-155.

[19] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit.,h. 390. 

[20] Ibid.

[21] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir jilid 4, diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar, dkk, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2008), h. 549. 

[22] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit.,  389. 

[23] Hamka, op.cit., h. 155-156. 

[24] Ibid., h. 156. 

[25] Kementrian Agama RI, op.cit., h. 177. 

[26] Hamka, op.cit., h. 156. 

[27] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, op.cit., h. 391.

[28] Ibid., 

[29] Hamka, op.cit., h. 156-157. 

Read 343 times Last modified on Minggu, 18 Agustus 2019 02:05
Rate this item
(1 Vote)

Flag Counter

000588049
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
2181
2279
6284
25372
28329
588049
IP Anda: 18.208.159.25
15-10-2019 22:06

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: