Konsumsi Jangkrik, Halal atau Haram?

Jangkrik merupakan salah satu jenis serangga, hewan ini biasanya hidup di berbagai tempat yang basah dan dingin. Jangkrik dapat kita temukan lewat suara khas yang keluar dari hewan tersebut, terutama pada saat malam hari.

Klasifikasi dan morfologi jangkrik berdasarkan tingkat taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Klasifikasi Jangkrik

Kingdom          : Animalia

Phylum            :  Arthropoda

Class                : Insecta

Order              : Ortoptera

Family              : Gryllidae

Genus             : Gyllids

Species           : Gryllus mitratus

Deskripsi Jangkrik

Morfologi

Jangkrik yang hidup dan berkembang biak yang ada di Indonesia terdapat 123 jenis dan belum dapat diketahui asal usulnya serta bangsanya. Berdasarkan beberapa pengamat jangkrik memiliki panjang berkisar 2-3 cm, warna tubuh bervariasi, tetapi pada umumnya memiliki warna cokelat, kehitaman dan hitam (Paiman et al. (1999).

Untuk ras/bangsa yang memiliki sayap dan tubuh yang berwarna kuning kemerahan, hitam legam memiliki ukuran mencapai 5 cm bahkan lebih, untuk jenis ini biasanya digunakan untuk pakan burung, ikan, dan digunakan untuk aduan suara yang sangat nyaring (Susena, 1999).

Alat Pencernaan Jangkrik

Alat pencernaan Jangkrik terdiri atas usus depan untuk penghancuran makanan, usus tengah untuk penyerapan sari makanan, dan usus belakang untuk pengeluaran sisa-sisa makanan.

Alat Reproduksi Jangkrik

Alat reproduksi pada jangkrik jantan adalah aedeagus dan pada jangkrik betina adalah ovipositor. Aedeagus pada jangkrik jantan tidak terlihat karena berada di dalam tubuh, sedangkan ovipositor pada jangkrik betina terlihat jelas seperti bentuk jarum yang ujungnya seperti tombak dan berfungsi untuk meletakkan telur.

 

Bolehkah kita mengkonsumsi jangkrik?

Berdasarkan pengamatan kaidah fiqih dan pertimbangan ushul fiqih sebelum mencari dalil-dalil (nash) tentang halal haramnya jangkrik maka kita perlu menegaskan sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram fil Islam (hal.22) bahwa hukum asal segala sesuatu adalah boleh (al-Ashlu fil asya’al-ibadah) menurut beliau, bahwa hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan dan manfaatnya adalah halal dan boleh, kecuali yang ditentukan hukum keharamannya secara pasti oleh nash-nash yang shahih dan sharih (accurate texts and clear statements). Maka jika tidak ada nash seperti itu maka hukumnya kembali kepada asalnya yakni boleh. (istishab hukmil ashl). Prinsip inilah yang dipakai Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menentukan hukum segala sesuatu selain ibadah dan aqidah. (Qawa’id Nuraniyah Fiqhiyah, hal. 112-113).  

Kaidah hukum itu berdasarkan ayat-ayat yang jelas (sharih), firman Allah: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah:29) Demikian pula dalam surat Al-Jatsiyah:13 dan Luqman:20. Inilah  bentuk rahmat Allah kepada umat manusia dengan berlakumnya syariah yang memperluas wilayah halal dan memperluah wilayah halal dan mempersempit wilayah haram, seperti ditegaskan oleh Nabi saw: “Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka ia adalah halal (hukumnya) dan apa yang Dia haramkan maka (hukumnya) haram. Sedang apa yang Dia diamkan maka ia adalah suatu yang dimaafkan. Maka terimalah pemaafan-Nya, karena Allah tidak mungkin melupakan sesuatu.” (HR. Hakim dan Bazaar).

Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-139/MUI/IV/2000 Tentang Makan Dan Budidaya Cacing dan Jangkrik Majelis Ulama Indonesia setelah:

Menimbang:

  • Bahwa budidaya cacing dan jangkrik kini banyak dilakukan orang, baik untuk makan (pakan) hewan tertentu, obat-obatan, jamu dan kosmetik, maupun untuk dikonsumsi (dimakan orang)
  • Bahwa masyarakat memerlukan penjelasan tentang hukum membudidayakan, makan, dan memanfaatkan kedua jenis binatang tersebut
  • Bahawa oleh karena itu,Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang membudidayakan, makan, dan memanfaatkan kedua jenis binatang tersebut untuk dijadikan pedoman oleh masyarakat.

Memperhatikan:

  1. Makalah Budidaya Cacing dan Jangkrik dalam Kajian Fiqh yang dipresentasikan oleh Dr. KH. Ahmad Munif, pada siding Komisi Fatwa MUI.
  2. Pandangan ahli budidaya cacing dan jangkrik yang disampaikan pada sidang Komisi Fatwa MUI.
  3. Pandangan peserta sidang Komisi Fatwa MUI.

 Mengingat :

1. Firman Allah SWT: “Allah-lah yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu sekalian” (QS. Al-Baqarah[2]:29). “Allah menundukkan untukmu semua yang ada di langit dan di bumi (segala rahmat)  dari-Nya” (QS. Al-Jasiyah: 13). “Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentingan) mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin” (QS.Luqman: 20)

2.Hadist Nabi SAW: Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitabNya (al-Qur’an) adalah halal, apa-apa yang diharamkan-Nya , hukumnya haram, dan apa-apa yang Allah diamkan/tidak dijelaskan hukumnya, dimaafkan. Untuk itu terimalah pemaafan- Nya, sebab Allah tidak pernah lupa tentang sesuatu apa pun” (HR. Al-Hakim). “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia- siakan, menentukan beberapa ketentuan, janganlah kamu langgar, mengharamkan   beberapa hal, janganlah kamu rusak, dan Allah tidak menjelaskan hukum beberapa hal karena kasih sayang padamu, bukan karena lupa, janganlah kamu cari-cari hukumnya.” ( HR. Turmuzi dan Ibnu Majah)

3. Kaidah fiqh : “Pada dasarnya segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah/boleh.

Memutuskan

Menetapkan : Fatwa Tentang Makan dan Budidaya Jangkrik

Hukum yang berkaitan dengan jangkrik

  1. Jangkrik adalah binatang serangga yang sejenis dengan belalang
  2. Membudidayakan jangkrik untuk diambil manfaatnya, untuk obat/kosmetik misalnya, untuk dimakan atau dijual, hukumnya adalah boleh (mubah, halal), sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat).

Berdasarkan referensi tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi dan membudidayakan jangkrik untuk di ambil manfaatnya hukumnya adalah mubah/boleh, sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat).

 

 

Iin Yuwinani

Mahasiswi Prodi Biologi, Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Read 97 times
Rate this item
(6 votes)
000508234
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
31
529
3186
8435
22023
508234
IP Anda: 54.92.148.165
21-07-2019 00:26

Flag Counter

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: