Akademisi Unma Banten Berperan Aktif dalam Penanganan Gizi Kurang

(PKPH, Jakarta)-Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengadakan  Focus Group Discussion (FGD) dengan Akademisi pada 19 Juni 2019 di Jakarta. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengajak akademisi berperan aktif dalam  program Kampung Anak Sejahtera (KAS). KAS adalah program dari KPPPA bekerjasama dengan Food Bank of Indonesia (FOI) untuk membantu menekan angka gizi buruk pada balita.

FGD tersebut dihadiri akademisi dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, seperti: UGM, UI, IPB, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Udayana, Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Universitas Andalas, Universitas Brawijaya, dan LIPI.  Diskusi diarahkan untuk memberikan saran dan mengkritisi program Kampung Anak Sejahtera baik berdasarkan program tahun lalu maupun rencana program tahun ini sesuai bidang keilmuan dan berkolaborasi membentuk model pendampingan intervensi pangan masyarakat dengan fokus penekanan angka stunting dan perbaikan status gizi balita. 

Hendra Jamal, asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan, mengemukakan bahwa target penurunan angka stunting adalah 20% sebagaimana dicanangkan WHO.  Prof. Ikeu Tanziha dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB menekankan penting adanya konvergensi lintas sektoral dalam intervensi program KAS.  Masih menurut Prof. Ikeu, selain pemberian makanan tambahan (PMT) perilaku pengasuhan yang baik sangat berperan dalam menekan angka stunting.  Dari UNMA, Mujijah menambahkan bahwa kedekatan orang tua dengan anak juga dapat memberikan pengaruh positif dalam tumbuh kembang balita.  Sedangkan Tuti Rostianti dari prodi Teknologi Pangan Unma menyampaikan bahwa kerjasama OPD dengan pusat juga penting dijalin agar program berjalan efektif dan efisien.

Program KAS sendiri dilakukan mengingat status gizi anak Indonesia saat ini dalam kondisi yang tidak menggembirakan.  Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 sebanyak 3,9% balita mengalami gizi buruk, 13,8% gizi kurang, dan 30,8% mengalami pendek (stunting).  Permasalahan gizi tersebut akan mengakibatkan tumbuh kembang anak tidak optimal yang pada akhirnya berpengaruh pada kualitas generasi. 

Kampung Anak Sejahtera (KAS) merupakan program kerjasama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Food Bank of Indonesia (FOI) untuk membantu menekan angka gizi buruk pada balita melalui program.  Program tersebut terdiri dari program intervensi pangan pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada masa 1000 HPK hingga anak berusia 2-5 tahun selama 6 bulan dan setiap bulannya diadakan monitoring status gizinya.  Selain itu diberikan edukasi dan pelatihan tentang pangan dan gizi pada relawan, ibu hamil, ibu menyusui, dan orang tua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT). Program KAS telah dilaksanakan di 4 daerah yaitu Desa Bulagor (Pandeglang), Desa Cibatok Dua (Bogor), Desa Selomirah (Magelang), dan Desa Kalisogo (Sidoarjo).  Tahun ini KAS akan dijalankan pada 4 wilayah baru, yaitu Kabupaten Subang, Wonosobo, Grobogan, dan Kulonprogo.  Sejak tahun 2018 Unma telah terlibat dalam program KAS dalam edukasi dan pelatihan tentang pangan dan gizi.  Tahun ini diharapkan tidak hanya dosen yang berperan tetapi juga mahasiswa UNMA dapat terlibat dalam program tersebut, terutama sebagai pendamping pelaksanaan program agar tepat sasaran dan berjalan baik. (EK/PKPH Unma)

 

Read 152 times Last modified on Senin, 24 Jun 2019 14:36
Rate this item
(2 votes)

Flag Counter

000550087
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
718
738
5399
15739
20488
550087
IP Anda: 34.204.194.190
21-09-2019 19:50

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: