Peran Mahasiswa dalam Mendorong Halal Mandatory

(PKPH, Pandeglang)- Revolusi Industri 4.0 berdampak dengan membanjirnya serbuan berbagai produk makanan, kosmetika dan obat-obat yang diragukan bahkan tidak memiliki jaminan kehalalan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Dalam Undang Undang No 33 Tahun 2014, Tentang Jaminan Produk Halal, pasal 4 menyebutkan bahwa semua produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Kesadaran umat islam khususnya, tentang produk makanan dan minuman halal masih rendah. Berdasarkan hasil jajak pendapat Rumah Kreatif Halal baru-baru ini, menunjukkan masyarakat masih mengabaikan labelisasi halal. Saat memilih restoran atau makanan, faktor halal belum jadi pertimbangan utama.

Disinilah peran mahasiswa dibutuhkan untuk membangun kesadaran masyarakat, khususnya umat muslim. Mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) ikut berperan aktif dan bertanggungjawab terhadap kondisi ini. Guna mendorong sosialiasasi pola hidup halal di tengah masyarakat, mahasiswa Universitas Mathla’ul Anwar dibawah binaan Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) Universitas Mathla’ul Anwar Banten melakukan berbagai macam kegiatan, antara lain pernah menggelar seminar nasional dan workshop yang bertema “Tantangan dan Peluang dalam Menghadapi Implementasi UU Jaminan Produk Halal” pada tanggal 10 April 2019 di Serang Banten. Diharapkan dengan kegiatan seminar tersebut mahasiswa, masyarakat, pelaku usaha UMKM dan Industri, Pemerintah Daerah  akan lebih sadar pentingnya jaminan produk halal.

Mahasiswa harus memiliki kesadaran mengenai pentingnya produk-produk halal, bukan hanya produk-produk bermutu tinggi, namun tidak memenuhi prinsip kehalalan, tetapi bagaimana sebuah produk bisa dinilai bermutu tinggi dan sesuai dengan prinsip kehalalan. Mahasiswa harus menjadi teladan dalam penggunaan produk-produk halal dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa harus lebih peduli dengan produk yang dibeli dan dikonsumsi dengan memastikan bahwa produk tersebut halal.

Di era sekarang dengan begitu banyak jenis produk yang beredar di masyarakat menuntut setiap muslim untuk teliti dalam memilih produk yang akan dikonsumsinya. Untuk itulah perlunya mahasiswa berperan aktif dalam menyampaikan, mensosialisasikaan, melatih, dan mendampingi massyarakat dalam penggunaan produk halal.

Dalam UU JPH, Masyarakat, termasuk  mahasiswa juga dapat  mengawasi peredaran produk-produk halal atau yang diragukan bahkan tidak memiliki jaminan kehalalan. Sebagai contoh, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung Aksi Keluarga Muslim Nusantara (AKMN) pada Oktober 2018 yang mendemo salah satu restoran cepat saji karena beberapa produk yang dijual di restoran tersebut telah habis masa berlaku sertifikat halalnya dari MUI. Sehingga mereka menilai makanan di tempat itu diragukan kehalalannya untuk dikonsumsi warga muslim. Namun kegiatan pengawasan kehalalan produk-produk oleh mahasiswa dinilai masih minim dan sangat kurang sekali, sehingga perlu ditingkatkan lagi. Padahal ribuan industri makanan, restoran, dan warung makan yang bertebaran di Banten khususnya dan Indonesia pada umumnya hanya beberapa yang memiliki sertifikat halal dan bahkan ada yang sudah kadaluarsa. Demikiana juga dengan hotel, tidak banyak yang dapurnya sudah bersertifikat halal. Kondisi tersebut menjadi tugas bagi mahasiswa untuk berperan aktif dan mendorong penyelenggaraan jaminan produk halal di industri makanan, restoran, warung makan, dan hotel dengan memberikan penyadaran dan pressure tentang pentingnya produk bersertifikat halal.

Menyongsong implementasi Undang-undang No. 33 Tahun 2014, Mahasiswa agar dapat berkontribusi lebih luas, agar pelaksanaannya betul-betul memberikan jaminan tentang kehalalan produk yang sangat penting bagi umat muslim agar tidak melanggar kaidah Islam. Yang tak kalah penting dari implementasi undang-undang No. 33 Tahun 2014 adalah bahwa produk bersertifikat halal ini gunanya memberikan rasa aman bagi para konsumen, meningkatkan kualitas dan daya saing pelaku usaha. Juga, sebagai jaminan untuk mereka kalau produk yang mereka konsumsi tersebut aman dari unsur yang tidak halal dan diproduksi dengan cara halal dan beretika.

Terlebih lagi halal itu tidak sekedar makanan, tentu juga lifestyle. Saat ini Halal lifestyle sudah menjadi trend bahkan di negara-negara yang tidak tergolong negara muslim. “Bukan berarti yang halal itu hanya khusus orang muslim. Produk halal itu untuk semua.

 

Priyono, Ketua Rumah Kreatif Halal

Mahasiswa Prodi Farmasi

Fakultas Sains, Farmasi, dan Kesehatan

Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Read 124 times
Rate this item
(6 votes)
000508266
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan Ini
Bulan Lalu
Seluruhnya
63
529
3218
8467
22023
508266
IP Anda: 54.92.148.165
21-07-2019 00:54

Flag Counter

Kontak :

Ruang Dekanat Fakultas Teknologi Pertanian
Gedung G ,  Universitas Mathla’ul Anwar Banten Jalan Raya Labuan Km 23 Saketi Pandeglang Banten.
KONTAK KAMI: