Lezatnya Daging Kelinci, Halal atau Haram?

(PKPH, Pandeglang)-Pernahkah  anda makan daging kelinci ? Banyak yang bilang daging kelinci sangat lezat. Bolehkan kita memakan dagingnya? Kelinci adalah hewan kelompok mamalia, karena kelinci mempunyai kelenjar mammae, Kelinci mempunyai daun telinga, kelinci masuk dalam famili Leporidae, kelinci sangat mudah ditemukan dibanyak negara, kelinci berkembang biak dengan beranak atau vivivar. Sebelumnya kelinci ini disebut sebagai hewan liar yang hidup di Eropa hingga Afrika.

Klasifikasi Kelinci

Kingdom          : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Mammalia

Order               : Lagomorpha

Family              : Leporidae

Genus              : Oryctolagus

Species            : Orictolagus cuniculus

 

Deskripsi Kelinci

Bagian tubuh kekinci di selimuti dengan bulu halus tetapi lebat, memiliki warna yang sangat bervariasi mulai dari warna hitam, kecokelatan, abu-abu, hitam putih, dan lain-lain. Bagian mata pada kelinci berwarna kemerahan, berbentuk bulat kelonjongan. Bagian hidung pada kelinci berbentuk silindris, mempunyai gigi seri di bagian depan berguna untuk memotong atau mengunyah rumput. Telinga pada kelinci panjang, tegak dan menghadap kedepan. Telinga ini memiliki warna yang sama dengan bentuk tubuhnya. Sedangkan kaki pada kelinci memiliki dua pasang, satu pasang di bagian depan sangat panjang dan satu pasang di bagian belakang sangat pendek.

Panjang rata-rata pada kelinci ini mencapai 50-60 cm bahkan lebih, kelinci mampu memproduksi 6-10 ekor perindukan. Usia memproduksi indukan jantan dan betina minimal 5-6 bulan, tergantung pada varietas kelinci. Kumis pada kelinci hampir menyerupai kucing, sangat halus dan juga pertumbuhan jarang. Kumis ini terdapat di sekitar bagian hidung kelinci tepatnya di bagian samping kiri dan kanan hidungnya. Kelinci memiliki ekor yang sangat pendek 2-4 cm, terkadang tampak dan tidak.

Mengonsumsi daging kelinci merupakan pemandangan yang tak sulit dijumpai di masyarakat. Banyak dari mereka yang menyukai karakter khas daging ini. Bahkan, ada sebagian rumah makan yang khusus menyediakan masakan dari daging ini. Diantaranya masakan daging kelinci yang kita temui misalnya sate kelinci, kelinci gulai, tongseng kelinci dan beberapa masakan-masakan lain yang berasal dari daging kelinci.

Bagaimana hukumnya memakan daging kelinci?

 Dari Anas bin Malik radiyallahu’anhu, beliau menceritakan,“Kami pernah berusaha menangkap kelinci di lembah Marru Zhohran. Orang-orang berusaha menangkapnya hingga mereka kelelahan. Kemudian aku berhasil menangkapnya lalu aku berikan kepada Abu Tholhah. Diapun menyembelihnya kemudian daging paha diberikan kepada Nabi sahallallahu ‘alaihi wasallam.Dan beliau menerimanya.”(HR. Bukhari 5535, Muslim 1953, dan Turmudzi 1789).

Kemudian dalam hadist lain dari Muhammad bin Shafwan rdiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, Saya menangkap 2 kelinci, namun saya tidak mendapat alat untuk menyembelihnya, hanya saya bisa menyembelihnya di Marwah. Kemudian aku tanyakan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menyuruhku untuk memakannya. (HR. Nasal 4313, Abu Daud 2822, Ibnu Majah 3175) dan dishahihkan al-Albani).

Dua hadist di atas memberikan kesimpulan bahwa kelinci hukumnya halal. Dan ini merupakan pendapat Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Said, Atha, Ibnul Musayyab, Al-Laits, Malik, Asy-Syafi’I, Abu Tsaur dan IBnul Mudzir. Bahkan Ibnu Qudamah mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada seorangpun ulama yang berpendapat haramnya kelinci kecuali satu riwayat dari Amr bin Al-Ash.” (Al-Mughni, 9/412)

Fatwa MUI: Memperbolehkan konsumsi Kelinci

Sidang MUI  di Jakarta pada 12 Maret 1983, Komisi Fatwa MUI menetapkan bahwa hukum memakan daging kelinci adalah halal. Keputusan ini didasari hadis yang diriwayatkan Jamaah – Nail al-Autarjus 7 hal.137.”Dari Anas, ia berkata: Melintas di depan kami seekor kelinci di Marri Zahran, maka orang-orang mengejar dan menangkapnya, dan aku mendapatinya. Maka aku memberikan kepada Abu Talhah lalu di sembelihnya. Dan ia mengirim kepada Rasulullah kedua pahanya dan beliau menerimanya.”

MUI juga mempertimbangkan surat permintaan Direktur Urusan Agama Islam Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Departemen Agama RI di Jakarta No:D11/5/HK.03.1/3647/1982 tanggal 27 November 1982 tentang daging kelinci. Termasuk pula surat Sekretaris Direktur Jendral Peternakan Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian RI di Jakarta No: 512NI1b/E tanggal 8 juli 1982.

Dari referensi tersebut, maka mengonsumsi kelinci adalah dihalalkan, sebab menurut hadist dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia menetapkan bahwa hukum memakan daging kelinci adalah halal, sesuai ajaran islam.

 

Iin Yuwinani

Mahasiswa Prodi Biologi, Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

 

 
 
 
 
 

 

Read 325 times Last modified on Selasa, 02 Juli 2019 04:40
Rate this item
(5 votes)

Flag Counter

000550083
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
714
738
5395
15735
20488
550083
IP Anda: 34.204.194.190
21-09-2019 19:32

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: